Opini
“Iya-in Aja yang Penting Cuan”: Ketika Kepentingan Mengalahkan Akal Sehat
*Perspektif | Oleh: Rusmin (Jurnalis Bongkar Post)
“Iya-in aja yang penting cuan.”
Kalimat ini sering lewat begitu saja di media sosial. Terdengar lucu. Terasa ringan. Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, ia menggambarkan gejala yang sedang mengakar dalam kehidupan politik kita.
Bukan lagi soal siapa yang benar. Bukan pula siapa yang salah.
Yang menjadi ukuran hanyalah satu: siapa yang diuntungkan.
Ketika keuntungan menjadi kompas, kebenaran perlahan kehilangan arah.
Dalam dunia politik, gejala ini tidak sulit ditemukan. Ada orang yang tetap membela sebuah kebijakan meski jelas menyisakan banyak persoalan. Ada pula yang menyerang habis-habisan kebijakan yang sama hanya karena datang dari kubu lawan. Sikap berubah bukan karena fakta berubah, melainkan karena posisi politik ikut bergeser.
Hari ini dipuji. Besok dicela. Lusa dipuji lagi.
Prinsip akhirnya menjadi barang mewah.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai motivated reasoning. Sederhananya, manusia cenderung menerima informasi yang menguntungkan kepentingannya dan menolak informasi yang mengancamnya.
Fakta akhirnya tidak lagi dinilai berdasarkan bukti, melainkan berdasarkan manfaat.
Jika sebuah data mengganggu kenyamanan, data itu dianggap salah. Jika kritik berpotensi mengganggu jabatan, proyek, atau akses kekuasaan, kritik itu dicap sebagai fitnah, hoaks, atau pesanan politik.
Yang dipertahankan bukan lagi kebenaran, melainkan kepentingan.
Di sinilah ungkapan “iya-in aja yang penting cuan” menemukan makna yang sesungguhnya.
“Cuan” tidak selalu berarti uang tunai. Ia bisa berbentuk jabatan, proyek, kedekatan dengan penguasa, perlindungan politik, peluang bisnis, atau sekadar menjaga akses ke lingkaran kekuasaan.
Selama keuntungan itu masih ada, banyak orang rela menggadaikan penilaian objektifnya.
Bahkan, tidak sedikit yang sebenarnya mengetahui ada sesuatu yang keliru. Mereka membaca data yang sama. Mendengar kritik yang sama. Melihat persoalan yang sama.
Namun mereka memilih diam.
Atau lebih jauh lagi, ikut membenarkan sesuatu yang mereka sendiri ragukan.
Mengapa?
Karena mengakui kebenaran terkadang lebih mahal daripada mempertahankan kebohongan.
Dalam kondisi seperti itu, akal sehat perlahan kalah oleh kalkulasi untung-rugi.
Fenomena ini kemudian diperkuat oleh confirmation bias. Orang hanya mencari informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Testimoni yang mendukung langsung dipercaya. Sebaliknya, data yang bertentangan dianggap memiliki agenda tersembunyi.
Ruang publik akhirnya dipenuhi gema dari kelompoknya sendiri. Kritik tidak lagi dipandang sebagai koreksi, melainkan ancaman.
Akibatnya, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: perdebatan yang jujur berdasarkan fakta.
Politik memang tidak pernah lepas dari kepentingan. Itu kenyataan.
Namun persoalan muncul ketika kepentingan menjadi alasan untuk mengabaikan kebenaran. Ketika loyalitas lebih dihargai daripada integritas. Ketika tepuk tangan lebih menguntungkan daripada kritik.
Dalam situasi seperti itu, kebohongan tidak lagi membutuhkan pembela yang benar-benar percaya. Ia cukup ditopang oleh orang-orang yang memilih berkata, “iya-in aja yang penting cuan.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar seperti guyonan.
Padahal, di baliknya tersimpan cara berpikir yang perlahan menggerogoti nalar publik.
Demokrasi tidak runtuh hanya karena lahirnya kebohongan.
Demokrasi runtuh ketika terlalu banyak orang mengetahui kebohongan itu, tetapi tetap memilih membenarkannya karena merasa masih ada yang bisa didapat.
Saat itulah yang hilang bukan sekadar kejujuran.
Yang ikut hilang adalah keberanian untuk mengatakan bahwa yang salah tetap salah, meski tidak menguntungkan. (*)
*Tulisan ini merupakan perspektif penulis. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi Bongkar Post.







