Surah al-‘Ashr: Janganlah Mencerca Waktu, Allah SWT adalah Pemilik Waktu

 

 

Bacaan Lainnya

Surah al-‘Ashr: Janganlah Mencerca Waktu, Allah SWT adalah Pemilik Waktu

Oleh: Arsiya Heni Puspita

(Jurnalis dan Penulis)

 

Surah ini dinamakan al-‘Ashr artinya Masa. Kata tersebut diambil dari ayat pertama surah ini. Surah ini merupakan surah ke-103 dalam al-Qur’an terdiri dari 3 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rasulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rasulullah belum hijrah ke Madinah.

Surah ini adalah surah yang ke-13 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam al-Qur’an. Dia turun sesudah surah Alam Nasyrah dan sebelum surah al-‘Adiyat.

Tema utama adalah uraian tentang pentingnya memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan aktifitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, jika tidak, maka kerugian dan kecelakaan bagi mereka. Demikian tafsir al-Misbah.

Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.

Terjemahan QS. al-‘Ashr (Masa) 103: 1 – 2. “Wal-‘Ashr, sesungguhnya manusia di dalam kerugian”.

Tafsir QS. QS. al-‘Ashr (Masa) 103: 1 – 2

Pada surah ini Allah swt memperingatkan tentang pentingnya waktu dan bagaimana seharusnya mengisi waktu itu dengan perbuatan baik. Wal-‘Ashr, sesungguhnya semua manusia yang mukallaf di wadah dalam kerugian dan kebinasaan yang besar dan beragam.

Kata al-‘ashr dari kata ‘ashara yaitu menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam nampak ke permukaan atau keluar (memeras). Angin yang tekanananya sedemikian keras sehingga memporak-porandakan segala sesuatu dinamakan i’shar/waktu.

Takkala perjalanan matahari telah melampaui pertengahan dan menuju terbenan dinamai ‘ashr/asar karena manusia memeras tenaganya sejak pagi diharapkan telah membuahkan hasil dari usahanya.

Awan yang mengandung butiran air kemudian berhimpun karena beratnya kemudian mencurahkan hujan dinamai al-mu’shirat.

Para ulama sepakat mengartikan kata al-‘ashr pada ayat pertama surah ini dengan waktu. Waktu atau masa, dimana langkah dan gerak padanya. Waktu shalat ‘ashar telah tiba. Selanjutnya, masa kehadiran Nabi Muhammad saw dalam pentas dunia.

Menurut Syeikh Muhammad ‘Abduh, telah menjadi kebiasaan orang Arab pada masa turunnya al-Qur’an berkumpul dan berbincang-bincang membicarakan banyak hal yang melontarkan waktu dan masa setelah ‘ashar atau menjelang matahari terbenam setelah mereka mengetahui hasil usahanya. Waktu sial saat gagal, waktu baik saat berhasil.

Allah swt bersumpah demi waktu untuk membantah anggapan mereka. Tidak ada waktu sial dan waktu mujur, semua waktu sama. Yang berpengaruha adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang dan inilah yang berperan kepada baik kesudahan suatu pekerjaan.

Waktu selalu bersifat netral. Waktu adalah milik Allah swt, didalamnya Ia melaksanakan segala perbuatan-Nya, mencipta, memberi rezeki, memuliakan dan menghinakan. Janganlah mencerca waktu, Allah swt adalah pemilik waktu.

Pada surah ini Allah swt bersumpah demi waktu menggunakan kata ‘ashr menyatakan, demi masa (waktu) di saat manusia mencapai hasil setelah memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi, apapun hasilnya kecuali jika ia beriman dan beramal shaleh.

Kerugian tersebut tidak dirasakan pada waktu dini tetapi akan disadarinya pada waktu ‘ashar kehidupannua menjelang matahari hayatnya terbenam. Waktu adalah modal utama manusia, apabila tidak diisi dengan kegiatan positif, makai a akan berlalu begitu saja, ia akan hilang, tiada keuntungan modalpun hilang.

Sayyidina Ali ra: “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh besok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali besok”.

“Dua nikmat yang sering dilupakan dan disia-siakan banyak manusia adalah kesehatan dan waktu”. (HR Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Yaa Allah, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Kabulkanlah permohonan kami.

Maha Benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.

Pos terkait