Di Balik Label “Negara Paling Malas Jalan Kaki”: Fakta, Gaya Hidup, dan Tantangan Kota Modern

Opini

 

Bacaan Lainnya

 

Di Balik Label “Negara Paling Malas Jalan Kaki”: Fakta, Gaya Hidup, dan Tantangan Kota Modern

 

Oleh: Rusmin

 

Pagi di kota-kota besar sering dimulai dengan deru mesin, bukan langkah kaki. Di trotoar, yang berjalan kaki justru terasa “minoritas”. Sebuah data yang beredar—bersumber dari Stanford University—menyebut rata-rata langkah harian masyarakat Indonesia hanya sekitar 3.531 langkah. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam daftar “negara paling malas jalan kaki”.

 

Namun, benarkah sesederhana itu?

Kota yang Tak Ramah Pejalan Kaki

Di banyak sudut Indonesia, berjalan kaki bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan soal keberanian. Trotoar kerap sempit, berlubang, bahkan beralih fungsi menjadi tempat parkir atau lapak pedagang. Cuaca panas dan kelembapan tinggi menambah alasan orang memilih kendaraan.

Bandingkan dengan kota-kota di Yunani atau Brasil yang juga masuk daftar, tetapi memiliki ruang publik yang relatif lebih mendukung aktivitas berjalan kaki. Meski angka langkah harian mereka tak jauh berbeda, konteksnya jelas berbeda.

 

Gaya Hidup Serba Instan

Aplikasi transportasi online, layanan antar makanan, hingga budaya “serba cepat” membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Di Arab Saudi dan Qatar—yang juga masuk daftar—ketergantungan pada kendaraan pribadi sudah menjadi bagian dari keseharian.

Fenomena serupa merambah Malaysia dan Filipina, dimana urbanisasi cepat tidak selalu diiringi perencanaan kota yang ramah pejalan kaki.

 

Bukan Sekadar “Malas”

Label “malas” terasa terlalu menyederhanakan. Banyak faktor memengaruhi rendahnya aktivitas berjalan kaki:

Infrastruktur yang belum memadai

Pola kerja yang menuntut mobilitas cepat

Faktor keamanan dan kenyamanan

Kebiasaan sosial dan budaya

Di India dan Mesir, misalnya, kepadatan penduduk dan lalu lintas padat juga membuat berjalan kaki menjadi kurang nyaman.

 

Dampak yang Tak Terlihat

Kurangnya aktivitas fisik berisiko meningkatkan berbagai masalah kesehatan, dari obesitas hingga penyakit jantung. Padahal, berjalan kaki adalah olahraga paling sederhana—tanpa biaya, tanpa alat, dan bisa dilakukan siapa saja.

 

Harapan di Ujung Trotoar

Sejumlah kota mulai berbenah: memperlebar trotoar, menambah ruang hijau, hingga mengembangkan transportasi publik terintegrasi. Perubahan kecil seperti jalur pedestrian yang nyaman bisa berdampak besar pada kebiasaan masyarakat.

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar “malas atau tidak”. Ini tentang bagaimana kota dirancang, bagaimana masyarakat hidup, dan bagaimana pilihan sehari-hari terbentuk.

Mungkin, langkah pertama bukan soal berjalan lebih jauh—melainkan menciptakan ruang yang membuat orang ingin melangkah.(*)

Pos terkait