Opini
Politik tak beda dengan perang & Profesor tanpa pikiran?
Oleh: Hengki, Pengamat Budaya dan Pebisnis di Lampung
Ketika kampus hanya mencetak tenaga kerja, ia berhenti menjadi universitas. Fenomena ini tidak lahir tiba2, ia tumbuh dari sistem yang sejak lama menukar kedalaman dengan kuantitas, menukar pergulatan intelektual dengan kecepatan produksi.
Profesor tidak lagi dilihat sebagai puncak perjalanan keilmuan, melainkan sebagai target administratif yg harus dicapai. Jabatan menjadi tujuan, bukan konsekuensi dari ketekunan berpikir. Dan ketika gelar2, simbol2 & jabatan menjadi tujuan, maka segala cara yg mempercepat pencapaiannya akan dianggap wajar. Kombinasi ini menghasilkan satu generasi akademisi yg produktif secara statistik, tetapi miskin secara intelektual.
Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak dari mereka tidak merasa ada yg salah. Sistem memberi penghargaan. Institusi memberi pengakuan. Negara memberi legitimasi. Gelar profesor diraih, pidato pengukuhan disampaikan, & nama tercatat dalam sejarah birokrasi akademik. Semua berjalan sesuai prosedur. Tidak ada alarm yg berbunyi.
Padahal, yg sedang kita saksikan adalah pergeseran makna profesor itu sendiri. Dari sosok yg menjadi rujukan pemikiran menjadi sekadar pemegang jabatan struktural dalam sistem produksi pengetahuan. Profesor yg tidak lagi menjadi sumber gagasan, tetapi menjadi simpul dalam jaringan output. Profesor yg tidak lagi memimpin arah keilmuan, tetapi mengikuti arus metrik.
Dampaknya tidak berhenti pada individu. Ia menjalar ke generasi berikutnya. Mahasiswa doktoral dibimbing oleh mereka yg tidak pernah benar2 mengalami proses berpikir yg utuh. Penelitian diwariskan sebagai prosedur, bukan sebagai pencarian. Keilmuan diajarkan sebagai teknik, bukan sebagai cara memahami dunia. Dalam jangka panjang, kita tidak hanya kehilangan kualitas profesor, tetapi kehilangan tradisi intelektual itu sendiri.
Tugas2 berpikir dialihkan ke mesin, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak lagi dianggap perlu. Membaca mendalam dianggap tidak efisien. Menulis dari nol dianggap membuang waktu. Berdebat secara konseptual dianggap tidak produktif. Semua yang lambat dianggap hambatan, padahal justru di situlah kualitas terbentuk. Akademisi berubah menjadi operator, & profesor berubah menjadi simbol.
Ada yg mencoba membenarkan kondisi ini dengan alasan bahwa zaman telah berubah. Teknologi berkembang. Cara kerja harus menyesuaikan. Argumen ini terdengar modern, tetapi sering kali menjadi pembenaran untuk kemalasan intelektual yg dibungkus efisiensi. Perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Dalam banyak kasus, ia justru menutupi kemunduran yang tidak disadari.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh setiap profesor hari ini bukan berapa banyak artikel yang telah dipublikasikan, melainkan apakah ia masih mampu berpikir tanpa bantuan sistem.
Jika tren ini terus dibiarkan, kita akan memiliki banyak profesor, tetapi sedikit pemikir. Kita akan memiliki banyak publikasi, tetapi sedikit gagasan. Kita akan memiliki sistem akademik yang sibuk, tetapi tidak produktif dalam arti yang sebenarnya.
Sebuah bangsa tidak kehilangan arah karena kekurangan gelar. Ia kehilangan arah ketika gelar tidak lagi mencerminkan kapasitas berpikir. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang menuju ke sana.
Kita sedang menyaksikan lahirnya satu jenis baru dalam dunia akademik, sosok yg tampak terhormat di atas kertas tetapi rapuh di dalam ruang pikirnya. Ia memiliki gelar tertinggi, daftar publikasi yg panjang, & posisi yg mapan di institusi. Semua syarat formal terpenuhi. Semua indikator administratif dilampaui. Tetapi ada satu hal yg diam2 menghilang, kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
Politik butuh tiga hal untuk memenangkannya.
Pertama uang, kedua uang, & ketiga uang.
Dalam banyak negara yg mengaku demokratis, kontestasi politik secara formal memang berlangsung damai: ada pemilu, ada debat, ada kampanye. Namun di balik layar, pertempuran sesungguhnya sering terjadi pada level pembiayaan—siapa mendanai siapa, kepentingan apa yg diikat, & kebijakan apa yg dijanjikan sebagai imbalan. Uang menjadi logistik perang: ia membayar iklan, konsultan, survei, bahkan membentuk persepsi publik tentang apa yg mungkin & apa yang tidak.
Tetapi menyederhanakan politik menjadi sekadar soal uang juga berbahaya. Uang memang memperbesar suara, namun legitimasi tetap membutuhkan narasi & organisasi.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika ketimpangan antara modal & kehendak rakyat terlalu jauh, ketegangan akan mencari jalannya sendiri—kadang lewat kotak suara, kadang lewat jalanan.
Kita tidak kekurangan gelar, kita kekurangan pemikir. Ketika ilmu hanya menjadi prosedur, manusia berubah menjadi operator, dan gelar tinggal simbol. Kita sedang menyaksikan lahirnya akademisi yg tampak unggul secara administratif tetapi rapuh secara intelektual.
Sistem akademik yang lebih menghargai kuantitas daripada kedalaman telah mengubah ilmu menjadi prosedur, penelitian menjadi produksi, & jabatan menjadi target birokratis. Teknologi serta cognitive offloading mempercepat gejala ini, membuat membaca mendalam, menulis dari kegelisahan, & merumuskan pertanyaan orisinal dianggap tidak efisien. Akibatnya, akademisi berubah menjadi operator yg mahir memenuhi metrik tetapi miskin gagasan, sementara tradisi intelektual perlahan terkikis. Bahayanya bukan sekadar banyaknya gelar tanpa makna, melainkan hilangnya generasi pemikir yg seharusnya menjaga arah ilmu pengetahuan dan masa depan bangsa.”
Jika dahulu seorang profesor harus menghabiskan puluhan tahun bergulat dengan teks, keraguan, & kesepian intelektual, hari ini semuanya bisa dipersingkat dengan sistem yg lebih efisien. Mengapa harus tenggelam dalam satu buku berbulan-bulan jika ringkasannya dapat selesai dalam beberapa menit?. Mungkin kita memang terlalu romantis pada penderitaan berpikir, seolah kelelahan intelektual adalah syarat mutlak kebijaksanaan.
Jadi mengapa kita masih berharap profesor menjadi pemikir, barangkali kita juga harus berhenti memuja simbol2 & gelar. Bukankah sebagian besar pengetahuan hanyalah pengulangan yg dipoles lebih rapi?. Jika sebuah paragraf dapat disusun dengan cepat oleh mesin, mungkin itu pertanda bahwa paragraf tersebut memang tidak pernah terlalu penting. Jika sebuah penelitian dapat lahir dari template, mungkin memang sejak awal ia hanya ditakdirkan menjadi administrasi ilmiah. Tidak semua hal harus lahir dari pergulatan batin; beberapa cukup lahir dari deadline & kebutuhan kenaikan jabatan.
Tentang mahasiswa doktoral, kita pun tidak perlu terlalu sentimental.
Mungkin puncak evolusi akademik memang bukan manusia yg semakin tajam, melainkan manusia yg semakin ringan, ringan karena sebagian besar kerja intelektualnya telah berhasil dipindahkan ke tempat lain.
Jika kemudian kemampuan membaca melemah, menulis menjadi dangkal, dan pertanyaan penelitian terdengar seperti hasil daur ulang, mungkin itu hanya nostalgia generasi lama yg sulit menerima perubahan. Setiap zaman punya standarnya sendiri. Dahulu kebijaksanaan diukur dari ketahanan berpikir, sekarang mungkin dari kecepatan merespons informasi tanpa menyaring terlebih dahulu. Dahulu profesor adalah orang yang membuka horizon baru, sekarang cukup menjadi orang yg tidak terlambat mengunggah revisi. Bukankah adaptasi adalah bentuk kecerdasan yg paling realistis?.
Selama gelar tetap bertambah, pidato pengukuhan tetap berlangsung, dan institusi tetap sibuk memproduksi kebanggaan administratif, semuanya tampak baik2 saja. Hanya saja, sesekali, di tengah tepuk tangan itu, mungkin ada pertanyaan kecil yg datang terlambat: jika semua orang berhasil menjadi profesor tanpa perlu sungguh2 berpikir, lalu siapa sebenarnya yg masih menjaga ilmu pengetahuan agar tidak berubah menjadi sekadar dekorasi birokrasi?.
Jika politik juga sudah benar2 menyerupai perang, maka uang & simbol2 atau gelar lainya adalah amunisinya. Namun seperti dalam perang, kemenangan yg hanya bergantung pada suplai tanpa dukungan moral & strategi jangka panjang sering kali rapuh. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang punya uang paling banyak, melainkan sistem seperti apa yg memungkinkan uang menjadi penentu utama nasib publik.
Salam sehat & salam waras selalu untuk semuanya dimanapun berada. (*)







