Iblis Menggugat Tuhan?

Opini

 

Bacaan Lainnya

Iblis Menggugat Tuhan?*

 

Banyak orang yang bisa bercerita, menulis kata-kata dan bahkan ada yang tidak bisa bercerita dan tidak bisa pula menulis tentang kebahagiaan dunia – akherat, cerita tentang surga – neraka, bisanya hanya marah-marah. Gampang sekali menuduh orang yang berbeda dengan kata “sesat”.

Tapi, ketika aku ingin ikut bercerita dan menulis tentang neraka, surga, pahala serta dosa, rasanya masih malu karena aku masih seperti orang munafik…!!

Di negeri yang ramai doa dan zikir berjamaah tapi miskin logika, yang berpikir agak berbeda sering dikira durhaka?

Manusia menganggap kakek mereka Adam dan anak keturunannya berdosa gara-gara hasutan Iblis, setan, serta para keturunan Iblis? “Kalau begitu atas hasutan siapa aku melakukan dosa?” Tanya Iblis dan keturunannya kepada manusia.

Jika manusia saat terjatuh dalam dosa selalu menuduh karena bujukan Iblis dan keturunannya, lantas siapakah yang membujuk Iblis untuk berbuat dosa?

Apakah dosa lahir dari kebebasan memilih, ataukah dari takdir yang sudah ditentukan?

Mungkin yang paling berbahaya bukanlah hasutan Iblis, melainkan kecenderungan manusia (dan bahkan makhluk yang disebut durhaka) untuk selalu mencari kambing hitam di luar dirinya dengan selalu menyalahkan orang lain.

Manusia masih sering menyalahkan godaan, keadaan, bahkan Tuhan pun masih sering disalahkan oleh manusia, agar terbebas dari beban tanggung jawab.

Padahal inti keberadaan kita justru diuji pada titik itu: sanggupkah kita mengakui bahwa pilihan kita betapapun pahitnya, adalah pilihan sendiri, dan harus siap mempertanggung jawabkannya?

Pada akhirnya, yang membuat manusia jatuh bukan bisikan dari luar, melainkan keputusan di dalam diri. Dosa sejati lahir bukan dari hasutan, melainkan dari keberanian manusia menolak atau menerima kebenaran.

Apakah engkau masih yakin bahwa yang membuatmu salah adalah orang lain, atau masihkan kau menuduh dan memfitnah Iblis terus? Ataukah sebenarnya engkaulah sumber segala dosa itu sendiri?

Mereka para politikus, para penjual ayat-ayat Tuhan dan para penyelenggara Negara berkata, jika kamu melihat seorang budak tidur, jangan bangunkan dia supaya dia cukup bermimpi saja tentang kebebasan, dan saya berkata kepada mereka bahwa jika kamu melihat seorang budak tidur, seharusnya bangunkanlah dan ceritakanlah kepada mereka tentang kebebasan itu bagaimana caranya untuk bisa bebas.

Kemenangan atau keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh jumlah yang besar, melainkan oleh kualitas cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan, yakni ketepatan, kemampuan nyata dan keberanian mengambil resiko.

Pasukan dalam jumlah besar melambangkan kekuatan kuantitas, sedangkan “mereka yg menembak paling baik walaupun hanya berjumlah sedikit” melambangkan keahlian serta efektivitas.

Tuhan atau takdir, keberuntungan, atau hasil akhir, berpihak pada mereka yang benar-benar kompeten dan berani mengambil resiko, bukan sekadar pada mereka yang merasa telah memiliki kekuatan besar, fasilitas lengkap atau yg banyak jumlahnya. Mengikuti cara berpikir yang banyak atau mengikuti kebanyakan pendapat yang banyak, belum tentu itu benar?

Allah SWT berfirman: Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia dibumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. (Al-Quran 6: 116).

Impian tanpa tindakan, apalagi selalu memilih zona nyaman adalah candu yang membuat seseorang merasa produktif meski sebenarnya tidak bergerak.

Keberhasilan yang besar tidak dibangun oleh harapan, melainkan oleh keberanian dan cara berpikir yang berbeda dalam melihat dan menilai sesuatu.

Salam sehat selalu untuk semuanya dimanapun berada.

 

*(Hengki Eral, Pebisnis dan Pemerhati Sosial Budaya, tinggal di Lampung)

Pos terkait