Ego, Takabur & Instropeksi Diri

Opini

 

Bacaan Lainnya

Ego, takabur & instropeksi diri

 

Oleh: Hengki (Pengamat Sosial Budaya, Pengusaha. Tinggal di Bandar Lampung)

 

Orang yang merugikan dirinya sendiri karena kegoblokannya, tapi kemudian menyalahkan orang lain, menyalahkan teman, apalagi sampai menyalahkan Tuhan, itulah definisi goblok stupidity.

Supaya tidak goblok bukan belajar, karena kalau orang tidak tahu ya belajar, tapi kalau orang goblok stupidity kuncinya bukan belajar, kuncinya adalah intropeksi diri.

Kita enggak akan jadi lebih baik kalau kita enggak instropeksi diri, dan kita akan gagal introspeksi diri, Kalau fokus kita selalu kesalahan orang lain. Kesadaran diri akan kesalahan diri itu rendah . Dan biasanya yg tinggi itu penilaian kita terhadap kesalahan orang lain. Orang akan gagal mengintropeksi dirinya karena selalu sibuk menilai orang lain dan menuntut orang lain yg berubah

Hidupmu dimulai dari apa yg berulang kali kamu pikirkan di dalam kepalamu, pikiranmu adalah takdirmu. Setiap hari, pikiranmu mengirimkan perintah kepada otak. Otak kemudian mencari bukti untuk membenarkan apa yg terlanjur kamu yakini atau karena ikut2an menyakini.

Ketika kamu terus berpikir bahwa kamu lemah, gagal, tidak beruntung, dan tidak mampu, otakmu akan bekerja tanpa sadar untuk membuktikan bahwa semua itu benar. Akhirnya, ketakutanmu menjadi kenyataan.

Inilah psikologi yg jarang disadari banyak orang: manusia tidak hidup sesuai kenyataan, tetapi hidup sesuai persepsinya tentang kenyataan.

Tindakan yang diulang setiap hari akan membentuk takdir; Jika setiap malam kamu mengisi pikiran dengan keraguan, maka esok hari kamu akan berjalan dengan ragu. Jika setiap pagi kamu mengisi pikiran dengan keyakinan, maka tubuhmu akan bergerak dengan keberanian yang berbeda.

Jangan remehkan imajinasi. Setiap pencapaian besar pernah hidup sebagai gambaran di dalam pikiran seseorang sebelum menjadi kenyataan di dunia nyata.

 

Hati-hati…

Apa yang kamu takutkan secara berlebihan juga bisa mendekat. Bukan karena alam semesta sedang menghukummu, tetapi karena fokusmu tertuju ke sana. Energi, perhatian, & tindakanmu diam-diam mengarah pada hal yang terus kamu pikirkan.

Karena itu, jaga pikiranmu seperti menjaga masa depanmu & hari tuamu, kalau kamu diberi Umur panjang sama Allah.

Berhentilha memberi makan rasa takut. Berhenti mengulang cerita kegagalan & berhentilah menjadi penjara bagi dirimu sendiri.

 

Mulailah membayangkan dirimu lebih kuat & lebih berani.

Sebab pada akhirnya, hidup adalah cerminan dari apa yang paling sering kamu tanam di dalam pikiran. Jadi, berhentilah membangun neraka di kepalamu, lalu berharap menemukan surga dalam hidupmu.

Penyebab utama tabakur bersumber pada khayalan seseorang akan adanya kesempurnaan dalam dirinya. Ilusi ini mengakibatkan ujub yang berpadu dengan cinta diri, membuat kelebihan orang lain tidak tampak dimatanya.

Apabila ini terjadi, orang itu akan merasa tinggi dihadapan orang lain, baik dalam hati maupun dalam perilaku lahiriah. Misalnya, hal ini dapat ditemui pada diri seseorang yg merasa ahli agama yang menganggap dirinya sebagai ahli makrifat & penyaksian, yang memandang dirinya sebagai ahli hati & memiliki latar belakang yang baik.

Orang seperti ini selalu berusaha mempertunjukan superioritasnya atas orang lain, memandang rendah orang lain sebagai orang yg dangkal, & memandang orang awam lebih menyerupai binatang. Orang seperti ini juga sering secara panjang lebar berbicara tentang kematian, fana’ fillah, baqa’ billah & mengetuk gerbang realisasi spritual, padahal ajaran2 Ilahi menuntut kita untuk bersangka baik dengan semua makhluk. Kalau ia benar2 sedikit saja mencicipi manisnya makrifat tentang Allah, tentu ia tidak akan memandang hina manifestasi keagungan & keindahan ciptaan Allah. Akan tetapi, pengeratahuan & penjelasan verbalnya menunjukan bahwa ia bukan dari golongan itu. Dan memang, pada hakikatnya, ajaran itu belum masuk kehatinya, bahkan yg simalang ini belum lagi masuk dalam tingkatan keimanan pada semua itu, apalagi pada tingkatan2 yang lain meneenainya.

Sikap angkuh juga terlihat dikalangan ilmuwan pada umumnya, seperti seorang dokter, matematikawan, insiyur, profesor, dll. Mereka suka meremehkan ilmu2 yg lain, betapapun pentingnya ilmu itu, & memandang rendah2 ahli2 atau orang yg berpengalaman yg mengusai ilmu2 tersebut. Dalam hati, mereka menghina orang & mengejawantahkannya dalam perilaku mereka, padahal ilmu mereka tidak menuntut sikap seperti itu.

Sebagian lain orang yg bukan ahli ilmu apa pun, juga cenderung bersikap angkuh terhadap orang lain. Mereka lupa atau memang dibuat lupa sama Tuhan, jika ibadah mereka itu benar2 ahli ibadah & ritual2 keagamaan yg mereka rayakan atau mereka ikuti, benar ahli ibadah yg ikhlas bukan hanya pencitaraan atau mengharapkan pujian, tentulah ibadah & ritual2 ibadah yg mereka lakukan selama ini menperbaiki akhlak mereka dan menghilangkan ego mereka yg terlalu selama ini.

Jangan takut terlihat “paling bodoh” diruangan yg tepat. Takutlah jika terlalu lama berada ditempat yg tidak lagi memberimu ruang untuk bertumbuh. Orang yg terus mau belajar sampai hari ini, akan menjadi berbeda dengan orang2 yg selalu merasa paling pintar sendiri, & merasa paling tinggi sendiri pendidikannya secara formal, tapi tidak cerdas atau tidak calak kalau dalam bahasa palembangnya.

Berada disekitar orang yang lebih berpengalaman, lebih cerdas, & lebih bijaksana memang membuat ego terasa kecil.

Perubahan nasib seseorang datang dari tidak nyaman, & ketika dia sadar masih banyak yang belum diketahuinya

Banyak orang ingin berubah nasibnya & berkembang, tapi tanpa sadar selalu memilih lingkungan yang membuat dirinya terasa paling hebat.

 

Apakah boleh aku memaksa manusia? Jawannya adalah jelas sangat tidak boleh. 

Apakah boleh aku “memaksa” kepada Allah dengan kebutuhan? Jawabannya boleh. Allah menyukai orang2 yg ” memaksa-Nya” atas kebutuhan mereka, meminta hajat dari-Nya. Namun jika kau mendesak manusia, mungkin ia tidak ingin diganggu olehmu. Apalagi orang2 yg sering memintak2 sumbangan atas nama kemasan yg dibungkus dengan agama, setiap hari wibawamu semakin terkikis. Terkadang seseorang tidak ingin memberimu kemuliaan , mengapa setiap hari, setiap minggu & setiap bulan, berteriak,berkeliling, meminta dan pergi ke orang. Mengapa kau tidak menerima….pada keputusan Allah ?

Bagian dari kebaikan tawakal kepada Allah adalah dengan menerima keputusan-Nya.

Allah Swt berfirman; Barangsiapa yg bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupinya. (Al-Quran Al-Thalaq; 3).

Tawakal secara harfiah berarti sikap menunjukan ketakmampuan & menyandarkan diri terhadap pihak lain. Tawakal kepada Allah berbeda dengan berserah diri kepada-Nya. Beberapa kaum arif berkata; Tawakal kepada Allah berarti pemutus segala yg diharapkan seorang hamba dari mahkluk2 lain, & mengikatkannya hanya kepada Allah.

 

Tawakal ada beberapa tingkatan;

1. Tawakal pada tingkatan pernyataan verbal. Pengetahuan manusia tentang Zat Allah sangat beragama, sebagian besar kaum monoteis memandang Allah Yang Mahakuasa sebagai pencipta asal usul segala sesuatu. Namun, mereka memandang pengaturan Allah terbatas, sehingga tidak meliputi segala sesuatu. Mereka kadang mempertanyakan “apakah benar Allah adalah penentu segala sesuatu? Kelompok manusia ini, tampaknya kita juga mungkin termasuk dalam kelompok ini. Tauhid mereka tak sempurna & pandangan mereka tertutup hijab sehingga tidak dapat melihat kekuasaan-Nya karena sebab2 yg jelas. Dengan demikian mereka tidak bisa disebut menempati maqam tawakal, kecuali cuma pada tingkat klaim dimulut belaka. Jika sesekali mereka mengarahkan perhatiannya kepada Allah & memohon sesuatu kepada-Nya atau melakukan ritual doa dan ritual ibadah bersama2, itu adalah karena ikut2an. Atau boleh jadi mereka melihat kemungkinan memperoleh keuntungan dibalik sikap tawakal mereka yg sesaat itu, sehingga dlm keadaan ini mereka terpanggil untuk sedikit bertawakal. Namun, ketika mereka memandang faktor2 & sebab2 lahiriah sesuatu dengan ego mereka, saat itu juga mereka mereka melupakan Allah secara total. Mereka yg tidak memiliki sedikitpun rasa tawakal, meskipun pada tingkatan yg terendah dalam hal urusan2 duniawi, tidak jarang mereka membicarakan urusan ukhrawi dengan penuh kebanggaan & keangkuhan. Sekali2 mereka berkata, ” Tuhan Mahaagung”, & dilain kali mereka apalagi saat sedang ada masalah, atau sedang mencari sumbangan atas nama agama, mereka menunjukan sikap penyerahan diri kepada Allah & menyebut syafaat dari para pemberi syafaat, padahal semua itu hanyalah sekedar ucapan2 kosong & permainan lidah tanpa makna.

2. Tawakal tingkat rasional; kelompok kedua ini adalah mereka yg setelah diyakinkan oleh akal & wahyu, mereka membenarkan pandangan bahwa Allah adalah satu2nya Penentu setiap perkara, seban dari seluruh sebab, & tak ada batasan bagi pengaruh & kekuasaan-Nya. Mereka bertawakal pada tingkat rasional; yg bersandarkan argumentasi rasional. Mereka memiliki landasan2 yg kukuh tentang keharusan bertawakal kepada kaum awam, mereka juga memandang dirinya sebagai orang2 yg bertawakal, seraya menberikan bukti2 rasional keharusan bertawakal, karena mereka menetapkan faktor2 rasional penyebab wajinnya tawakal, yaitu; Bahwa Allah Maha Mengetahui kebutuhan hamba2 ciptaan-Nya, Allah Mahakuasa untuk memenuhi semua kebutuhan itu, Allah tidak bersifat kikir, & Allah Maha Penyayang & Maha Pengasih terhadap seluruh hamba-Nya.

Kelompok ini meskipun secara teori & praktek dianggap bertawakal, ia blm mencapai tingkatan keimanan yg sebenarnya. Karena, mereka masih sering bimbang dlm memutuskan masalah2 kehidupan mereka sendiri. Akal mereka selalu tak berdaya dlm menghadapi pertarungan dgn gejolak hati mereka sendiri, karena masih bergantung pada sebab2 materil serta mereka terhalang untuk dapat menyakini kenyataan bahwa Allah , adalah satu2nya yang mengatur segalanya.

Selain dua kelompok diatas, ada juga kelompok ketiga. Kelompok ini telah mencapai berkat keyakinan hati mereka, pengenalan akan pengaturan Allah terhadap seluruh alam, & mereka memiliki keyakinan yg teguh walaupun sendiri. Pena akal mereka telah menuliskan seluruh prinsip tawakal pada lembar2 halaman hati mereka.

Allah Swt berfirman; Dapatkah kamu benar2 bersaksi bahwa ada tuhan2 lain bersama Allah? ” Aku tidak dapat bersaksi.”….. Dan aku berlepas diri dari apa yg kamu persekutukan ( dengan Allah). (Al-Quran An’am ayat 19).

Apabila terkadang Allah menyiksa seorang zalim, dapat dikatakan bahwa itu terjadi karena karena kasih sayang Allah atas penindaa itu, karena hal itu menghentikannya untuk terus berbuat dosa. Dan, apabila Allah membiarkan para pendosa & pelaku kezaliman dalam kelalaian & kesesatan mereka, itu berarti Allah mengulur siksa mereka.

Allah Swt berfirma; Nanti Kami akan menarik mereka setahap demi tahap dari arah yg mereka tidak ketahui, & Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.(Al-Quran Al-A’raf ; 182-183).

Allah juga berfirman; Janganlah sekali2 orang2 zalim/kafir itu menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah baik bagi mereka, Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah2 dosa mereka, & bagi mereka azab yg menghinakan.(Al-Quran Ali-Imran ; 178).

Salam sehat selalu untuk semunaya.

 

Pos terkait