Opini
Ketika Tuhan Pilih Kamu: Membaca Ulang Status Nabi dan Rasul ala Cak Nun
Oleh: Rusmin
Pernah terpikir, mengapa dari miliaran manusia yang pernah hidup di bumi, hanya segelintir orang yang terpilih menjadi nabi dan rasul? Mengapa mereka yang dipilih? Apakah mereka semacam manusia super yang turun dari langit dengan kekuatan luar biasa?
Jawabannya tidak. Mereka adalah manusia biasa, sama seperti kita. Mereka makan, minum, merasakan lelah, sedih, dan bahagia. Namun ada satu hal yang membedakan mereka: mereka merupakan manusia pilihan yang memiliki kualitas spiritual luar biasa.
Jika dipandang dengan sudut pandang yang lebih segar dan optimistis, kisah para nabi dan rasul sebenarnya adalah cetak biru tentang bagaimana manusia dapat mencapai potensi terbaik dalam dirinya.
Nabi Itu Pangkat, Rasul Itu Jabatan
Untuk memahami konsep ini, kita bisa meminjam analogi yang pernah disampaikan budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.
Dalam salah satu refleksinya, Cak Nun Selain penulis, ia juga dikenal sebagai seniman, budayawan, ulama, penyair, cendekiawan, ilmuwan, sastrawan, filsuf, aktivis-pekerja sosial, pemikir, dan kyai. menyatakan, “Nabi itu pangkat, sedangkan Rasul itu jabatan.”
Apa maksudnya?
Nabi adalah pangkat. Pangkat merupakan status spiritual yang diberikan langsung oleh Tuhan. Ini berkaitan dengan kualitas pribadi, integritas, kematangan jiwa, dan kedekatan seseorang dengan Tuhan. Seorang nabi menerima wahyu untuk dirinya sendiri dan memiliki tingkat kesadaran spiritual yang sangat tinggi.
Rasul adalah jabatan. Rasul memiliki tugas tambahan, yakni menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Dengan kata lain, setiap rasul pasti seorang nabi, tetapi tidak setiap nabi memiliki tugas sebagai rasul.
Analogi ini membantu menjelaskan bahwa pemilihan Tuhan bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak. Ada kualitas batin, kapasitas moral, dan kesiapan spiritual yang menjadi dasar sebelum seseorang memikul tugas besar sebagai pembawa risalah.
Menolak Pasrah, Menumbuhkan Optimisme
Sering kali kisah para nabi dan rasul dipahami dengan cara yang membuat manusia biasa merasa kecil.
Kita kerap berpikir, “Mereka memang luar biasa karena dipilih Tuhan. Sedangkan kita hanyalah manusia biasa.”
Padahal, sudut pandang seperti itu justru membuat kita kehilangan pesan utama dari kisah mereka.
Para nabi dan rasul hadir bukan untuk membuat manusia minder, melainkan untuk menjadi teladan. Mereka menunjukkan bahwa kualitas-kualitas mulia dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai Al-Amin atau orang yang terpercaya, beliau menunjukkan bahwa kejujuran dapat membangun reputasi yang kuat. Ketika Nabi Musa menunjukkan ketegasan dalam menghadapi kezaliman, atau Nabi Isa menampilkan kasih sayang dan empati yang mendalam, mereka sedang memberikan contoh tentang potensi terbaik yang dimiliki manusia.
Memang, tidak ada lagi nabi dan rasul setelah mereka. Status tersebut merupakan ketetapan sejarah dan kehendak Tuhan.
Namun nilai-nilai yang mereka bawa—kejujuran, ketulusan, keberanian, kebersihan hati, dan komitmen pada kebenaran—tetap terbuka untuk diteladani oleh siapa pun.
Nilai-Nilai yang Semakin Mahal di Era Modern
Membaca kisah para nabi dan rasul secara lebih orisinal berarti melihat mereka sebagai pembebas dan pembaru sosial, bukan sekadar tokoh dalam buku sejarah.
Mereka adalah sosok yang berani menentang ketidakadilan, melawan kemapanan yang rusak, dan mengembalikan manusia kepada nilai-nilai kebenaran.
Tuhan memilih mereka karena setiap zaman membutuhkan kompas moral ketika manusia mulai kehilangan arah.
Hari ini, ketika masyarakat menghadapi persoalan seperti hoaks, korupsi, ketimpangan sosial, dan krisis kesehatan mental, nilai-nilai yang diwariskan para nabi justru semakin relevan dan semakin berharga.
Karena itu, kisah nabi dan rasul tidak semestinya dipandang sebagai dongeng pengantar tidur. Kisah mereka adalah standar tertinggi tentang bagaimana menjadi manusia yang bermartabat.
Mereka membuktikan bahwa manusia memiliki potensi untuk mencapai kemuliaan yang luar biasa. Dan jika mereka mampu menginspirasi dunia dengan segala keterbatasan sebagai manusia, maka setidaknya kita juga bisa berusaha menjadi “manusia pilihan” di lingkungan terkecil kita sendiri: menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
*) Jurnalis Bongkar Post







