Surah al-Kafirun: Nabi Muhammad SAW Menolak Penyatuan Agama Islam dengan Agama Lain

 

 

Bacaan Lainnya

Surah al-Kafirun: Nabi Muhammad SAW Menolak Penyatuan Agama Islam dengan Agama Lain

Oleh: Arsiya Heni Puspita

(Jurnalis dan Penulis)

 

Surah ini dinamakan al-Kafirun artinya Orang-orang kafir. Kata tersebut diambil dari ayat pertama surah ini. Nama lainnya, surah al-‘Ibadah, surah ad-Din dan surah al-Muqasyqisyah (penyembuh) yaitu kandungannya menyembuhkan dan menghilangkan penyakit kemusyrikan.

Surah ini merupakan surah ke-109 dalam al-Qur’an terdiri dari 6 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rasulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rasulullah belum hijrah ke Madinah.

Surah ini adalah surah yang ke-19 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam al-Qur’an. Dia turun sebelum surah al-Ma’un dan sesudah surah aal-Fil.

Tema utama adalah uraian tentang penolakan usul kaum musyrikin untuk penyatuan ajaran agama dalam rangka mencapai kompromi sambil mengajak agar masing-masing melaksanakan ajaran agama dan kepercayaannya tanpa saling mengganggu.

Riwayat sebab turunnya surah ini, beberapa tokoh musyrikin di Mekkah seperti al-Walid lbn al-Mughirah, Aswad lbn Abdul Muthalib, Umayyah lbn Khalaf datang kepada Rasulullah menawarkan kompromi tentang pelaksanaan tuntunan agama atau kepercayaan.

Usul mereka, agar Rasulullah bersama umatnya mengikuti kepercayaan mereka dan merekapun akan mengikuti ajaran lslam. “Kami menyembah Tuhanmu, hai Muhammad setahun, kamu juga menyembah Tuhan kami setahun.

Kalau agamamu benar, kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar, kamu juga tentu memperoleh keuntungan”. Nabi Muhammmad saw menjawab dengan tegas, “Aku berlindung kepada Allah dari tergolong orang yang mempersekutukan-Nya”.

Usul ini ditolak oleh Rasulullah karena tidak mungkin dan tidak logis terjadi penyatuan agama-agama. Setiap agama berbeda dengan agama lain, juga ajaran pokok dan rinciannya, maka tidak mungkin perbedaan digabungkan dalam jiwa seseorang yang tulus terhadap agama dan keyakinannya.

Masing-masing penganut agama harus yakin sepenuhnya dengan ajaran agama dan kepercayaannya. Selama mereka yakin mustahil mereka akan membenarkan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan kepercayannya.

Sikap Rasulullah menolak ajakan musyrikin diperkuat oleh Allah swt dengan turunnya surah ini. Demikian tafsir al-Misbah.

Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.

Terjemahan QS. al-Kafirun (Orang-orang kafir) 109: 1-2 “Katakanlah! Wahai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang sedang kamu sembah”.

Tafsir QS. al-Kafirun (Orang-orang kafir) 109: 1-2. Katakanlah hai Nabi Muhammad saw kepada tokoh-tokoh musyrikin yang telah mandarah daging kekufuran dalam jiwa mereka. Wahai orang-orang kafir yang menolak keesaan Allah swt dan mengingkari kerasulanku. Aku sekarang hingga masa datang tidak akan menyembah apa yang sedang kamu sembah.

Kata qul/katakanlah menunjukkan bahwa Rasulullah tidak mengurangi sedikitpun wahyu yang ia terima. Islam memperkenalkan dua macam ajaran, pertama, nazhari (teoritis) yang berkaitan dengan benak dan jiwa sehingga ajaran agama harus dipahami dan diyakini, ajaran bersifat ke dalam bukan keluar.

Apabila sumber dan interprestasi dipastikan kebenarannya makai ia dinamai ‘aqidah yaitu sesuatu yang pasti tidak mengandung interprestasi lain. Kedua, amali yang berkaitan dengan pengamalan dalam dunia nyata yang disebut syari’ah.

Kata ak-kafirun dari kata kafara berarti menutup. Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk berbagai makna sesuai dengan kalimat dan konteksnya. Pertama, mengingkari keesaan Allah swt dan kerasulan Muhammad saw pada QS. Saba’ (34): 3. Kedua, tidak mensyukuri nikmat Allah swt pada QS. Ibrahim (14): 7.

Ketiga, tidak mengamalkan tuntunan Ilahi walau mempercayainya pada QS al-Baqarah (2): 85. Secara umum artinya menunjuk kepada sekian banyak yang bertentangan dengan tujuan kehadiran tuntunan agama Islam.

Kata a’budu merupakan bentuk kata kerja masa kini dan yang akan datang artinya pekerjaan yang dilakukan saat ini, masa datang dan terus-menerus serta sepanjang masa tidak akan menyembah, tunduk, dan taat kepada selain Allah swt.

Ya Robbanaa, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Kabulkanlah permohonan kami.

Maha Benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.

Pos terkait