Menjadi Manusia Merdeka atau Selamanya Menjadi Budak

Opini

 

Bacaan Lainnya

 

Menjadi Manusia Merdeka atau Selamanya Menjadi Budak

 

Oleh: Hengky (Pengusaha dan Pengamat Sosial Budaya di Bandar Lampung)

 

Perubahan terbesar dalam hidup seseorang sering kali tidak dimulai dari perubahan keadaan, melainkan dari perubahan cara berpikirnya.

Setiap pembela Alhusain yg benar2 diridhoi Allah Swt, inshaAllah memiliki Bashiroh. Mereka tak hanya melihat kehidupan dengan mata, tapi mereka memandang dengan hati nurani yg bersih. Mereka tidak takut walaupun sendiri , atau bahkan dikucilkan seperti para pembela Imam Ali as & Bunda Zahra as, yg dikucilkan, dkmusuhi, bahkan di rampas haknya oleh2 orang yg mengklaim dimulut umat Ayahnya.

Abbas memiliki Bashiroh yg lebih dalam dari selainnya. Terbukti di hari ke-9 Muharram, Syimr mendatanginya untuk menawarkan jaminan keamanan karena masih ada hubungan kekerabatan, Abbas spontan menolaknya dengan berkata, “Apakah aku akan meninggalkan Alhusain? Terlaknat engkau & terlaknat lah jaminan keamananmu & zona nyaman yg kau tawarkan!”

Ketika seseorang mengubah pola pikirnya dari mental korban menjadi mental pembelajar, dari takut menjadi berani mencoba, maka cara ia berpikir & bertindak juga berubah. Cara berpikir menentukan cara bertindak, & cara bertindak menentukan arah kehidupan.

Tukang pandai besi pada satu waktu di zaman tengah Eropa atau seorang pandai besi di zaman kerajaan Majapahit atau Sriwijaya, ialah sama2 orang merdeka, seorang yg dihargai dalam masyarakat. Walaupun dalam jaman masyarakat Majaphit kaum pandai itu cuma masuk kasta waisya.

Pandai besi zaman Majapahit atau zaman sriwijaya, dapat membuat keris atau senjata yg kuat artinya sama dengan pendapat insinyur atau profesor2 jaman skrng, pembentuk kapal zaman sekarang & pesawat tempur yg canggih zaman sekarang. Keris atau senjata adalah yg luhur zaman Sriwijaya & Majapahit, seperti kapal terbang & kapal selam zaman sekarang. Kalah menangnya perang pada masa itu selain dari semangat & moral kebatinan, tergantung pada kuat & hebatnya keris seperti sekarang terutama pada kuat & hebatnya kapal udara & kapal selam itu.

Tukang pandai besi zaman dahulu itu, ialah seorang yg berinisiatif sendiri, merdeka sendiri, dalam hal bentuk membentuk senjata. Bukan orang2 yg selalu bermain di zona nyaman, & rela dirinya menjadi budak dengan hanya mengharapkan pujian2 semu. Begitu pula di Eropa zaman itu, rahasia melebur besi menjadi pedang, kepandaiannya membentuk senjata yg tangkas, tersimpan rapi dalam otaknya si tukang pandai besi, & selalu di asahnya berulang, & ia merdeka merubah segala2nya bentuk senjata..

Tetapi sekarang, si buruh atau tukang di dalam pabrik atau mungkin juga di zaman sekarang para si pengikut tuhan2 bertulang, mereka tak mempunyai kemerdekaan semacam itu. Siburuh cuma buat mengawasi mesinnya saja. Mesinnya tak boleh berputar terlampau lama atau terlalu lama. Lebih2 dia mesti jaga supaya tangan, kaki atau lehernya sendiri jangan sampai terputar oleh mesin itu. Merdeka pada zaman dahulu berganti menjadi budak zaman sekarang.

Bangsa Indonesai atau masih banyak orang yg memandang bahwa apa yg terjadi di dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan keramat di alam gaib. Cara pandang ini, disebut sebagai “logika mistika”. Logika ini melumpuhkan karena ketimbang menangani sendiri permasalahan yg di hadapi, atau belajar dari sebab permasalahan kenapa bisa terjadi. Karean itu, masyarakat Indonesia cukup dengan mengadakan mantra, sesajen, & doa2.

Kita hidup di dunia yg begitu bising. Semua orang ingin berbicara, ingin membandingkan langkahnya, & tanpa sadar kita mulai menyesuaikan diri agar “tidak diterima.” Sedikit demi sedikit, kamu mengubah cara berpikir, cara bersikap, bahkan cara bermimpi — bukan karena itu dirimu, tapi karena kamu ingin diterima. Sampai akhirnya kamu berhenti bertanya: apa ini masih aku?

Lingkungan bisa jadi tempat tumbuh, tapi juga bisa jadi jebakan yang halus. Kalau kamu tidak punya arah, kamu akan terbawa arus orang lain. Dan pelan-pelan, kamu akan kehilangan jati diri. Ingat: dunia selalu berusaha membentukmu sesuai keinginannya. Tugasmu adalah tetap jadi dirimu, bahkan saat semua orang mencoba mengubahmu.

 

1. Tidak semua Orang layak kamu dengarkan

Setiap orang punya opini, tapi karena terlalu banyak suara luar yg kamu dengarkan. Dunia suka memberi tahu kamu “harus jadi apa,” tanpa tahu apa yg benar2 kamu mau.

Kamu perlu belajar menyaring suara, tapi melindungi fokusmu. Dengarkan masukan dari mereka yg sudah mencapai arah yg akan kamu tuju, bukan dari yg bahkan tidak tahu mau ke mana arahnya sendiri.

 

2. Lingkungan yang salah bisa membunuh potensi yang benar

Kamu bisa punya niat baik, tapi kalau kamu terlalu sering2 bersama orang yang selalu menertawakan mimpi, lama2 kamu ikut menertawakan dirimu sendiri. Energi negatif itu menular.

Kalau lingkunganmu tidak bisa membuatmu berkembang, beranilah bersuara jgn hanya diam atau berpindah. Tidak semua tempat pantas kamu tinggali. Kadang kamu harus meninggalkan lingkaran nyaman agar bisa menemukan versi dirimu yang lebih besar dari hari ini.

 

3. Jangan tukar jati diri demi diterima

Kamu tidak perlu menjadi seperti orang lain agar dianggap layak. Dunia sudah punya terlalu banyak salinan, tapi hanya satu versi dirimu yang asli. Tapi anehnya, banyak orang justru mengorbankan keunikan mereka hanya untuk diterima oleh orang yg bahkan tidak pernah menghargai orang, dia hanya mau menghargai orang yg bisa memberikannya keuntungan saja. Walaupun dia kadang terlihat menghargai orang2 lemah, tapi itu semua hanya topeng untuk menjadi si lemah akalnya agar menjadi budaknya.

Menjadi diri sendiri memang tidak selalu membuatmu disukai, tapi itu akan membuatmu arah tujuanmu. Dan tujuan jauh lebih berharga daripada validasi yg semu.

4. Kenali nilaimu sebelum dunia menawarnya murah

Kalau kamu tidak tahu nilai dirimu, dunia akan menetapkannya untukmu, & biasanya, dengan harga yg rendah. Orang yang tidak punya batas akan terus dimanfaatkan. Orang yg tidak tahu nilai dirinya akan terus diremehkan & selamanya akan menjadi budak yg dikemas atas nama kemanusiaan, atas nama agama & atas nama slogan2 palsu.

Kenali apa yg kamu perjuangkan, apa yg harus kamu tolak, & apa yang kamu izinkan. Batasan bukan tanda sombong, tapi bentuk penghormatan pada dirimu sendiri. Karena hanya orang yg menghargai dirinya yg bisa benar2 dihargai orang lain & akan menjadi manusia merdeka.

Banyak orang tampak maju,pintar & tampak relijius tapi kehilangan arah karena melupakan siapa dirinya dulu & melupakan apa tujuannya yg paling penting untuk kehidupannya di alam-alam selanjutnya.

Perubahan sejati bukan tentang menjadi orang lain, tapi menjadi versi terbaik dari dirimu yg asli. Jadilah seperti pohon: rantingmu boleh menjulang ke langit, tapi akarmu harus tetap menancap dalam pada nilai & prinsip yg kuat.

Dunia akan terus berisik — membandingkan, menekan, mengarahkan. Tapi kamu punya pilihan: ikut berubah demi diterima, atau tetap teguh dengan jati dirimu. Yang kuat bukan mereka yg paling pandai menyesuaikan diri, tapi yang bisa tetap jadi dirinya meski dikelilingi ribuan opini.

Ingat, kamu bukan hasil opini orang lain. Kamu adalah hasil dari keyakinanmu sendiri. Jadi, jangan biarkan lingkunganmu membuatmu lupa siapa dirimu karena begitu kamu kehilangan itu, kamu kehilangan segalanya.

Selama seseorang masih terkukung oleh ” logika mustika” itu, tak mungkin ia menjadi orang yg merdeka & maju. Seorang petarung, penjuang, & seorang nasionalis sejati yg berjuang untuk kepentingan orang banyak atau buat kemajuan bangsanya demi untuk anak2 & cucu2nya kelak, harus berani keluar dari keterbelakangan & ketertinggalan & jangan pernah takut merasa terasingkan atau takut ditinggalkan.

Salam sehat & salam waras untuk yg waras dimana pun berada.

Pos terkait