Surah al-Falaq: Memohon Perlindungan Hanya Kepada Allah SWT Dalam Menghadapi Aneka Kejahatan
Oleh: Arsiya Heni Puspita
(Jurnalis dan Penulis)
Surah ini dinamakan al-Falaq artinya Yang terbelah, yang diambil dari ayat pertama. Nama lainnya, surah Qul A’udzu bi Rabb al-Falaq. Surah ini bersama surah an-Nas dinamai surah al-Mu’awwidzatain. Nama tersebut dari kata kedua surah ini ‘A’udzu artinya aku berlindung.
Sehingga al-Mu’awwidzatain berarti dua surah yang menuntun pembacanya kepada tempat perlindungan. Ulama menamai surah ini surah al-Mu’awwidzah al-‘Ula (yang pertama) dan surah an-Nas dengan surah al-Mu’awwidzah ats-Tsaniyah (yang kedua).
Kedua surah ini juga dinamai surah al-Muqasyqisyatain berarti yang membebaskan manusia dari kemunafikan.
Sebab turunnya surah ini, kaum musyrikin Mekah berusaha mencederai Rasulullah dengan cara ‘ain (mata) yaitu pandangan mata yang merusak. Surah ini merupakan penangkalnya.
Surah ini merupakan surah ke-113 dalam al-Qur’an terdiri dari 5 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rasulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rasulullah belum hijrah ke Madinah.
Surah ini adalah surah yang ke-20 atau 21 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam al-Qur’an.
Tema utama tentang pengajaran untuk menyandarkan diri dan memohon perlindungan hanya kepada Allah swt dalam menghadapi aneka kejahatan.
Sayyidatina ‘Aisyah ra, istri Rasulullah berkata: “Rasul meniupkan untuk dirinya al-Mu’awwidzatain saat menderita sakit menjelang wafatnya, dan ketika keadaannya sudah amat parah aku membaca untuknya dan mengusapkan dengan tangannya kiranya memperoleh berkah dengan surah ini”. (HR. Bukhari dan Muslim). Demikian tafsir al-Misbah.
Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.
Terjemahan QS. al-Falaq (Yang terbelah) 113: 1, “Katakanlah! Aku berlindung dengan Tuhan segala yang terbelah”.
Tafsir QS. al-Falaq (Yang terbelah) 113: 1.
Allah swt memulai kitab-Nya dengan menyebut hidayah-Nya dan mengajarkan untuk memohon hanya kepada-Nya pada surah al-Fatihah, Ihdina ash-Shirath al-Mustaqim dan firmannya pada awal surah al-Baqarah, Hudalil Muttaqin.
Ini merupakan awal peringkat perjalanan menuju Allah swt, kemudian di akhiri-Nya dengan menegaskan persoalan Tauhid dalam bentuk yang sangat jelas juga menetapkan perlunya keikhlasan dalam bentuk yang sangat sempurna pada awal surah al-Ikhlash dengan kata qul.
Ini adalah puncak maqamat dikalangan orang-orang ‘Arif maka sempurna dan berakhir perjalanan para pejalan menuju Allah swt. Ditutup surah al-Ikhlash dengan menyatakan, tiada yang serupa dengan Allah swt.
Hal ini mengantarkan seseorang untuk mengarah dan konsentrasi penuh kepada-Nya. Dari sini Allah swt memerintahkan untuk memohon perlindungan dari segala macam kejahatan dan keburukan lahir dan batin.
Katakanlah wahai Rasulullah kepada siapapun yang dapat menangkap ucapan, katakanlah sebagai pengajaran dan perintah bahwa aku berlindung dengan Tuhan Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu yang terbelah dengan mewujudkannya dari kegelapan ketiadaan. Kata al-falaq dari kata falaqa artinya membelah, pembelah (subjek), dan yang dibelah (objek).
Ya Allah, ampunilah kami, ibu bapak kami, orang yang masuk ke rumah kami dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan. Kabulkanlah permohonan kami.
Maha Benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.







