Opini
Pembangunan Melaju, Lingkungan Terancam: Ketika Modernisasi Dibayar Mahal oleh Alam
Oleh: Wafa Akhutsiqoh
(Mahasiswa UIN Radin Intan Fakultas Psikologi Islam Prodi Psikologi Islam Semester 2)
Deretan jalan tol baru, gedung pencakar langit, kawasan industri, hingga pusat perbelanjaan terus bermunculan di berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan berjalan cepat dan kerap dipandang sebagai simbol kemajuan ekonomi. Namun di balik laju modernisasi tersebut, kerusakan lingkungan justru semakin nyata dan sulit diabaikan.
Hutan menyusut, banjir terus berulang, suhu udara semakin panas, sementara ruang terbuka hijau perlahan menghilang dari kawasan perkotaan. Alam seakan menjadi pihak yang paling banyak dikorbankan di tengah ambisi pembangunan yang terus digenjot.
Alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab utama rusaknya keseimbangan lingkungan. Kawasan hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini berubah menjadi permukiman, kawasan industri, hingga perkebunan skala besar. Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di sejumlah kota besar, banjir kini tidak lagi dianggap sebagai bencana musiman, melainkan persoalan tahunan yang terus berulang. Jakarta menjadi salah satu contoh nyata. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat kerap membuat sejumlah wilayah lumpuh akibat genangan air.
Berkurangnya daerah resapan, tata ruang yang tidak terkendali, serta buruknya sistem drainase memperparah situasi tersebut. Sampah yang menumpuk di saluran air juga menjadi persoalan klasik yang belum terselesaikan hingga kini.
Tidak hanya banjir, kebakaran hutan juga masih menjadi ancaman serius, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran lahan yang terus berulang bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga memicu kabut asap yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat.
Kabut asap mengganggu aktivitas pendidikan, transportasi, hingga kesehatan warga. Gangguan pernapasan meningkat setiap kali kebakaran hutan terjadi dalam skala besar. Ironisnya, persoalan tersebut terus muncul hampir setiap tahun tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas.
Masalah lingkungan lainnya datang dari sampah plastik. Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Plastik sekali pakai yang digunakan setiap hari akhirnya menumpuk di sungai dan laut akibat buruknya sistem pengelolaan sampah.
Limbah plastik yang sulit terurai dapat bertahan hingga ratusan tahun. Kondisi ini bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam ekosistem laut dan kehidupan biota di dalamnya.
Di sisi lain, aktivitas industri di sejumlah daerah juga memunculkan persoalan pencemaran baru. Limbah industri yang dibuang tanpa pengolahan memadai menyebabkan kualitas air sungai terus menurun. Padahal, sebagian masyarakat masih menggantungkan kebutuhan air sehari-hari dari aliran sungai tersebut.
Perubahan iklim global turut memperburuk kondisi lingkungan di Indonesia. Cuaca ekstrem kini semakin sering terjadi. Suhu panas tinggi datang bergantian dengan hujan deras dalam waktu singkat. Situasi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
Namun kerusakan lingkungan hari ini bukan semata akibat pembangunan fisik. Gaya hidup masyarakat modern juga ikut memperbesar tekanan terhadap alam. Penggunaan plastik sekali pakai masih tinggi, sementara penggunaan kendaraan pribadi terus meningkat dan memicu polusi udara di kawasan perkotaan.
Di media sosial, kampanye peduli lingkungan memang semakin ramai digaungkan. Mulai dari gerakan membawa tumbler, pengurangan plastik, hingga aksi menanam pohon kerap menjadi tren. Meski demikian, banyak pihak menilai sebagian kampanye tersebut masih sebatas simbolis dan belum sepenuhnya mengubah perilaku masyarakat secara nyata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya soal kebijakan pemerintah, tetapi juga berkaitan dengan pola pikir dan kebiasaan masyarakat sehari-hari. Rendahnya disiplin menjaga kebersihan dan minimnya kesadaran terhadap kelestarian alam masih menjadi tantangan besar.
Kondisi lingkungan yang semakin padat, panas, dan minim ruang hijau juga mulai berdampak terhadap kualitas hidup masyarakat. Tekanan psikologis, stres, hingga rasa tidak nyaman semakin sering dirasakan, terutama di kawasan perkotaan yang padat aktivitas.
Karena itu, pendekatan Psikologi Lingkungan dinilai penting untuk membentuk perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan, keberlanjutan, dan keseimbangan alam. Kesadaran tersebut perlu dibangun melalui pendidikan, kebiasaan positif, serta keterlibatan sosial sejak dini.
Pemerintah sebenarnya telah menjalankan berbagai program seperti reboisasi, pengelolaan limbah, hingga regulasi perlindungan lingkungan. Namun upaya tersebut dinilai belum cukup jika tidak dibarengi kesadaran kolektif masyarakat dan pengawasan yang konsisten.
Para pengamat lingkungan menilai pembangunan yang mengabaikan aspek ekologis hanya akan melahirkan persoalan baru di masa depan. Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi kerusakan alam yang tidak terkendali dapat menghadirkan ancaman yang jauh lebih besar.
Generasi muda pun dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya, hingga ikut dalam kegiatan penghijauan dapat menjadi awal perubahan jika dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, pembangunan tidak seharusnya berjalan dengan mengorbankan alam. Sebab ketika lingkungan terus rusak, yang terancam bukan hanya ekosistem, tetapi juga kualitas hidup manusia di masa depan. Tanpa keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan, modernisasi bisa berubah menjadi ancaman yang perlahan menghancurkan kehidupan itu sendiri. (*)







