Opini
Pintar dan cerdas itu beda, apalagi cuma hanya merasa pintar*
Banyak orang menginginkan hasil tanpa ingin bersahabat dengan resiko, tapi hati-hati antara berani dan konyol hanya beda tipis. Antara menghormati dan menjilat juga beda tipis.
Kecerdasan atau dalam bahasa palembangnya “calak”, itu tidak sama dengan pintar secara akademisi atau pendidikan formal saja. Kecerdasan bukan hanya terletak pada gagasan atau ide dan teori saja, tetapi pada eksekusinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang terjebak dalam ambisi besar, namun gagal. Bahkan ada yang gagal di tengah jalan karena terlalu takut mengambil resiko, takut rugi dan tidak tahan proses, maunya yang instan terus. Padahal, di dalam proses dan keberanian mengambil resiko itulah ketahanan diri dibentuk.
Banyak juga orang yang menginginkan hasil cepat, hasil yang besar, karir ingin melambung dan bermimpi hari tuanya hidup tenang, tapi takut rugi tidak berani ambil resiko, tidak mau pula berfikir dan tak perduli dengan orang yang mau menggantikannya untuk ambil resiko itu.
Dia bisanya hanya menyalahkan dan merendahkan orang lain tanpa mau instropeksi diri. Padahal, di dunia ini banyak pelajaran hidup yang memang tidak bisa dipahami sebelum kita mengalaminya sendiri.
Pengalaman dari banyaknya luka dan berbagai proses yang telah dilalui akan membuat manusia lebih berempati.
Berapa banyak impian akhirnya dikubur di tengah jalan oleh kalimat “Nanti saja”, padahal takut ambil resiko, takut rugi, mau enaknya sendiri terus dan kalau gagal selalu cari kambing hitam.
Mengubah pola berpikir berarti mengubah cara memandang dunia, dari fokus pada keterbatasan menuju fokus pada peluang dan kesempatan.
Banyak yang selama ini hanya memikirkan diri pribadi dan cari selamat sendiri, tanpa mau berempati kepada orang yang berani maju menggantikan kita untuk ambil resiko, dari keluhan menuju tindakan.
Ketika pola ini berubah, maka caramu memandang dunia luar pun akan berubah, tidak lagi hanya bersudut pandang diri merasa paling benar
Keadaan bisa berubah kapan saja, banyak manusia yang hanya sibuk mencari jawaban sempurna, padahal waktu terus berjalan meninggalkannya.
Keputusan hebat tak selalu lahir dari banyaknya jawaban, tapi dari keberanian.
Hidup bukan milik mereka yg selalu merasa banyak tahu atau selalu paling pintar, tapi milik mereka yang berani ambil resiko.
Tanpa disadari manusia sering terjebak sendiri di zona nyaman akibat terlalu lama berpikir, takut ambil resiko dan akhirnya lupa bergerak (movement) alias kelamaan untuk mengeksekusi.
Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi tak gampang tertipu oleh kata atau penampilan.
Ambisi adalah bahan bakar, kesempatan itu enggak datang ke orang yang hanya berdoa dan pasrah saja tanpa mengambil tindakan dan berani mengambil resiko.
Mau hidup enak tak cukup hanya dengan menghayal, apalagi dengan otak “tuyul’ yang bisanya cuma ngakali dan manfaatin kawan terus.
Bahkan, terkadang hanya demi urusan recehan saja masih tega “ngakali” dan manfaatin kawannya terus.
Dalam dunia tidak ada yang kebetulan, apa yang sering manusia bilang “berpikirlah secara ilmiah dan logis lah dulu”, itu cuma untuk menutupi rasa takut dan kelemahan diri, atau bentuk lain dari kepatuhan pada sistim yang dibuat manusia dalam urusan dunianya.
Padahal keberanian adalah satu-satunya cara untuk tetap menjadi manusia seutuhnya, bukan menjadi robot.
Di dunia ini kamu bisa mencari segalanya, kecuali cinta yang tulus dan kematian.
Mereka akan menemukanmu ketika waktunya memang telah tiba. Jadi untuk apa manusia menjadi takut berlebihan? Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tidak ada kegelapan lebih pekat daripada rasa takut yang disembunyikan dari diri sendiri.
Kita di sekolah dulu hanya diajarkan mengejar peringkat, para murid dipersiapkan menjadi mesin kompetisi bukan manusia berpikir, apalagi untuk menjadi manusia yang berani mengambil resiko.
Resiko terbesar dalam hidup adalah menghindari segala resiko dan takut rugi. Banyak yang mengagungkan nilai akademis dan kejar gelar, seakan-akan itu satu-satunya tolak ukur kepintaran.
Banyak juga orang yang terlanjur menganggap usia identik dengan kebijaksanaan.
Menghormati orang yang lebih tua tetaplah penting. Jika seseorang menelan mentah-mentah semua nasihat hanya karena disampaikan oleh orang yang lebih tua dari segi usia, ataupun disampaikan oleh orang yang punya status serta gelar pendidikan formal, bersiaplah mengulang kesalahan yang sama.
Sebaliknya, jika tetap hormat sambil berpikir kritis, ia memperoleh manfaat tanpa kehilangan kebebasan bernalar.
Banyak juga orang menyamakan usia dengan pendidikan tinggi, alumni ini dan sebagainya dengan kualitas pemikiran tertentu, padahal keduanya tidak selalu berjalan seiring.
Jika bertambah tua dan mendapatkan gelar saja adalah sebuah kepastian, maka banyak pengalaman dan bertambah bijaksana adalah pilihan yang harus terus diusahakan.
Nilai sejati seseorang terletak pada kerendahan hatinya, hormat kepada semua orang, tanpa melihat embel-embel dan klaim nasabnya, atau garis keturunan; ini yang dinamakan adab, tetapi mencari kebenaran adalah tanggung jawab sendiri.
Sering kali manusia baru menyesal karena terlambat menyadari sesuatu.
Salam sehat selalu untuk semuanya dimana pun berada.
*Hengki, Pengusaha dan Pengamat Sosial Budaya di Lampung






