Individu Dengan Kemampuan Rendah Lebih Sering Terima Hukuman Sosial dan Formal, Meskipun Kesalahannya Tidak Sesuai. Mengapa?

 

 

Bacaan Lainnya

Individu Dengan Kemampuan Rendah Lebih Sering Terima Hukuman Sosial dan Formal, Meskipun Kesalahannya Tidak Sesuai. Mengapa?*

 

Tentang Hidup. Saya tidak pernah mengajarkan kepada anak-anak saya:

Itu paman/om-bibi/ tantemu dan seterusnya bagaimanapun mereka masih kerabat-kerabatmu semua.

Tapi saya selalu mengajarkan kepada anak-abak saya, “siapa yang tidak menghargai keberadaanmu, mau dia lebih tua atau lebih muda dari kalian, mau setinggi apapun jabatannya, kalian jangan marah, cukup disenyumi saja dan tidak perlu dihormati.”

Ketika seseorang terbiasa dengan jalan pintas, ia akan kesulitan bertahan di fase yang menuntut kesabaran. Begitu situasi tidak lagi menguntungkan, semangatnya runtuh dan mulai menyalahkan keadaan, bahkan ada yang selalu menyalahkan Jokowi & keluarganya terus atas semua apa pun yang terjadi di negeri ini?

Padahal kepercayaan, baik dari orang lain maupun dari diri sendiri tidak lahir dari hasil instan dan mau pilih main aman terus atau pilih zona  nyaman terus.. Ia tumbuh dari rekam jejak konsistensi. Jalan pintas mungkin menghasilkan pencapaian, tetapi sering gagal menghasilkan kepercayaan dan mudah runtuh di tengah jalan atau bisa juga diakhir jalan.

Kesuksesan yang bertahan lama hampir selalu diikuti reputasi yang kuat, karena orang melihat pola, bukan kebetulan.

Mereka melihat konsistensi, bukan keberuntungan sesaat.
Saat fokus hanya pada hasil cepat, nilai mudah dikompromikan. Prinsip dikalahkan oleh target, serta integritas dianggap penghambat. Ini mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya muncul dalam perjalanan jangka panjang.

Yang paling berharga dari proses panjang bukan hasil akhirnya, tetapi kapasitas yang terbentuk di sepanjang jalan. Cara berpikir, cara mengambil keputusan, semuanya lahir dari pengalaman yang tidak instan.

Kapasitas inilah yang membuat kesuksesan walaupun mungkin jatuh berkali-kali akan bisa diulang bangkit dan bukan sekadar dicapai sekali.

Kesuksesan yang tahan lama tidak membutuhkan terlalu banyak drama seperti para politikus, tapi ketika dramanya telah berakhir di ujung atau di tengah jabatannya banyak yang terjaring KPK atau Kejagung.

Jalan pintas yang disertai euforia besar dan kejatuhan nan sama besarnya.

Kesuksesan yang bertahan lama jarang lahir dari jalan pintas karena hidup menuntut lebih dari sekadar hasil cepat. Ia menuntut kesiapan mental, karakter,  kapasitas nyata dan semuanya hanya bisa dibangun lewat proses.

Jika saat ini jalanmu terasa lambat dab sunyi, bukan berarti kamu tertinggal. Bisa jadi, kamu sedang membangun sesuatu yang cukup kuat untuk bertahan lama. Dan kesuksesan seperti itu mungkin tidak instan, tetapi hampir selalu layak diperjuangkan.

Hakim menatap pria yang telah mencoba membunuh penulis Naguib Mahfouz.

Mengapa anda menikamnya? tanya hakim.
“Karena dia menulis novel yg menentang agama.”

Apakah anda membacanya?
“Tidak.”

Di ruang sidang lainnya, seorang pria lain menghadapi dakwaan karena membunuh intelektual Farag Fouda.

“Mengapa anda membunuhnya?”
“Karena dia tidak beriman.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Itu tertulis di bukunya.”
“Di buku mana?”

Diam.
“Saya tidak tahu. Saya belum membacanya.”

“Mengapa kamu tidak membacanya?”

Pria itu menundukkan kepalanya.

Dalam kedua kasus tersebut, polanya sama.

Orang membunuh karena ide-ide yang tak dipahami, orang menghakimi karena kata-kata yang tidak pernah dibaca, dan orang membenci karena konsepsi yang tidak dapat didefinisikan.

Itu bukan keyakinan, itu pengulangan.
Itu bukan iman, itu gema.
Itu bukan kepastian, itu ketaatan buta.

Kekerasan tidak lahir dari pemikiran. Kekerasan lahir dari ketiadaan pemikiran atau malas menggunakan akalnya untuk berpikir. Kebencian juga tidak menyebar melalui pengetahuan. Kebencian menyebar di tempat orang-orang yang malas berpikir serta hanya sibuk jadi penonton saja.

Mengapa mereka bisa membenci membabi buta, tetapi mereka bersedia untuk melakukannya, “itulah harga tak terlihat dari kebodohan.”

Salam sehat selalu untuk semuanya dimanapun berada.

*(Hengki Owner Kafe Eral)

Pos terkait