Manusia Memfitnah Tuhan dengan Sebutan ” Ujian” Padahal Ulah Sendiri

Opini

 

Bacaan Lainnya

 

Manusia memfitnah Tuhan dengan sebutan ” ujian” padahal semua masalah dimulai dari pilihan bodoh manusia itu sendiri

 

Oleh : Hengki (Pengusaha dan Pengamat Sosial Budaya di Lampung)

 

Dalam kesalahan yang bertopengkan kebenaran, kemanusiaan dikorbakan bak kelinci percobaan dibawah kaki berhala tak suci atau hanya dijadi alat ego oleh tuhan makan nasi, dan dari sinilah awal terjadilah “manusia menyembah manusia di dunia ini”.

Memberi minum ular dengan madu, tak akan merubah tabiatnya yg beracun. Begitu juga ketika monyet baru bisa sedikit saja belajar tahu memanjat pohon,ia akan mulai menyalahgunakan posisinya yg dipercayakan padanya dari ketinggian & dia tidak mau lagi mendengar masukan atau saran dari yg lainnya, kecuali hanya saran & masukan dari sesama monyet lainnya saja yg mau didengarkannya.

Kebohongan yg terlihat Ilmiah adalah bahasa yg memanipulasi nalar Anda.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan terkadang memjadi instrumen yg disalahgunakan secara sistematis. Kebohongan tidak lagi hadir dalam bentuk mentah, melainkan direkayasa melalui eufemisme & jargon akademis agar dapat diterima oleh logika tanpa kecurigaan.

Proses ini bertujuan untuk mereduksi kepekaan moral masyarakat. Ketika sebuah kejahatan sistemik dibungkus dengan tata bahasa yg rapi & terdengar ilmiah, masyarakat cenderung memvalidasinya sebagai sebuah keharusan logis, bukan sebuah pelanggaran etika & moral.

Ketika retorika agama & politik berhasil memutarbalikkan fakta menjadi distorsi yg legal, kemampuan publik untuk membedakan antara kebenaran substantif & propaganda manipulatif akan mengalami kelumpuhan.

Ketika “kebohongan terdengar jujur,” bahasa tidak lagi berfungsi untuk mencerahkan, melainkan menjadi tabir asap yg menyembunyikan agenda di balik topeng kehormatan.

Lingkungan kita bukan suatu yg suci & tak dapat diganggu-ganggu, melainkan masih perlu perbaiki.

Penyimpangan setiap maujud dari jalur kesempurnaan & perkembangannya merupakan penyimpangan dari diri ke bukan diri (diri palsu). Mustahil manusia mengenal dirinya sendiri ( ego) & mengetahui dirinya dengan melihat dirinya sendiri yg terpisah dari Sebab keberadaannya.

Banyak orang yg mencari karena kehilangan sesutu namun tidak memperhatikan untuk menemukan dirinya yg hilang. Agama tidak lagi memberi kekhasannya kecuali sebatas petanda etnis & pelebar jurang. Tidak heran mengapa orang bijak dalam urusan ruhaninya (saleh ritual) jahil dalam urusan dunia.

Tujuan akhir ego adalah bukan “melihat” sesuatu, tetapi “menjadi” sesuatu. Inilah hal yg banyak menadirkan semua klaim kegirangan mistikus, yg lebih berkutat pada jubah, pada simbol2 & gelar2 saja, & buka pada isi. Jika, seluruh keyakinan adalah hijab, bagaimanan mungkin menjadi pencinta?

Sebagian besar kegelisahan manusia lahir dari keinginan untuk mendapatkan tempat di mata orang lain. Manusia yg hanya paham sebatas ilmu teori, ingin dikenali, dikagumi, dikasihani saat terluka, & dipahami dalam setiap keadaan.

Kedewasaan & ilmu sejati seharusnya mengajarkan bahwa tidak semua perjuangan harus diketahui, tidak semua kebaikan harus dipamerkan berulang agar dipuji, & tidak semua luka harus dimengerti oleh orang lain. Ada ketenangan yg lahir ketika seseorang berhenti menjelaskan dirinya kepada mereka yg memang tidak ingin memahami. Ia tidak lagi sibuk membangun citra, melainkan membangun karakter. Ia tidak mengejar sorotan, tetapi memilih memperbaiki diri dalam sunyi. Karena ia menyadari bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengenalnya, melainkan oleh seberapa jujur ia menjalani kehidupannya.

Bukan berarti manusia tidak membutuhkan hubungan atau kepedulian. Kita tetap membutuhkan kasih sayang, persahabatan, & tempat berbagi. Namun hati yg matang tidak menjadikan semua itu sebagai syarat untuk merasa berharga. Ia mampu tetap melangkah meski tidak dipuji, tetap tersenyum meski tidak semua orang memahami perjuangannya. Ia telah memindahkan pusat ketenangannya dari penilaian manusia kepada keyakinan atas nilai yg ia pegang & kepada Tuhan yg mengetahui seluruh isi hatinya.

Orang yg tidak lagi haus akan pengakuan akan memiliki kebebasan yg luar biasa. Ia tidak mudah terluka oleh kritik yg tidak membangun, tidak mabuk oleh pujian, & tidak kehilangan arah hanya karena tidak mendapat perhatian. Energinya tidak habis untuk membuktikan sesuatu kepada manusia2 simbol yg masih haus akan pengakuan, melainkan digunakan untuk terus bertumbuh.

Pada akhirnya, ketenangan bukan ditemukan ketika seluruh dunia mengenal kita, tetapi ketika hati tidak lagi bergantung pada dunia untuk merasa cukup. Betapa damainya hidup ketika kita tidak lagi mengejar kekaguman, tidak meminta belas kasihan, & tidak memaksa semua orang untuk memahami jalan yg kita pilih. Sebab selama Allah mengetahui niat, perjuangan, & ketulusan kita, pengakuan manusia hanyalah pelengkap, bukan tujuan. Dan di situlah letak salah satu bentuk kebebasan atau kemerdekaan paling indah yg dapat dimiliki oleh seorang manusia. Karena Al-Quran memandangan manusia sebagai pilihan Tuhan, khalifah Tuhan di atas bumi & suatu pribadi yang merdeka.

Langkah awal untuk menjadi manusia merdeka harus belajar paham & mengerti dulu, ” jika Anda melihat kebohongan diberikan mikrofon, kebenaran akan terdengar berisik ditelinga orang2 yg mendukung kebohongan itu”.

Salam sehat & salam waras untuk semuanya di manapun berada. (*)

Pos terkait