Aramo, Nias Selatan – Pekerjaan proyek di SMP Negeri 3 Satu Atap Aramo, Kabupaten Nias Selatan, menuai sorotan publik. Proyek tersebut dinilai misterius karena tidak dilengkapi papan informasi, sehingga sumber anggaran dan nilai kegiatan tidak diketahui secara jelas.
Berdasarkan hasil pantauan langsung di lapangan serta informasi yang dihimpun dari masyarakat, muncul sejumlah pertanyaan serius terkait transparansi dan kualitas pelaksanaan proyek tersebut.
Salah seorang warga mempertanyakan asal-usul anggaran proyek yang hingga kini belum dijelaskan secara terbuka. Bahkan, beredar isu di tengah masyarakat bahwa proyek tersebut bersumber dari anggaran TNI. Namun, belum ada keterangan resmi yang dapat mengonfirmasi hal tersebut.
Selain itu, proyek yang telah berjalan lebih dari tiga minggu tersebut tidak dilengkapi papan informasi kegiatan. Padahal, sesuai prinsip transparansi publik, setiap proyek pemerintah wajib memasang papan informasi yang memuat detail pekerjaan, seperti sumber anggaran, nilai proyek, serta pihak pelaksana.
Di sisi lain, temuan di lapangan juga menimbulkan kekhawatiran serius terkait kualitas pekerjaan. Material batu cetak atau batako yang digunakan terlihat rapuh dan mudah hancur, sehingga diduga tidak memenuhi standar teknis konstruksi yang semestinya. Kondisi ini berpotensi mengurangi daya tahan bangunan, bahkan dapat membahayakan keselamatan siswa dan para guru. Selain itu, jika pekerjaan terbukti tidak sesuai spesifikasi, hal tersebut juga berpotensi menimbulkan kerugian negara.
Menindaklanjuti temuan tersebut, tim media investigasifakta.com dan Pikiran Rakyat Medan telah melakukan upaya konfirmasi kepada Danramil 12/Teluk Dalam, Mayor Inf. Yustinus Waruwu, S.E., melalui pesan WhatsApp pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 09.17 WIB.
Dalam konfirmasi tersebut, pihak media mempertanyakan kejelasan sumber anggaran proyek, ketiadaan papan informasi kegiatan, serta dugaan rendahnya kualitas pekerjaan di lapangan. Namun, hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi.
Tidak berhenti di situ, pada Kamis (4/6/2026), media investigasifakta.com, Pikiran Rakyat Medan, bongkarpost.co.id bersama Tim turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Berdasarkan wawancara dengan sejumlah pekerja, mereka mengaku tidak mengetahui asal anggaran proyek tersebut. “Kami hanya pekerja,” ujar salah satu pekerja.
Saat ditanya terkait material, pekerja menyebutkan bahwa pasir yang digunakan diduga diambil dari Sungai Gomo tanpa melalui uji laboratorium. Hal ini diduga menjadi penyebab batako mudah hancur dan tidak memenuhi standar konstruksi.
Tim media juga sempat menemui pihak pengawas atau pelaksana pekerjaan di lokasi. Saat ditanya mengenai sumber anggaran proyek, pelaksana mengarahkan agar pertanyaan tersebut ditujukan langsung ke pihak Kodim. Terkait tidak adanya papan informasi, ia menyatakan bahwa hal tersebut bukan tanggung jawabnya sebagai pelaksana, dan meminta media menanyakan kepada pihak lain.
Lebih lanjut, ditemukan pula bahwa para pekerja diduga tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap. Menanggapi hal tersebut, pelaksana menyebut bahwa sebagian pekerja telah diberikan kaos bermerek TNI, meski tidak semuanya mendapatkannya.
Kondisi ini semakin memperkuat dugaan adanya pelanggaran dalam pelaksanaan proyek. Masyarakat pun berharap agar pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun instansi berwenang, segera turun tangan melakukan pemeriksaan dan memberikan klarifikasi resmi.
Transparansi dan kualitas pembangunan dinilai sangat penting demi menjamin keamanan serta kenyamanan fasilitas pendidikan bagi para siswa.
Tim media menyatakan akan menindaklanjuti temuan ini dengan melakukan konfirmasi lebih lanjut ke pihak Dandim 0213/Nias.







