Opini
1 Muharam 1448 H: Hijrah Idealisme dan Ujian Kekuasaan
Opini – Oleh: Rusmin
Tahun Baru Islam selalu datang dengan satu kata kunci yang tidak pernah kehilangan relevansinya: hijrah.
Bagi sebagian orang, hijrah dimaknai sebagai perpindahan tempat. Bagi sebagian yang lain, hijrah adalah perubahan cara hidup. Namun dalam sejarah Islam, hijrah sesungguhnya adalah perjalanan menjaga nilai ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu ramah terhadap nilai itu sendiri.
Momentum 1 Muharam 1448 Hijriah hadir ketika ruang publik Indonesia kembali dipenuhi suara demonstrasi, kritik, tuntutan perubahan, dan kegelisahan generasi muda terhadap arah bangsa. Di tengah riuh itu, muncul sebuah pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar perdebatan politik sehari-hari:
Bagaimana nasib idealisme ketika seseorang berpindah dari jalanan menuju pusat kekuasaan?
Dalam sejarah politik modern, kita berkali-kali menyaksikan pola yang sama. Banyak tokoh yang memulai perjalanan sebagai aktivis, penggerak perubahan, bahkan simbol perlawanan terhadap kekuasaan. Mereka berdiri di tengah massa, meneriakkan kritik, dan memperjuangkan cita-cita yang diyakini sebagai kebenaran.
Mereka adalah pahlawan bagi zamannya.
Namun perjalanan waktu sering menghadirkan ujian yang jauh lebih berat daripada sekadar menghadapi tekanan penguasa. Ujian itu datang ketika kesempatan memasuki lingkar kekuasaan terbuka di hadapan mereka.
Di titik itulah terjadi hijrah politik yang sesungguhnya.
Sebagian mampu menjaga nilai yang dahulu diperjuangkan. Sebagian lainnya perlahan berubah. Bukan karena niat buruk yang datang tiba-tiba, melainkan karena kekuasaan memiliki kemampuan mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia.
Aktivis menjadi pejabat.
Kritikus menjadi pengelola sistem.
Penyampai tuntutan berubah menjadi pihak yang harus menjawab tuntutan.
Perubahan posisi itu sering kali tidak disadari. Ia berlangsung perlahan melalui kompromi, penyesuaian, dan logika stabilitas yang dianggap perlu demi menjaga sistem tetap berjalan.
Dalam ilmu politik, fenomena tersebut dikenal sebagai institusionalisasi aktivisme. Ketika semangat perubahan memasuki ruang kekuasaan, ia mulai bernegosiasi dengan berbagai kepentingan, keterbatasan, dan realitas politik yang kompleks.
Di sinilah relevansi Tahun Baru Islam menjadi begitu penting.
Hijrah bukan hanya soal bergerak menuju posisi yang lebih tinggi. Hijrah juga mengandung pertanyaan moral yang mendasar: apakah nilai yang dibawa saat berangkat masih tetap dijaga ketika tujuan telah tercapai?
Nabi Muhammad SAW berhijrah bukan untuk meninggalkan prinsip, melainkan untuk menyelamatkan dan memperkuat prinsip tersebut. Karena itu, hijrah dalam makna terdalam bukanlah perpindahan fisik, melainkan kemampuan menjaga integritas di tengah perubahan keadaan.
Kita dapat berpindah jabatan, berpindah status sosial, berpindah lingkungan, bahkan berpindah dari oposisi menjadi bagian dari pemerintahan. Namun pertanyaan yang selalu relevan adalah apakah hati dan kompas moral kita ikut berpindah arah.
Maka 1 Muharam 1448 Hijriah dapat menjadi momentum refleksi bersama, terutama bagi siapa pun yang pernah memperjuangkan perubahan.
Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah melawan kekuasaan.
Sejarah juga mencatat siapa yang tetap setia pada nilai-nilai perjuangannya ketika kekuasaan berada di tangannya.
Karena sesungguhnya yang paling sulit dalam sebuah perjuangan bukanlah merebut kemenangan.
Yang paling sulit adalah menjaga agar kemenangan itu tidak mengubah alasan mengapa perjuangan tersebut dimulai.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Semoga setiap hijrah yang kita tempuh tidak menjauhkan kita dari nilai yang dahulu kita yakini, dan semoga setiap kekuasaan yang kita raih tidak membuat kita lupa pada suara-suara yang pernah kita bela. (*)







