Opini
Ucapan spontan Presiden Prabowo Subianto—“You nggak objektif” (disertai “come on”)—kepada jurnalis Najwa Shihab bukan sekadar respons emosional sesaat. Kalimat itu, yang terekam dalam diskusi panas di Hambalang pada Selasa malam, 17 Maret 2026, membuka kembali perdebatan klasik: bagaimana relasi antara kekuasaan eksekutif dan media berjalan di ruang publik Indonesia.
Pertemuan di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang awalnya dirancang sebagai dialog terbuka lintas jurnalis dan pengamat. Hadir Najwa Shihab (Narasi), Retno Pinasti (SCTV/Indosiar), serta pengamat seperti Hasan Nasbi, Chatib Basri, Rizal Mallarangeng, dan Mardigu Wowiek. Diskusi berlangsung hingga dini hari, mencakup isu geopolitik hingga domestik sensitif seperti demonstrasi, tuduhan makar, dan kekerasan dalam aksi massa.
Momen “You nggak objektif” muncul saat perdebatan memanas mengenai framing demonstrasi (termasuk kerusuhan Agustus lalu). Prabowo menyoroti elemen kekerasan seperti bom Molotov dan pembakaran fasilitas negara yang menurutnya kurang ditekankan, sementara Najwa menekankan kritik publik terhadap pemerintah serta ruang sipil yang menyempit. Ketika Najwa bersikukuh bahwa aspek tersebut sudah banyak diliput, Prabowo bereaksi: “Ada yang ribut soal bom Molotov nggak, come on, nggak objektif.”
Dalam teori hubungan media-kekuasaan, benturan ini mencerminkan dua peran yang kerap bertabrakan:Media sebagai watchdog: Najwa merepresentasikan fungsi pengawasan dengan pertanyaan tajam berbasis isu hak sipil, intimidasi aktivis, dan stabilitas demokrasi.
Kekuasaan sebagai pengelola narasi: Sebagai presiden, Prabowo tidak hanya menjawab, tetapi juga berupaya mempertahankan legitimasi dengan menegaskan versi resmi peristiwa—bahwa demonstrasi bukan semata ekspresi aspirasi, melainkan mengandung unsur makar dan kekerasan.
Kalimat tersebut membawa beberapa lapisan makna:Delegitimasi pertanyaan: Dengan menyerang kredibilitas penanya (“nggak objektif”), fokus bergeser dari substansi ke karakter pewawancara—taktik klasik dalam komunikasi politik defensif.
Spontanitas vs tekanan situasional: Campuran bahasa Inggris-Indonesia (“come on, nggak objektif”) dan nada yang meninggi menunjukkan respons emosional, bukan jawaban ter-skrip. Ini memperlihatkan sisi manusiawi sekaligus kerentanan pemimpin di bawah tekanan pertanyaan beruntun.
Representasi ketegangan struktural: Lebih dari sekadar dua individu, ini mencerminkan gesekan lebih luas antara eksekutif (yang mengklaim mandat rakyat) dan media sipil (yang mengklaim independensi). Kehadiran pengamat yang mencoba meredam justru menegaskan betapa sensitifnya topik tersebut.
Dalam demokrasi yang sehat, ketegangan antara kekuasaan dan media bukan kelainan—melainkan bagian integral dari checks and balances. Yang krusial bukan keberadaan konflik, melainkan cara mengelolanya: apakah melalui argumen data dan transparansi, atau melalui defensif dan framing personal?
Satu kalimat singkat itu—“You nggak objektif”—mengingatkan publik: relasi kuasa dan media tidak pernah statis. Ia terus hidup, terpertonton, dan menuntut kewaspadaan agar ruang dialog tetap terbuka, bukan semakin sempit.
(Red)







