Surah al-Ikhlash: Suci dan Murni Menggambarkaan ke-Esaan dan Kemurnian Allah SWT
Oleh: Arsiya Heni Puspita
(Jurnalis dan Penulis)
Surah ini dinamakan al-Ikhlash artinya Suci atau Murni karena menggambarkaan ke-Esaan dan Kemurnian Allah swt sebelumnya memiliki kekeruhan. Nama paling populer surah al-Ikhlash. Nama lainnya memiliki lebih dari dua puluh nama diantaranya surah at-Tafrid (Pengesaan Allah), surah at-Tajrid (Penafikan segala sekutu bagi-Nya), surah an-Najat (keselamatan dunia dan akhirat).
Lalu surah al-Wilayah (Kedekatan kepada Allah swt), surah al-Ma’rifah (Pengetahuan tentang Allah swt), surah al-Jamal (Keindahan karena Allah swt Maha Indah), surah Qasyqasy (Penyembuhan dari kemusyrikan), surah al-Mudzdzakkirah (Pemberi peringatan), surah ash-Shamad dan al-Aman.
Surah al-Ikhlash turun sebagai jawaban terhadap kaum musyrikin yang ingin mengetahui Tuhan yang disembah Rasulullah karena mereka menyangka Tuhan Yang Maha Esa serupa dengan berhala-berhala mereka. Mereka juga menanyakan bagaimana sifatnya, apa nisbahnya, apakah terbuat dari emas atau perak.
Ikhlash adalah keberhasilan mengikis dan menghilangkan kekeruhan sehingga menjadi murni. Maka akan menyingkirkan segala kepercayaan, dugaan, dan prasangka kekurangan atau sekutu bagi Allah swt.
Surah ini merupakan surah ke-112 dalam al-Qur’an terdiri dari 4 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rasulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rasulullah belum hijrah ke Madinah.
Surah ini adalah surah yang ke-19 atau ke-22 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam al-Qur’an. Dia turun sesudah surah an-Nas dan sebelum surah an-Najm.
Tema utama tentang pengenalan tentang Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi andalan dan harapan semua mahluk. Tema lainnya, penjelasan tentang Dzat Yang Maha Suci serta kewajaran-Nya menyandang puncak semua sifat yang sempurna dan menghindarkan dari sifat kekurangan. Demikian tafsir al-Misbah.
Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.
Terjemahan QS. al-Ikhlash (Suci atau Murni) 112: 1, “Katakanlah! Dia Allah Yang Maha Esa”. Tafsirnya, katakanlah wahai Nabi Muhammad saw kepada yang bertanya padamu bahkan kepada siapapun Dia Yang Wajib Wujud-Nya dan yanag berhak disembah adalah Allah Yang Maha Esa.
Kata qul/katakan membuktikan bahwa Rasulullah menyampaikan segala sesuatu dari al-Qur’an yang diterimanya dari Malaikat Jibril as. Kata Huwa bisa diterjemahkan Dia menunjukkan betapa penting kandungan redaksi berikutnya yaitu Allahu Ahad.
Kata Allah adalah nama bagi suatu Wujud Mutlak yang berhak disembah, Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur seluruh jagad raya.
Kata ahad/esa dari akar kata wahdah/kesatuan seperti kata wahid yang berarti satu. Kata ahad bisa berfungsi sebagai nama dan sifat. Sebagai sifat hanya digunakan untuk Allah swt yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.
Kata ahad hanya digunakan pada sesuatu sifat yang tidak dapat menerima penambahaan baik dalam benak apalagi dalam kenyataan karena tidak termasuk dalam rentetan bilangan. Berbeda halnya dengan wahid (satu) bisa ditambah menjadi dua, tiga dan seterusnya.
Ibadah dalam pengertian yang umum mencakup segala macam aktivitas yang dilakukan karena Allah swt. Berdasarkan firman-Nya, “Katakanlah! Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua karena Allah, Pemelihara seluruh alam”. QS. al-An’am (Binatang Ternak) 6: 162.
Ya Allah, cukuplah Allah bagi kami, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya kami bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung. Kabulkanlah permohonan kami.
Maha Benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.







