Memasuki Masa Keemasannya, Kompro 98 Dorong Petani Terus Berinovasi

Foto. Anwar Syarifuddin, Ketua Kompro 98

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, Lampung

Dalam situasi konflik global yang terus memanas saat ini, keberadaan petani Indonesia ikut menjadi pertaruhan. Banyak kalangan pesimis di sektor yang sangat diandalkan oleh pemerintah ini akan mampu bertahan. Prediksinya petani akan terpukul hebat akibat konflik global, karena imbasnya pada pasokan energi dan sarana produksi pertanian (saprotan).

Namun pemerintah cukup jeli menangkap situasi ini, berbagai skema dan program bantuan diterapkan secara massiv sehingga petani dapat terlindungi, produktivitas terjaga, sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan nasional.

Tidak tanggung-tanggung saat ini pemerintah mengalokasikan pengadaan pupuk subsidi untuk petani 9.55 juta ton dengan nilai 45 triliun. Pemerintah juga menurunkan Harga Eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20%. Selain itu memberikan bantuan mesin-mesin pertanian dan terus melakukan ekstensifikasi pertanian melalui program cetak sawah.

Ketua Umum Komponen Progresif 98 (Kompro 98), Anwar Syarifuddin, S.P., menyatakan bahwa kondisi petani saat ini sangat stabil, tidak terpengaruh secara signifkan oleh gejolak geopolitik global, harga komoditas petani seperti sawit, karet, dan singkong cukup bagus dan stabil.

“Saat ini tidak ada keresahan di tingkat petani, justru petani cukup bahagia, dimana harga-harga komoditas cukup bagus dan menguntungkan bagi petani, pupuk subsidi selalu tersedia, bantuan mesin-mesin pertanian dan cetak sawah terus bergulir”, papar Anwar.

Untuk diketahui harga rata-rata tingkat petani untuk komoditas sawit, singkong, dan karet di wilayah Lampung dan sekitarnya terpantau menguat bervariasi pada pertengahan 2026.

Rincian Harga Komoditas Singkong (Ubi Kayu): Berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.400 per kg di tingkat petani (Lampung Tengah dan sekitarnya), naik dari patokan awal pemerintah sebelumnya (Rp1.350 per kg).

Kelapa Sawit (TBS): Harga Tandan Buah Segar (TBS) mitra plasma di Lampung mengalami kenaikan periodik pada Agustus 2026, dengan kisaran harga umum di Sumatera/Lampung sekitar Rp2.400 – Rp2.600.

Karet (Getah / Bokar): Di tingkat petani, harga getah karet bergerak di kisaran Rp10.000 hingga Rp16.000 per kg tergantung Kadar Bahan Kering (KKB) dan wilayah.

Lebih lanjut Anwar menjelaskan bahwa saat ini adalah masa keemasan bagi petani di Indonesia karena pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama melalui dukungan penuh terhadap modernisasi, kemudahan akses pupuk, serta pencapaian swasembada pangan.

“Saat ini adalah masa keemasan bagi petani, Nilai Tukar Petani (NTP) tertinggi sejak 34 tahun terakhir, tetapi petani tidak boleh segera merasa puas, petani harus terus berinovasi, harus mengenal teknologi untuk meningkatkan produktivitas hingga sampai pada teknologi hilirisasi pertanian,” dorongnya. (*)

Pos terkait