Opini
Dari Menyatu dengan Alam Menuju Arus Zaman Cerita Desa Tambangan Kelekar
Oleh: Martodo
Bongkar Post, Muara Enim – Setiap desa memiliki cerita, dan Desa Tambangan Kelekar menyuguhkan kisah tentang perubahan yang merambat pelan namun pasti.
Di tepian Sungai Kelekar, kehidupan masyarakat pernah tumbuh subur berkat keselarasan dengan alam sebuah kenyataan yang kini perlahan bertransformasi seiring kemajuan zaman.
Sungai, kebun, dan lahan pertanian pernah menjadi tiga pilar utama yang menopang kesejahteraan warga secara turun-temurun.
Kira-kira 28 tahun silam, rona kehidupan di Desa Tambangan Kelekar sungguh berbeda dengan kondisi masa kini.
Saat cahaya matahari mulai menyapa bumi, warga sudah beranjak menjalani aktivitas.
Para petani berjalan menuju kebun karet, menyadap pohon yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan keluarga.
Sebagian lainnya mengolah lahan untuk menanam padi merah yang dikenal sebagai beras Talang, varietas lokal yang menjadi kebanggaan sekaligus identitas pertanian desa ini.
Di saat yang sama, Sungai Kelekar menjadi urat nadi kehidupan yang tak tergantikan. Airnya yang jernih melimpah dengan beragam jenis ikan air tawar.
Hampir setiap rumah tangga memiliki peralatan tangkap sederhana pancing, jala, bubu, hingga sengkaraman perahu yang ditenggelamkan dengan bekal potongan tumbuhan hutan atau sabut kelapa sebagai perangkap alami.
Ketika kebutuhan lauk untuk makan siang tiba, warga tak perlu jauh-jauh ke pasar. Cukup turun ke sungai, dalam sekejap ikan segar sudah tersedia di meja makan.
Masa itu, kehidupan berjalan sederhana namun penuh rasa syukur. Ikatan antartetangga terjalin begitu erat.
Budaya gotong royong bukan sekadar kegiatan sesekali, melainkan napas sehari-hari.
Saat musim tanam tiba, warga bahu-membahu mengolah lahan; tatkala masa panen datang, sukacita dirasakan bersama.
Tak ada sekat yang memisahkan si kaya dan si miskin; kebersamaan adalah kekuatan yang menyatukan langkah membangun desa.
Anak-anak tumbuh memeluk alam. Mereka bermain di tepian sungai, belajar berenang, mengenal ikan, memanjat pohon, dan memahami lingkungan sejak dini.
Alam bukan sekadar ladang mencari nafkah, melainkan ruang pendidikan yang membentuk karakter, kemandirian, serta rasa tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya.
Namun roda waktu senantiasa berputar. Kemajuan teknologi, pergeseran pola ekonomi, serta kebutuhan hidup yang kian beragam perlahan mengubah wajah desa.
Jalan yang kian memudahkan akses membuka peluang bertukar barang dan gagasan dengan daerah luar. Perlahan, cara hidup masyarakat pun ikut bertransformasi.
Lahan persawahan yang dulu membentang luas kini mulai menyusut.
Tradisi menanam padi merah kian jarang dijumpai.
Generasi muda lebih banyak memilih jalan hidup di luar sektor pertanian ada yang merantau ke kota, bekerja di perusahaan modern, atau menekuni profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Perubahan juga terasa nyata di Sungai Kelekar. Jika dulu sungai menyuguhkan hasil tangkapan yang melimpah, kini populasi ikan tak lagi setinggi masa lalu.
Berbagai faktor mulai dari perubahan ekosistem hingga aktivitas manusia diduga ikut berperan dalam hal ini.
Kini, warga lebih sering membeli ikan di pasar ketimbang mencarinya sendiri di aliran sungai yang dulu menjadi sumber rezeki andalan.
Perubahan ini bukan sekadar pergeseran mata pencaharian, melainkan perubahan cara pandang dan cara hidup. Hubungan manusia dengan alam perlahan menjauh.
Ketergantungan pada sumber daya lokal bergeser menjadi ketergantungan pada pasar luar.
Nilai-nilai gotong royong yang dulu tumbuh subur dari kerja sama di ladang dan sungai pun perlahan memudar, tergerus kesibukan masing-masing individu.
Kemajuan zaman membawa banyak hal baik: akses pendidikan yang lebih merata, teknologi yang mempermudah pekerjaan, arus informasi yang terbuka lebar, serta peluang ekonomi yang beragam.
Namun di balik semua pencapaian itu, ada nilai-nilai luhur yang terancam terlupakan jika tidak dijaga dengan sepenuh hati.
Sejarah Desa Tambangan Kelekar mengajarkan kita: kemajuan tak seharusnya memutus akar.
Alam yang memberi kehidupan perlu dijaga, sungai perlu dilestarikan, lahan pertanian perlu dipertahankan, dan budaya luhur warisan leluhur harus terus diwariskan kepada anak cucu.
Perubahan adalah keniscayaan dalam perjalanan peradaban. Namun masyarakat yang besar adalah mereka yang mampu melangkah maju tanpa kehilangan jejak sejarahnya.
Desa Tambangan Kelekar menyimpan kekayaan tak ternilai bukan hanya sumber daya alam, melainkan kearifan hidup yang mengajarkan keselarasan dengan alam dan kebersamaan sesama manusia.
Sudah saatnya kisah ini dicatat dan diwariskan, sebagai pengingat bahwa pernah ada masa ketika masyarakat hidup selaras dengan alam, saling memberi tanpa pamrih, dan mencukupi kebutuhan dari tanah yang mereka rawat serta sungai yang mereka jaga.
Sebab sejatinya, kemajuan tak diukur semata dari bangunan yang megah atau teknologi yang canggih.
Kemajuan sejati juga diukur dari kemampuan sebuah komunitas menjaga identitas, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi fondasi kokoh peradaban mereka. (*)







