Artikel
Surah al Mulk: Rububiyyah; Pemeliharaan, Pengendalian, dan Pengaturan Allah SWT
Oleh: Arsiya Heni Puspita
(Jurnalis dan Penulis)
Surah ini dinamakan al Mulk artinya Kerajaan yang diambil dari ayat pertama. Nama lainnya, surah Tabaaraka alladzi biyadihi al-Mulk, dalm bentuk satu kalimat dari ayat pertama. Kemudian, surah Tabaaraka al-Mulk, surah al-Munijiyah/Penyelamat, surah al-Mani’ah/Penghalang. Nama yang popular dalah surah Tabaraka atau surah al-Mulk.
Surah ini merupakan surah ke-67 dalam al-Qur’an terdiri dari 30 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rosulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rosulullah belum hijrah ke Madinah.
Surah ini adalah surah yang ke-76 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam al-Qur’an. Dia turun sebelum surah al-Haqqoh dan sesudah surah al-Mu’minun.
Tujuan utama surah ini adalah menciptakan pandangan baru bagi masyarakat muslim tentang wujud dan hubungan dengan Allah swt. Gambaran menyeluruh semua ciptaan-Nya baik dunia maupun akhirat dengan segala isi dan kejadiannya,
Lainnya, penjelasan tentang segala sesuatu oleh rububiyyah (pemeliharaan, pengendalian, dan pengaturan) Allah swt. Kemudian, tujuan utama berikutnya adalah ketundukan mutlak kepada Allah yang Maha Sempurna kekuasaan-Nya. Demikian tafsir al-Misbah.
Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.
Terjemahan QS. al Mulk (Kerajaan) 67:1
“Maha Melimpah Kebajikan Dia yang ditangan-Nya segala kerajaan dan Dia atas segala sesuatu,
Maha Kuasa”.
Tafsir QS. al Mulk (Kerajaan) 67:1
Maha Melimpah Kebajikan Maha mantap dan langgeng wujud Allah swt Dia yang ditangan-Nya sendiri segala kerajaan, kekuasaan dan pengendalian segala urusan, dan Dia sendiri tidak ada selain-Nya atas segala sesuatu tanpa kecuali Maha Kuasa.
Kata tabaraka dari kata baraka berarti mantap, langgeng, juga berarti Kebajikan yang banyak dan bersinambung. Dari kata itu lahir kata berkah. Ulama mengartikannya Maha Suci serupa dengan kata subhana padahal seharunya ia berbeda.
Arti baraka lainnya, penggabungan dua makna diatas menjadi Maha Besar, Maha Suci, Maha Tinggi, Maha Agung, mantap disertai dengan kebajikan, keberkahan kelangsungan limpahan karunia-Nya.
Selanjutnya, kata biyadihi dari kata yad berarti tangan, bila dinisbahkan pada Allah swt bermakna kekuasaan atau nikmat. Artinya, cakupan kekuasaan-Nya dan pengendalian-Nya atas segala sesuatu karena tangan dalam penggunaan manusia digunakan untuk mengelola dan mengendalikan sesuatu yang digenggam.
Allah swt yang di tangan-Nya kekuasaan, bahwa Dialah yang menganugerahkan kekuasaan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula mencabut-Nya. (QS. al-Furqon {3}: 26.
Allah swt menutup firman-Nya dengan, Dia atas segala sesuatu, Maha Kuasa, Allah swt tidak hanya kuasa dan mengendalikan apa yang berkaitan dengan kekuasan tetapi mengenai segala sesuatu tanpa kecuali.
Yaa Robbana, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang kami tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menaruh belas kasihan kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. Ampunilah dan belaskasihanilah kami. Kabulkanlah permohonan kami.
Maha benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.







