Opini
Utang untuk Tumbuh: Mengapa Lampung Utara Tak Bisa Menunda Pembangunan
Penolakan terhadap rencana pinjaman daerah sering terdengar bijak di permukaan. Namun dalam konteks pembangunan daerah seperti Lampung Utara, sikap tersebut perlu ditimbang ulang secara lebih rasional dan berorientasi masa depan.
Menolak utang tanpa alternatif konkret sama saja dengan menunda kemajuan.
Pinjaman dari PT SMI bukanlah utang konsumtif. Ia adalah instrumen pembiayaan pembangunan yang dirancang untuk mempercepat infrastruktur dan layanan publik. Banyak daerah di Indonesia telah memanfaatkan skema ini untuk memperbaiki jalan, irigasi, hingga fasilitas dasar masyarakat.
Tanpa percepatan, ketertinggalan justru akan semakin dalam.
Masalah utama Lampung Utara hari ini bukan sekadar keterbatasan anggaran, tetapi lambannya pembangunan yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.
Jalan rusak, akses distribusi terhambat, biaya logistik tinggi—semua ini menekan daya saing daerah. Dalam situasi seperti ini, menunggu PAD meningkat secara alami justru tidak realistis. PAD tidak akan tumbuh signifikan tanpa stimulus pembangunan terlebih dahulu.
Di sinilah letak logika pentingnya pinjaman: pembangunan dulu, pertumbuhan kemudian. Infrastruktur yang baik akan membuka akses ekonomi, meningkatkan aktivitas usaha, dan pada akhirnya mendongkrak pendapatan daerah. Tanpa itu, daerah akan terus terjebak dalam lingkaran stagnasi.
Memang benar, utang memiliki risiko. Tetapi risiko terbesar justru adalah tidak berbuat apa-apa. Selama pinjaman digunakan untuk proyek produktif, disertai perencanaan matang, transparansi, dan pengawasan ketat, maka utang berubah menjadi investasi. Kuncinya bukan pada “utang atau tidak”, melainkan pada “bagaimana utang itu dikelola”.
Selain itu, penting dipahami bahwa pemerintah pusat melalui berbagai regulasi telah menetapkan batasan ketat terhadap pinjaman daerah. Artinya, ruang untuk sembarangan berutang sebenarnya sangat terbatas.
Jika Lampung Utara memenuhi syarat untuk mengakses pinjaman PT SMI, maka itu justru menunjukkan adanya kapasitas fiskal yang masih layak.
Penolakan yang tidak diiringi solusi hanya akan memperlambat pembangunan. Kritik memang perlu, tetapi harus konstruktif.
Jika bukan melalui pinjaman, lalu dari mana sumber pembiayaan untuk percepatan pembangunan? Pertanyaan ini sering kali tidak terjawab secara konkret.
Lampung Utara membutuhkan lompatan, bukan langkah kecil yang terlalu hati-hati hingga kehilangan momentum.
Generasi hari ini tidak bisa terus menunggu jalan baik, akses lancar, dan peluang ekonomi yang layak.
Pembangunan bukan soal keberanian berutang semata, tetapi keberanian mengambil keputusan untuk masa depan.
(Penulis: Orean Agus)







