Tajuk
Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai Kompas Moral Meraih Ridho Allah SWT
Bongkar Post | Feature
Oleh: Redaksi
Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menjadi momentum untuk kembali melihat akhlak sebagai inti keteladanan dalam kehidupan.
Lebih dari 14 abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, ajaran dan keteladanannya tetap menjadi rujukan bagi umat Islam. Di tengah kehidupan yang terus berubah, pesan tentang kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab manusia kepada Allah SWT tetap menemukan relevansinya.
Madinah menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Di kota itu, Rasulullah SAW membangun kehidupan masyarakat Muslim sekaligus meletakkan dasar kehidupan bersama yang berlandaskan ajaran Islam.
Namun, keteladanan Nabi tidak berhenti pada tempat dan masa tertentu. Nilai yang dibawa Rasulullah SAW melampaui batas geografis dan zaman. Karena itu, ketika umat Islam memperingati Maulid Nabi, yang semestinya dikenang bukan hanya kelahiran seorang tokoh besar dalam sejarah, melainkan juga akhlak dan ajaran yang diwariskannya.
Al-Qur’an memberikan penegasan yang kuat mengenai posisi Rasulullah SAW sebagai teladan.
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” [ QS Al-Ahzab : 21]
Ayat itu menempatkan Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah, atau teladan yang baik. Keteladanan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan ibadah personal, tetapi juga menyentuh akhlak dan hubungan manusia dengan sesama.
Beliau, Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia (dari manusia).
(HR. al-Baihaqī, r.a dari Abū Hurairah, r.a)
Di sinilah makna Maulid dapat dibaca lebih jauh. Peringatan kelahiran Nabi tidak cukup berhenti pada seremoni, pembacaan sejarah, atau ungkapan kecintaan secara lisan. Nilai peringatan itu menjadi lebih bermakna ketika kecintaan kepada Rasulullah diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari.
Kejujuran, misalnya, bukan sekadar nilai moral yang baik dalam hubungan sosial. Bagi seorang Muslim, kejujuran merupakan bagian dari akhlak yang harus dijaga, termasuk ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Begitu pula amanah. Jabatan, pekerjaan, kekuasaan, harta, ilmu, bahkan tanggung jawab dalam keluarga pada dasarnya dapat dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Keteladanan Nabi juga mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesamanya. Kesalehan tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan keadilan, kepedulian, penghormatan terhadap orang lain, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, akhlak Nabi dapat ditempatkan sebagai semacam kompas moral. Kompas tidak menentukan langkah seseorang secara otomatis, tetapi memberikan arah. Begitu pula keteladanan Rasulullah SAW: ia menjadi rujukan agar manusia tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan, harta, konflik, maupun godaan kehidupan.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan tersebut tetap relevan. Kemajuan teknologi dan perubahan sosial tidak dengan sendirinya menjadikan manusia lebih berakhlak. Informasi dapat tersebar dalam hitungan detik, tetapi kejujuran tetap membutuhkan tanggung jawab. Kekuasaan dapat diperoleh melalui berbagai mekanisme, tetapi amanah tetap menuntut pertanggungjawaban. Kritik dapat disampaikan dengan mudah, tetapi adab dalam menyampaikan kritik tetap diperlukan.
Maulid Nabi kemudian dapat menjadi ruang untuk melakukan refleksi: sejauh mana ajaran dan akhlak Rasulullah benar-benar hadir dalam kehidupan umat?
Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada pemimpin atau tokoh agama. Ia juga berlaku bagi setiap individu. Dalam keluarga, di tempat kerja, dalam kehidupan bermasyarakat, maupun ketika menggunakan media sosial, setiap orang memiliki ruang untuk menunjukkan akhlaknya.
Sejarah peringatan Maulid sendiri berkembang jauh setelah masa Nabi Muhammad SAW. Salah satu catatan yang dirujuk NU Online menyebut Khaizuran, yang hidup pada abad ke-2 Hijriah, datang ke Madinah dan memerintahkan masyarakat mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Catatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi memperingati Maulid merupakan perkembangan historis dalam kehidupan umat Islam setelah masa Rasulullah SAW.
Fakta sejarah tersebut penting dibedakan dari pesan utama Maulid. Peringatan dapat memiliki bentuk yang beragam di tengah masyarakat, sementara kecintaan kepada Rasulullah dapat diwujudkan melalui pengamalan nilai yang lebih mendasar: mengikuti keteladanan akhlaknya.
Pada akhirnya, ukuran kecintaan kepada Nabi tidak berhenti pada seberapa meriah sebuah peringatan diselenggarakan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah peringatan tersebut membuat manusia semakin jujur, amanah, adil, penyayang, rendah hati, dan bertanggung jawab?
QS Al-Ahzab ayat 21 memberikan titik pijak yang jelas. Rasulullah SAW disebut sebagai teladan bagi mereka yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat-Nya.
Dari sana, Maulid dapat dimaknai sebagai momentum untuk kembali kepada teladan itu. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai keteladanan Nabi ke dalam kehidupan hari ini.
Sebab, ketika akhlak menjadi kompas, kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti sebagai ucapan. Ia menemukan bentuknya dalam tindakan.
Dan bagi seorang Muslim, arah akhir dari keteladanan itu adalah mendekatkan kehidupan kepada keridaan Allah SWT.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam Bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari).
“Saya niat amalkan dan sampaikan”.
(*)







