Selamat Hari Pers Nasional: Saatnya Pers Memilih, Menjadi Pengawas Kekuasaan atau Sekadar Humas Berkedok Jurnalisme

Opini

 

Bacaan Lainnya

 

Selamat Hari Pers Nasional: Saatnya Pers Memilih, Menjadi Pengawas Kekuasaan atau Sekadar Humas Berkedok Jurnalisme

 

Selamat Hari Pers Nasional

Ucapan ini seharusnya menjadi perayaan kemerdekaan berpikir, keberanian menyuarakan kebenaran, dan keteguhan menjaga kepentingan publik. Namun di tengah euforia seremoni tahunan, ada pertanyaan yang terasa semakin nyaring: masihkah pers berdiri sebagai penjaga demokrasi, atau sudah berubah menjadi etalase promosi kekuasaan?

Hari ini, publik menyaksikan fenomena yang sulit disangkal. Media tumbuh di mana-mana, tetapi keberanian jurnalistik justru terasa semakin langka. Yang menjamur bukan lagi investigasi, melainkan publikasi seremonial. Yang berlimpah bukan pengawasan, melainkan pujian berulang.

Pers perlahan bergeser. Dari pilar demokrasi, menjadi pengeras suara kekuasaan.

 

Media Partisan: Wajah Baru Propaganda Modern

Di era digital, mendirikan media menjadi jauh lebih mudah. Tetapi kemudahan itu juga melahirkan ironi. Banyak media lahir bukan untuk melayani publik, melainkan untuk melayani sponsor politik dan kepentingan modal.

Berita disusun bukan berdasarkan kepentingan rakyat, melainkan berdasarkan siapa yang membayar ruang redaksi.

Narasi disaring, kritik dipangkas, dan fakta yang berpotensi merusak citra kekuasaan sering kali disimpan rapat-rapat.

Media partisan hari ini tidak lagi sekadar bias. Ia bekerja sistematis membangun persepsi publik. Ia membentuk realitas versi pesanan.

Publik diajak percaya bahwa semuanya berjalan baik, bahkan ketika kenyataan di lapangan justru berteriak sebaliknya.

 

Pers Kehilangan Taring, Kekuasaan Kehilangan Kontrol

Sejarah selalu menunjukkan satu pola yang sama: kekuasaan tanpa pengawasan akan bergerak liar. Pers adalah rem darurat dalam sistem demokrasi. Ketika rem itu rusak, negara hanya menunggu waktu menuju kecelakaan.

Hari ini, sebagian media justru memilih duduk nyaman di kursi kekuasaan. Kedekatan dengan pejabat dianggap prestasi. Kontrak kerja sama diperlakukan sebagai keberhasilan bisnis.

Sementara itu, rakyat kehilangan sekutu yang seharusnya membela kepentingannya.

Pers tidak lagi berdiri di depan rakyat. Ia berdiri di belakang kekuasaan.

 

Industri Pencitraan Menggerus Nurani Jurnalistik

Yang lebih memprihatinkan, batas antara jurnalisme dan promosi kini semakin kabur. Produk jurnalistik bercampur dengan konten pesanan. Rilis resmi pemerintah berubah menjadi berita utuh tanpa verifikasi kritis.

 

Pers tidak lagi bertanya. Pers hanya menyalin

Fenomena ini bukan sekadar degradasi profesionalisme. Ini adalah pengkhianatan terhadap fungsi dasar pers sebagai penyampai kebenaran.

Ketika media sibuk memoles citra pejabat, siapa yang mengawasi kebijakan yang merugikan rakyat?

Ketika pers memilih diam, siapa yang menyuarakan ketidakadilan?

 

Bahaya yang Tidak Terlihat, Tapi Mematikan Demokrasi

Demokrasi tidak mati karena kudeta. Demokrasi sering mati karena publik tidak lagi mendapatkan informasi yang jujur.

Ketika media dikendalikan kepentingan, masyarakat kehilangan kemampuan menilai realitas secara objektif. Persepsi publik dibentuk, diarahkan, bahkan dimanipulasi secara halus namun sistematis.

Di titik inilah negara memasuki fase paling berbahaya: ketika rakyat percaya mereka hidup dalam sistem demokrasi, padahal ruang kontrol publik sudah dikunci rapat.

 

Hari Pers Nasional Bukan Sekadar Seremoni

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar panggung penghargaan dan pidato formal. Pers harus berani bercermin.

Masihkah jurnalisme berdiri untuk publik?

Ataukah sudah larut dalam kenyamanan kekuasaan?

Pers tidak ditakdirkan menjadi sahabat penguasa. Pers dilahirkan untuk mengawasi penguasa.

Jika pers kehilangan keberanian, maka demokrasi kehilangan penjaganya.

Jika pers kehilangan independensi, maka negara kehilangan kompas moralnya.

 

Pers Sedang Menentukan Nasib Negara

Hari ini, pers berada di persimpangan sejarah. Memilih tetap kritis dengan segala risiko, atau memilih aman dalam pelukan kekuasaan.

Tidak ada posisi netral dalam jurnalisme. Diam terhadap ketidakadilan adalah bentuk keberpihakan.

 

Selamat Hari Pers Nasional

Semoga pers masih ingat, bahwa kebebasan yang dimilikinya bukan hadiah dari kekuasaan, melainkan amanah dari rakyat.

Dan sejarah selalu mencatat dengan jujur: pers yang berani akan dikenang sebagai penjaga demokrasi, sementara pers yang tunduk hanya akan menjadi catatan kaki dalam runtuhnya kepercayaan publik.

 

Selamat Hari Pers Nasional 

(*)

Pos terkait