Tajuk
KETIKA KEPERCAYAAN MENJADI MATA UANG TERMAHAL
Ada satu modal yang tidak tercatat dalam APBN/APBD, tidak bisa dibangun dengan semen, dan tidak bisa diresmikan dengan gunting pita. Namanya kepercayaan publik.
Belakangan ini, skeptisisme terhadap pemerintah bukan lagi suara pinggiran. Ia ada di kolom komentar, di warung kopi, di ruang rapat, dan di grup WhatsApp keluarga. Pertanyaannya bukan lagi apakah publik skeptis, tetapi mengapa skeptisisme itu menjadi begitu mudah tumbuh.
Jawaban yang paling mudah adalah menyalahkan publik yang dianggap tidak paham. Jawaban yang paling jujur adalah melihat ke dalam.
Kepercayaan publik runtuh bukan dalam satu hari. Ia tergerus pelan-pelan.
Pertama, oleh jarak antara narasi dan realita. Di atas podium, kita mendengar tentang pertumbuhan ekonomi, investasi masuk, dan pembangunan yang merata. Di bawah, yang dirasakan warga adalah harga kebutuhan yang naik, urusan birokrasi yang masih berbelit, dan lapangan kerja yang terasa semakin sempit. Ketika bahasa statistik tidak bertemu dengan bahasa dapur, di situlah skeptisisme lahir.
Kedua, oleh luka lama yang belum sembuh. Publik memiliki ingatan yang panjang. Satu kasus korupsi yang tidak tuntas, satu proyek mercusuar yang mangkrak, satu janji yang diingkari sepuluh tahun lalu, akan terus menjadi referensi. Pemerintah berganti, tetapi arsip ingatan publik tetap menyimpan semuanya. Tanpa upaya serius untuk membereskan masa lalu, setiap pemerintahan baru akan mewarisi defisit kepercayaan dari pemerintahan sebelumnya.
Ketiga, oleh cara kita berkomunikasi. Di era ketika informasi bergerak dalam hitungan detik, komunikasi pemerintah masih sering bergerak dalam hitungan hari, dengan bahasa yang normatif dan defensif. Klarifikasi datang terlambat, data disajikan setengah, dan kritik dibalas dengan pembelaan diri. Di ruang kosong itulah, misinformasi dan asumsi liar mengambil alih. Publik tidak butuh pemerintah yang selalu benar. Publik butuh pemerintah yang mau menjelaskan dengan jujur ketika ada yang salah.
Ini bukan soal pemerintah versus rakyat. Dalam demokrasi, skeptisisme adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh. Publik yang skeptis adalah publik yang masih peduli, yang masih mau mengawasi. Bahayanya bukan pada skeptisisme itu sendiri, melainkan ketika skeptisisme itu berubah menjadi apatisme total — ketika warga sudah tidak lagi percaya bahwa suaranya ada gunanya.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Kepercayaan tidak bisa diminta, ia harus diperoleh. Ia tidak dibangun dengan kampanye public relations, tetapi dengan tiga hal yang membosankan namun fundamental: transparansi yang bisa diverifikasi, konsistensi antara yang diucapkan dan yang dikerjakan, dan keberanian untuk membuka ruang dialog dua arah.
Tampilkan datanya. Buka anggarannya. Jelaskan prosesnya. Jika sebuah kebijakan pahit, katakan pahit, jelaskan mengapa harus ditelan, dan tunjukkan untuk apa.
Karena pada akhirnya, pemerintah bisa membangun jalan tol, bendungan, dan gedung-gedung tinggi. Tetapi tanpa jalan tol kepercayaan yang menghubungkan Istana dengan rumah-rumah warga, semua bangunan itu akan terasa jauh.
Dan kepercayaan, sekali hilang, biayanya jauh lebih mahal daripada APBN mana pun.
#editorial






