Tiga Kasus Korupsi Dibongkar Polda Lampung, Kerugian Negara Tembus Rp14 Miliar

Tiga Kasus Korupsi Dibongkar Polda Lampung, Kerugian Negara Tembus Rp14 Miliar

Bongkar Post, BANDAR LAMPUNG — Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung kembali mengungkap perkembangan penanganan sejumlah perkara dugaan tindak pidana korupsi di wilayah hukum Polda Lampung.

Bacaan Lainnya

Dalam ekspose perkara, Ditreskrimsus Polda Lampung membeberkan tiga kasus korupsi yang saat ini ditangani penyidik. Dua perkara telah memasuki tahap penyidikan, sementara perkara lainnya tengah dalam proses pemenuhan petunjuk jaksa.

Dari perkara yang telah memiliki hasil audit, potensi kerugian negara yang terungkap mencapai sekitar Rp14,16 miliar.

Tiga perkara tersebut masing-masing berkaitan dengan pengangkatan tenaga kontrak di lingkungan Pemerintah Kota Metro, pembangunan Masjid Agung dan objek wisata religi Kabupaten Mesuji, serta dugaan korupsi fasilitas kredit aparatur desa melalui Bank Lampung.

Pengangkatan Tenaga Kontrak Metro Rugikan Negara Rp7,38 Miliar

Perkara pertama berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan wewenang dalam proses pengangkatan dan penerbitan Surat Keputusan (SK) tenaga kontrak di lingkungan Pemerintah Kota Metro tahun anggaran 2024-2025.

Perkara tersebut ditangani berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/A-39/XII/2025 tertanggal 23 Desember 2025.

Penyidik menetapkan seorang tersangka berinisial W, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala BKPSDM Kota Metro.

Dalam perkara ini, tersangka diduga menandatangani SK pengangkatan tenaga kontrak tanpa adanya usulan dari organisasi perangkat daerah (OPD) atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD), sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Wali Kota Metro Nomor 11 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengangkatan dan Pemberhentian Tenaga Kontrak.

Penyidik telah memeriksa sejumlah saksi dan melakukan penahanan terhadap tersangka.

Berdasarkan laporan hasil audit penghitungan kerugian negara dari BPKP Perwakilan Provinsi Lampung, perkara tersebut menyebabkan kerugian negara sebesar Rp7.387.808.000.

Tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Selain itu, penyidik juga menerapkan ketentuan Pasal 603 atau Pasal 604 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal 18 UU Tipikor.

Penyidik saat ini masih melengkapi berkas perkara sesuai petunjuk jaksa sebelum nantinya dilimpahkan ke tahap II.

 

Pembangunan Masjid Agung Mesuji Masuk Bidikan Penyidik

Kasus kedua berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam pembangunan Masjid Agung dan objek wisata religi Kabupaten Mesuji.

Proyek tersebut menggunakan anggaran APBD dengan pagu mencapai Rp75 miliar.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, penyidik menemukan dugaan penyimpangan dalam sejumlah tahapan pekerjaan, mulai dari proses perencanaan, pemilihan penyedia atau tender, hingga pelaksanaan pembangunan.

Atas temuan tersebut, Ditreskrimsus Polda Lampung menerbitkan Laporan Polisi Model A Nomor LP/A-24/IX/2026 tertanggal 7 September 2026.

Perkara tersebut kini telah ditingkatkan dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan.

Meski demikian, penyidik belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab secara pidana dalam perkara tersebut. Proses pengumpulan alat bukti masih terus dilakukan.

Penyidik juga telah melibatkan ahli konstruksi dari Politeknik Negeri Bandung untuk membantu proses penyidikan.

Selanjutnya, penyidik akan berkoordinasi dengan BPKP terkait penghitungan potensi kerugian negara dalam proyek tersebut.

Perkara ini akan didalami menggunakan Pasal 603 atau Pasal 604 serta ketentuan Pasal 20 huruf a, b, dan c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal 18 Undang-Undang Tipikor.

 

Fasilitas Kredit Aparatur Desa, Negara Rugi Rp6,77 Miliar

Perkara ketiga berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas kredit bagi aparatur desa melalui Bank Lampung.

Dalam perkara ini, penyidik mengungkap adanya kerugian negara sebesar Rp6.774.000.000.

Penanganan perkara tersebut berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/A-30/XI/2025 tertanggal 5 November 2025.

Penyidik telah menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni AS, selaku Account Officer Bank Lampung KCP Krui, serta ES, yang disebut berperan sebagai perantara atau kepala desa di Kabupaten Pesisir Barat.

Penyidik mengungkap peran masing-masing tersangka dalam perkara tersebut.

AS diduga berperan dalam proses pemberian fasilitas kredit. Sementara ES diduga berperan dalam proses pengajuan kredit dengan menggunakan identitas sejumlah debitur.

Dalam proses penyidikan, polisi telah memeriksa sejumlah saksi serta meminta keterangan dari tiga ahli, yakni ahli keuangan negara, ahli hukum pidana, dan ahli dari BPKP.

Berkas perkara saat ini telah dilengkapi berdasarkan petunjuk jaksa dan penyidik tengah mempersiapkan proses selanjutnya untuk pelimpahan tahap II ke kejaksaan.

 

Polda Lampung Tegaskan Komitmen Berantas Korupsi

Ditreskrimsus Polda Lampung menegaskan penanganan tiga perkara tersebut merupakan bagian dari komitmen kepolisian dalam melakukan penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi di wilayah Lampung.

Penyidik memastikan proses terhadap masing-masing perkara akan terus dilakukan berdasarkan alat bukti dan ketentuan hukum yang berlaku.

Polda Lampung juga mengajak masyarakat berperan aktif memberikan informasi apabila menemukan dugaan penyimpangan yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.

Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu aparat penegak hukum mengungkap dugaan penyimpangan yang berpotensi merugikan keuangan negara.

Dengan tiga perkara tersebut, Ditreskrimsus Polda Lampung masih terus melakukan pendalaman, melengkapi alat bukti, serta mempercepat proses penyelesaian perkara untuk selanjutnya dilimpahkan ke kejaksaan sesuai tahapan hukum yang berlaku.(Diki)

Pos terkait