Iman Sejati Membebaskan Pikiran, bukan Membungkam Kritikan 

Opini

 

Bacaan Lainnya

Iman Sejati Membebaskan Pikiran, bukan Membungkam Kritikan 

 

 

Oleh : Hengki (Pengusaha dan Pengamat Sosial Budaya yang tinggal di Lampung)

 

Jadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk membangun, bukan untuk meninggikan diri.

Jika ilmu berjalan seiring dengan kerendahan hati, hidup akan menjadi sumber harapan, inspirasi, dan kebaikan bagi banyak orang.
.
Ini bukan sedang menghina makhluk ciptaan-Nya.

Ini sedang menunjuk sebuah sistem yang membuat manusia begitu menderita, sampai satu-satunya pelarian yang tersisa hanya janji akhirat. Candu meredakan sakit tanpa menyembuhkan penyakitnya. Begitu juga agama, ketika dipakai untuk ego pribadi dan kepentingan tuhan-tuhan yang masih memakan nasi. Hidup yang tak adil, semuanya bisa diredakan dengan satu kalimat, sabar saja, nanti dibalas surga.

Jamaah-jamah pengajian dan masyarakat yang baru ikut pengajian, diajarkan menerima nasib, sementara elite & tuhan-tuhan yang makan nasi mengajarkan para pengikutnya untuk menuhankan dirinya sambil mengumpulkan kekayaaan.

Orang yang mengkritik disebut kurang iman atau dituduh tidak berakhlak, sedangkan orang yang pasrah disebut saleh. Akhirnya ketimpangan pun terus berlangsung tanpa perlawanan.

Saya tidak pernah menyuruh orang membenci manusia lainnya. Saya hanya menyuruh manusia dan terkhususnya saudara-saydara saya untuk berpikir dan curiga, pada siapa yang mengendalikan tafsir agama itu.

Sebab candu paling berbahaya yang membuat manusia masih bisa tertawa-tawa tanpa sadar terus dijadikan budak, dan mengira itu ibadah.

Pertanyaannya bukan apakah agama itu candu. Pertanyaannya, siapa yang menyuntikkan candu kefanatikan buta, dab untuk kepentingan siapa kamu disuruh sabar.

Iman sejati mestinya membebaskan pikiran, bukan mengajarkan membungkam kritikan.

Salam sehat dan salam bahagia selalu untuk semuanya dimanapun berada. (*)

Pos terkait