Prof. Sukir Maryanto: Pedagang Dawet di Kota Batu yang Kini Jadi Guru Besar Bidang Gunung Api di Universitas Brawijaya Malang

Prof. Sukir Maryanto: Pedagang Dawet di Kota Batu yang Kini Jadi Guru Besar Bidang
Gunung Api di Universitas Brawijaya Malang

Oleh : ILHAM DARY ATHALLAH

Bacaan Lainnya

MALANG JAWA TIMUR (03/08) – Pantang menyerah adalah prinsip yang selalu dipegang
teguh oleh Prof. Sukir Maryanto, SSi, MSi, PhD. Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 21 Juni
1971, perjalanan hidupnya penuh dengan tantangan. Namun, berkat semangatnya yang tak
kenal lelah, ia berhasil mencapai puncak karier akademis sebagai Guru Besar di bidang
Gunung Api (Vulkanologi) dan Panas Bumi (Geothermal) di Universitas Brawijaya (UB).
Kecintaannya terhadap ilmu Fisika telah tumbuh sejak muda, dan ketertarikannya pada
vulkanologi muncul dari keinginan untuk berkontribusi dalam bidang yang jarang diminati.
“Sebanyak 13 persen gunung api di dunia, ada di Indonesia. Jadi menurut saya, gunung api itu
harus dipelajari, karena selain ada potensi bahaya, ada pula potensi energinya,” ujar Prof. Sukir
dengan penuh semangat dalam Webinar SEVIMA, Selasa (03/09). Bagi Sukir, mempelajari
gunung api bukan sekadar ilmu, melainkan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan
lingkungan.
Namun, perjalanan menuju gelar profesor tidaklah mudah. Sukir harus menghadapi banyak
rintangan, termasuk kesulitan ekonomi yang hampir membuatnya putus asa. Sejak kecil, putra
pasangan Sastrodiharjo dan Santinah ini telah terbiasa bekerja keras membantu keluarganya
berjualan berbagai jenis makanan. “Sebelum sekolah, saya harus bangun untuk sholat subuh
dan merapikan kantin, sempat juga saya berjualan makanan di bawah pohon, di rumah sakit.
Saya ikut mengerjakan apa saja, tidak pilih-pilih,” kenangnya.
Ketika keluarganya mengikuti program transmigrasi ke Jambi Pulau Sumatera, Sukir, yang
masih kecil, memilih menetap di Sukoharjo bersama budenya. Namun, ketika orang tuanya
jatuh sakit, ia memutuskan untuk bergabung dengan mereka di Jambi. Perjalanan panjang dan
melelahkan itu dilalui dengan tiga hari perjalanan naik bis seorang diri dan membawa satu dus
penuh buku, satu-satunya harta berharga yang ia miliki. Di Jambi, ia tetap gigih belajar meski
harus bekerja di ladang dan toko kelontong, hingga akhirnya berhasil melanjutkan sekolah SD
dan SMP yang berjarak puluhan kilometer dari rumah keluarganya di daerah transmigrasi.

Mulai Berdagang Dawet Ketika Sekolah di SMA PGRI Batu Malang

Ketika memasuki SMA, Sukir merantau ke Batu Malang dan bekerja menjual dawet untuk
membiayai sekolahnya. Ia memilih Batu Malang karena pendidikan di Kota Apel ini menurutnya
lebih baik dibanding di daerah transmigrasi. Sukir akhirnya bersekolah di SMA PGRI Batu
Malang. Di sana, kepintarannya dalam Fisika mulai bersinar, membawa tim sekolahnya meraih
kemenangan dalam lomba cerdas cermat, mengalahkan sekolah-sekolah negeri ternama pada
saat itu.
Setelah lulus SMA, Sukir sempat merantau ke Jakarta untuk mencari beasiswa. Meskipun gagal
dalam seleksi akhir beasiswa, ia tidak patah semangat. Sukir bekerja keras sebagai operator
mesin pemintal benang selama satu tahun, sebelum akhirnya diterima di Jurusan Fisika.

Universitas Brawijaya. Semasa kuliah, ia juga tetap berdagang, mengumpulkan pundi-pundi
rupiah, serta mempertebal tekad untuk terus belajar dan mengubah nasib. “Saya sempat cuti
kuliah selama satu tahun untuk bertemu dengan keluarga dan menabung,” kenang Sukir.
Kegigihannya membuahkan hasil, dan ia berhasil meraih gelar sarjana, lalu melanjutkan
pendidikan hingga jenjang S3 dengan beasiswa. Semua studinya berpusat pada Gunung Api,
seiring dengan kehidupan sehari-harinya di Batu Malang yang memang dekat dengan salah
satu Gunung Api terbesar di Jawa, yaitu Gunung Semeru. “Indonesia ini dekat dengan gunung
api, tapi justru belum banyak orang belajar tentang gunung api. Di jurusan saya, Fisika, juga
gunung api waktu itu masih sedikit peminatnya,” ungkap Sukir.
Ketekunan meneliti gunung api membawa karir akademis Prof. Sukir semakin gemilang. Ia
terlibat dalam berbagai penelitian di dalam dan luar negeri, termasuk proyek GFZ Jerman,
Pennsylvania University, MBKM Semeru, serta mengajar mitigasi bencana ke seluruh lapisan
masyarakat Indonesia di berbagai kesempatan, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.
Dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan membawanya menjadi salah satu peneliti terkemuka di
bidang vulkanologi dan geothermal, memberikan kontribusi besar bagi mitigasi bencana alam di
Indonesia. “Dari hasil hibah dan penelitian tersebut, saya juga bisa membantu pendidikan dan
memberikan beasiswa kepada ratusan anak sepanjang karir saya, untuk studi S1, S2, bahkan
S3, yang berminat di bidang kegunungapian dan bergabung di laboratorium saya di Universitas
Brawijaya,” ungkapnya.
Disamping kesibukannya meneliti tentang gunung api, berdagang di Batu Malang tetap ia lakoni
hingga kini. Namun Sukir tak lagi berjualan dawet. Warung Bu Sukir, yang dikelola istri,
menjajakan soto seger dan berbagai jajanan pasar di tengah sejuknya Kota Batu.
Warung ini berlokasi tak jauh dari Stadion Kota Batu, dan menjadi salah satu destinasi yang
banyak dikunjungi warga untuk menikmati kuliner. Bangunan warung ini juga terdiri atas
beberapa tingkat, dan memiliki pemandangan indah. “Kalau pagi, warung ini rame sekali karena
banyak jajanan pasar yang digemari warga sekitar dan harganya terjangkau,” lanjut Sukir.
Atas pengalamannya tersebut, Sukir mengajak generasi muda adalah untuk tidak pernah patah
semangat dalam mengejar mimpi. “Selama masih dalam jalan yang benar, teruslah berusaha.
Pasti ada jalan!,” tandasnya []

Pos terkait