Semakin banyak belajar, seharusnya semakin sadar bahwa diri masih bodoh

Opini

 

Bacaan Lainnya

Semakin banyak belajar, seharusnya semakin sadar bahwa diri masih bodoh

 

Oleh: Hengki (Pebisnis & pengamat sosial budaya di Lampung)

 

Sejarah itu enggak pernah dibuat sama orang yg nyaman, sejarah itu ditulis sama orang yg berani. Biasakan mengoreksi pikiran sendiri, karena ego sering menyamar sebagai kebenaran. Pengetahuan yg hanya tinggal di kepala sering melahirkan kesombongan, sedangkan ilmu yg sampai ke hati akan melahirkan kesadaran. Hati yg benar2 disentuh ilmu akan lebih mudah memahami rasa sakit orang lain, & lebih rendah hati dalam bersikap. Sebab tujuan terbesar dari belajar bukan sekadar tahu banyak hal, tetapi menjadi manusia yg lebih baik dari sebelumnya.

Allah Swt berfirman; Sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati.( Al-Quran Al-Ma’idah :7))

Jangan terlalu mudah menyalahkan orang lain, kadang ekspektasimu sendiri yg tidak realitis.Dan jangan juga terlalu mudah mengagumi orang, banyak topeng terlihat menyakinkan dari jarak dekat.

Karakter asli seseorang sering terlihat saat membahas hal2 sensitif & prinsipil, seperti politik, agama, & wanita. Dalam situasi itu, orang cenderung menunjukkan cara berpikir, emosi, toleransi, ego, serta bagaimana ia menghargai orang lain. Karena ketika berbeda pendapat, topeng kesabaran & kepura2an sering mulai hilang.

Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat manusia pandai menghafal atau mengejar nilai tinggi. Kecerdasan yg sejati adalah kemampuan memahami kehidupan dengan lebih dalam, berpikir kritis, & mampu melihat persoalan secara jernih. Manusia seharusnya menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran, bukan sekadar menjadi tempat penyimpanan informasi.

Banyak orang merasa2 telah pendidikan tinggi secara formal di fakultas2 merasa2 telah memiliki pengetahuan yg luas, tetapi mudah menyerah & banyak mengeluh ketika menghadapi kesulitan. Pendidikan yg baik seharusnya melatih manusia agar memiliki tanggung jawab, & keberanian untuk terus berusaha meskipun keadaan tidak selalu mudah. Sebab kecerdasan tanpa kemauan hanya akan menjadi potensi yg tidak pernah benar2 digunakan dalam kehidupan nyata.

Selain akal & kemauan, manusia membutuhkan kehalusan perasaan agar tidak kehilangan sisi kemanusiaannya. Orang yg pintar tetapi tidak memiliki empati bisa menggunakan ilmunya untuk merendahkan orang lain. Dari situlah pendidikan perlu membentuk manusia yg mampu memahami penderitaan, menghargai sesama, & memiliki hati yg lebih peka terhadap kehidupan di sekitarnya.

Ketika pendidikan hanya fokus pada prestasi & persaingan, manusia mungkin menjadi cerdas secara akademik tetapi belum tentu dewasa secara batin. Pendidikan yg utuh adalah pendidikan yg mampu membentuk cara berpikir, memperkuat karakter, & membuat manusia menjadi lebih bijaksana dalam memandang dirinya maupun orang lain.

Sifat asli seseorang akan terlihat bukan saat keadaan nyaman, tetapi saat pandangan & emosinya diuji.

Orang yg benar2 berilmu tidak haus pengakuan, karena semakin matang seseorang, semakin ia tidak sibuk membuktikan dirinya. Karena ia sadar, pengakuan manusia hanyalah sesuatu yg sementara. Banyak orang terlihat pintar karena pandai bicara, tetapi orang yg benar2 berilmu sering kali justru tenang & sederhana cara penyampaiannya keorang lain. Mereka tidak sibuk mencari tepuk tangan, karena mereka lebih sibuk menjaga hatinya agar tidak dipenuhi kesombongan yg halus.

Ilmu yg tidak dibarengi empati sering membuat seseorang lupa bahwa setiap orang sedang berjuang dengan hidupnya masing2.

Kesadaran terbesar dari ilmu adalah memahami betapa luasnya hal yg belum kita ketahui. Orang yg selalu merasa2 paling berilmu biasanya mudah pula merasa paling pintar, sedangkan orang yg benar2 mendalami ilmu justru lebih banyak diam & merenung. Ia sadar bahwa hidup terlalu luas untuk disimpulkan dengan ego pribadi. Dari situlah lahir kerendahan hati. Sebab ilmu yg sejati tidak melahirkan kesombongan intelektual, tetapi melahirkan rasa takut untuk menyakiti orang lain dengan sikap merasa paling benar.

 

Tujuan ilmu adalah memperbaiki diri sebelum memperbaiki orang lain

Banyak orang mudah menasihati, tetapi sulit mengoreksi dirinya sendiri. Mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi buta terhadap kekurangan pribadi. Padahal ilmu pertama yg paling penting adalah belajar memahami diri sendiri, sebelum sibuk ingin mengubah dunia, mengubah dunia & sistem. Seharusnya manusia lebih dulu belajar mengubah dirinya. Karena perubahan yg lahir dari kesadaran diri akan jauh lebih tulus daripada perubahan yg dipaksakan melalui perdebatan. Orang yg bermanfaat tidak selalu merasa yg paling pintar.

Dalam hidup, manusia tidak selalu mengingat siapa yg paling cerdas. Tetapi manusia akan selalu mengingat siapa yg pernah menenangkan hatinya & membantunya, membantunya bangkit, atau hadir di saat sulit. Banyak orang berilmu tinggi tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa kecil. Sebaliknya, ada orang sederhana yg ilmunya tidak banyak, tetapi keberadaannya membuat lingkungan menjadi hangat. Di situlah kita belajar bahwa manfaat jauh lebih berarti daripada sekadar terlihat hebat.

 

Perdebatan sering lahir bukan karena mencari kebenaran, tetapi karena ego.

Tidak semua diskusi bertujuan mencari pemahaman. Banyak yg sebenarnya hanya ingin menang. Ingin dianggap lebih pintar. Ingin terlihat lebih unggul. Karena itu, banyak percakapan yg awalnya baik berubah menjadi pertarungan harga diri. Ketika ego masuk ke dalam ilmu, maka ketenangan akan hilang. Orang mulai mendengar hanya untuk membalas, bukan untuk memahami. Padahal kebijaksanaan sejati lahir dari kemampuan mendengar & pikiran yg terbuka.

Ada ketenangan tertentu pada orang yg benar2 memahami kehidupan. Ia tidak mudah meremehkan, & tidak sibuk memperlihatkan dirinya paling benar & paling pintar. Karena ia sadar bahwa setiap manusia memiliki luka yg tidak terlihat. Semakin seseorang memahami hidup, semakin ia tahu bahwa manusia tidak hanya butuh nasihat, tetapi juga butuh dipahami.

 

Kesombongan paling berbahaya adalah merasa diri paling benar

Kesombongan tidak selalu terlihat dalam harta atau jabatan. Kadang ia hadir dalam bentuk merasa paling suci, paling paham, & paling layak menghakimi. Kesombongan seperti ini jauh lebih sulit disadari karena dibungkus dengan ilmu & kebenaran. Padahal saat seseorang merasa dirinya paling benar, di situlah ia berhenti belajar. Ia menutup pintu untuk memahami orang lain. Dan tanpa sadar, ia menjauh dari hikmah yg sebenarnya.

Pada akhirnya, ukuran ilmu bukan seberapa banyak yg diketahui, tetapi seberapa besar manfaat yg diberikan kepada kehidupan sekitar. Apakah ilmu itu membuat seseorang lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, & lebih mampu menjaga hati orang lain. Karena dunia ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia hanya kekurangan manusia yg mampu menggunakan ilmunya untuk menghadirkan ketenangan, kasih sayang, & kebaikan. Ilmu yg sejati bukan membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi membuatnya sadar bahwa hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan kesombongan.

Kalau ilmu yg kita miliki justru membuat orang lain merasa kecil, lalu apa bedanya kita dengan seseorang yang tidak pernah benar2 memahami makna ilmu itu sendiri?

 

Kesadaran diri memberi kestabilan batin.

Jangan terlalu sibuk menyenangkan semua irang, karena keinginan untuk terus diterima sering membuat seseorang kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri.

Contohnya terus mengubah sikap hanya agar cocok dengan semua lingkungan yg berbeda, & hidup seperti ini melelahkan pikiran. Ketika suasana hati terlalu dipengaruhi komentar orang, berarti ada ketergantungan yg mulai terbentuk diam2. Misalnya merasa hancur & emosi hanya karena satu kritikan kecil, ketergantungan membuat emosi mudah goyah.

Ketenangan lebih mudah tumbuh saat hidup dibangun dari nilai & arah pribadi yang jelas.

Arah yang jelas menjaga hati tetap kuat.

Karena tidak semua orang akan mengerti pilihan, proses, atau cara hidup yg sedang dijalani seseorang

Banyak orang kehilangan dirinya bukan karena dibenci manusia, tapi karena terlalu lama hidup demi menjaga penilaian manusia tetap baik. Perubahan tidak harus dimulai dari membuat semua orang menyukai dirimu. Kadang cukup dari berhenti menyerahkan harga diri pada opini yg terus berubah.

Penilaian manusia selalu bergerak mengikuti keadaan, tapi ketenangan hidup tumbuh saat seseorang tidak lagi menggantungkan nilainya pada itu semua.

Ilmu yg hanya modal merasa2 paling pintar sendiri, paling tinggi sendiri pendidikan secara formal, akan merasa paling tahu & paling paham segalanya, biasanya hanya digunakan untuk berdebat atau menujukan kehebatan, bukan untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Bismillahirrahmanirrahin.

Allahuma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad.

Duhai, Allah Yang Mahakuasa, anugerahilah kami kemampuan untuk bertobat dan menyadari kewajiban kami.

Anugerahilah kami sebagian cahaya pengetahuan-Mu yg mengisi hati para Arif & Wali-Mu. Anugerahilah kami pemahaman akan wilayah kekuasaan & kerajaan-Mu.

Bimbinglah kami untuk menemukan kelemahan & kesalahan kami.

Singkapkanlah misteri makna ” Alhamdulillahirabbi ‘l alamin” kepada kami, makhluk yang bodoh yg menisbahkan segala sifat terpuji kepada para makhluk. Berilah kami pengetahuan bahwa tidak satu pun dari sifat terpuji itu yg dapat dinisbahkan kepada maujud yang diciptakan.

Ungkapkan kepada kami kebenaran ayat; kebajikan apapun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, & keburukan apapun yang menimpamu itu dari dirimu sendiri.(Al-Quran An-Nisa ; 79).

Ya Allah, guratkanlah kalimat tauhid pada hati kami yg kotor & keras. Kami adalah manusia dari dunia gelap yg merana dibalik tabir, terombang-ambing diantara kemurtadan & kemunafikan. Kami telah berlaku egois, menyembah diri sendiri & ujub kepada diri sendiri. Singkirkanlah keburukan cinta diri & cinta dunia dari hati kami, & jadikanlah kami pencinta & penyembah-Mu. Sesungguhnya, Engakulah yg berkuasa melakukan segala sesuatu.

Salam sehat & salam waras selalu untuk semuanya dimanapun berada. (*)

Pos terkait