Selamat Datang di Kandang, Sang Singa Altar Kekuasaan!

Opini

 

Bacaan Lainnya

 

Selamat Datang di Kandang, Sang Singa Altar Kekuasaan!

 

Oleh: Rusmin (Jurnalis)

 

Ada ironi yang sulit dilewatkan dari republik ini: Rocky Gerung, pengkritik kekuasaan yang bertahun-tahun menjadikan Istana sebagai sasaran kritik, kini resmi masuk ke lingkaran kekuasaan sebagai anggota Wantimpres.

Mari tepuk tangan. Bukan karena sejarah mencatat keajaiban, melainkan karena politik kembali menunjukkan keahliannya: mengubah jarak seseorang terhadap kekuasaan tanpa perlu mengubah pendiriannya di depan kamera.

Dulu Istana adalah objek kritik. Kini Istana menjadi tempat kerja.

Dulu kekuasaan dibedah dari luar. Kini sang pembedah duduk di dalam ruangannya.

Itu bukan dosa. Seorang pengkritik tentu berhak menerima jabatan negara. Demokrasi juga tidak mengenal larangan bahwa pengkritik harus menjadi oposisi seumur hidup.

Tetapi justru karena Rocky selama ini menjual independensi berpikir sebagai identitas, publik berhak mengajukan satu pertanyaan: setelah masuk ke dalam sistem, masih seberapa tajam kritiknya?

Jawabannya bukan di podium, melainkan di meja rapat.

 

Rocky mengatakan dirinya hanya berganti medan. Baik. Kita tunggu pembuktiannya

Sebab kritik dari luar pagar dan kritik dari dalam kantor pemerintahan bukan perkara yang sama. Di luar, seseorang bebas menuding. Di dalam, ia berhadapan dengan mandat, tata kerja, kompromi, dan kerahasiaan jabatan.

Karena itu, status sebagai penasihat tidak otomatis menghilangkan sikap kritis. Tetapi jabatan juga tidak boleh menjadi karpet merah menuju kenyamanan.

Singa tidak kehilangan taring hanya karena masuk kandang. Tetapi taring itu baru berarti jika masih digunakan.

Ironi berikutnya lebih menarik.

Rocky selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengkritik keras pemerintahan Jokowi. Kini ia berada dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. Konstelasi politik memang punya ingatan yang pendek. Orang-orang yang kemarin berdiri berseberangan dapat duduk semeja ketika peta kekuasaan berubah.

Apakah itu rekonsiliasi? Penyesuaian strategi? Atau pragmatisme politik?

Tak perlu menebak motif. Waktu akan menjawabnya.

Yang patut dicatat adalah perubahan posisi. Dan setiap perubahan posisi membawa konsekuensi terhadap cara publik membaca konsistensi seseorang.

Kekuasaan pun tak selalu perlu membungkam kritik. Kadang cukup dengan memberinya kursi.

Namun, mengatakan bahwa Rocky telah “dijinakkan” juga terlalu cepat. Belum ada bukti untuk kesimpulan itu. Sebaliknya, menganggap pengangkatannya otomatis membuktikan pemerintah membutuhkan kritik juga sama tergesa-gesanya.

Yang bisa diuji hanya satu: apa yang dilakukan Rocky setelah berada di dalam.

Jika ia berani menyampaikan nasihat yang tidak menyenangkan penguasa, independensinya punya bukti.

Jika kritiknya menguap bersama jabatan, publik juga akan membaca pesannya sendiri.

Jadi, selamat bertugas, Prof.

Kini Anda tidak lagi sekadar mengomentari kekuasaan dari luar pagar. Anda mendapat kesempatan melihatnya dari dalam.

Dan publik akan menunggu bukan seberapa keras Anda berbicara, melainkan seberapa berani Anda berkata tidak ketika kekuasaan menghendaki semua orang berkata ya.

Sebab pada akhirnya, seorang intelektual tidak diuji ketika ia bebas mengkritik kekuasaan.

Ia diuji ketika ia duduk di dekat kekuasaan dan tetap berani mengoreksinya. (*)

Pos terkait