Surah al-Muddatstsir: Perintah kepada Nabi Muhammad SAW: Kebangkitan Sempurna, Penuh Semangat, dan Percaya Diri Berjuang Menghadapi Kaum Musyrikin

 

 

Bacaan Lainnya

Surah al-Muddatstsir: Perintah kepada Nabi Muhammad SAW: Kebangkitan Sempurna, Penuh Semangat, dan Percaya Diri Berjuang Menghadapi Kaum Musyrikin

Oleh: Arsiya Heni Puspita

(Jurnalis dan Penulis)

 

Surah ini dinamakan al-Muddatstsir artinya Orang yang Berselimut. Kata tersebut diambil dari ayat pertama surah ini.

Antara al-Mudatstsir dan al-Muzzammil tidak dapat dipastikan mana yang terdahulu dan mana yang kemudian. Kisah turunnya sangat mirip, ayat awalnya pun berbicara hal yang sama yaitu pembinaan terhadap diri Rasulullah dalam rangka mengahadapi tugas penyebaran agama.

Surah ini merupakan surah ke-74 dalam al-Qur’an terdiri dari 56 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rosulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rosulullah belum hijrah ke Madinah.

Tujuan dan tema utama surah ini adalah gambaran tentang bersungguh-sungguh dalam usaha memberi peringatan terhadap orang yang angkuh dan membuktikan keniscayaan hari Kebangkitan, balasan dan ganjaran yang akan diperoleh. Demikian tafsir al-Misbah.

Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.

Terjemahan QS. al-Muddatstsir (Orang yang Berselimut) 74: 1 – 4

“Hai yang berselimut (1). Bangkitlah, lalu berilah peringatan (2). Dan Tuhanmu, agungkanlah (3) Dan pakaianmu, bersihkanlah”. (4)

Tafsir QS. al-Muddatstsir (Orang yang Berselimut) 74: 1 – 4

Tafsir ayat 1 – 2, awal surah ini dimulai dengan perintah untuk menyampaikan peringatan dengan firman-Nya “Hai yang berselimut yaitu Nabi Muhammad saw. Bangkitlah, dengan sempurna dan giat lalu berilah peringatan mereka yang lengah dan melupakan Allah swt.

Kata al-mudatstsir dari kata iddatsara artinya mengenakan sejenis kain yang diletakkan diatas baju yang dipakai dengan tujuan menghangatkan atau dipakai saat berbaring tidur atau selimut. Disepakati oleh ulama tafsir yang berselimut adalah Nabi Muhammad saw.

Kata qum dari kata qowama diartikan melaksanakan sesuatu secara sempurna dalam berbagai seginya. Perintah ini menuntut kebangkitan yang sempurna, penuh semangat, dan percaya diri sehingga yang diseru (Rasulullah) harus membuka selimut dan menyingsigkan lengan baju untuk berjuang menghadapi kaum musyrikin.

Kemudian, tafsir ayat 3, memberi peringatan dapat mengakibatkan kebencian dan gangguan dari yang diperingati, maka bersamaan dengan itu hanya Tuhan Pemelihara dan Pendidikmu saja, apapun yang terjadi maka agungkanlah!

Takbir atau mengagungkan ada dua hal yang dicapai, pertama, penyataan yang keluar menyangkut sikap batin. Kedua, mengatur sikap lahir sehingga setiap langkah berada dalam kerangka kalimat tersebut.

Terakhir, ayat 4, dan pakaianmu, bagaimanapun keadaanmu maka bersihkanlah. Kata tsiyab jamak dari tsaub / pakaian dengan makna majas yaitu hati, jiwa, usaha, badan, budi pekerti keluarga, dan istri.

Kata thahhir bentuk perintah dari kata thahhara artinya membersihkan dari kotoran, arti majasnya mensucikan diri dari dosa atau pelanggaran. Hal ini terdapat empat pendapat pertama, mensucikan hati jiwa, usaha, badan, budi pekerti keluarga, dan istri.

Kedua, membersihkan pakaian dari segala macam kotoran hingga nyaman dipakai dan dipandang. Lalu, ketiga, bersihkan jiwamu dari kotoran. Terakhir, keempat, mensucikan pakaian yang dipakai secara halal sesuai aturan-Nya.

Pakaian yang paling disukai dan paling sering dipakai Rasulullah adalah warna putih karena warna tersebut menagkal panas dan kesenangan pemakainya akan kebersihan.

Yaa Allah, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir. Kabulkanlah permohonan kami.

Maha benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.

Pos terkait