Mafia Bisnis Haram Sengat Jurnalis: Kronologi Penyergapan Pimpinan Media ‘SP’ dan Pemaksaan Video Klarifikasi
Bongkar Post | MEDAN – Jagat pers di Sumatera Utara diguncang aksi premanisme dan pelanggaran hukum serius terhadap insan media. Seorang pimpinan media online berinisial SP diduga kuat menjadi korban penculikan dan intimidasi oleh oknum aparat bersenjata pada Selasa malam, 12 Mei 2026. Korban dipaksa melakukan klarifikasi palsu di bawah ancaman fisik di dalam sebuah kendaraan yang bergerak.
Kronologi Penjebakan Berkedok Informasi
Aksi pemberangusan kebebasan pers ini dirancang secara rapi menggunakan metode penjebakan. Berdasarkan pengakuan korban kepada jurnalis di Medan, peristiwa bermula saat seorang oknum wartawan berinisial FK menghubungi dirinya. FK mengajak SP bertemu di sebuah kafe di Kota Medan dengan dalih ingin membagikan data investigasi terkait jaringan peredaran narkoba di wilayah Binjai.
Nahas, setibanya di lokasi yang disepakati, SP justru langsung disergap.
Berdasarkan rekaman CCTV kafe berdurasi 35 detik yang kini tersebar luas, dua pria berbadan tegap langsung mendatangi meja korban, merebut telepon selulernya, dan mencengkeram tangan SP. Korban digiring paksa keluar menuju sebuah mobil layaknya penangkapan teroris.
Intimidasi: Dipaksa Mengingkari Produk Jurnalistik
Fokus utama dari aksi penculikan ini adalah pembungkaman berita melalui pemaksaan. Di dalam mobil yang terus melaju, SP mendapati seorang pria berseragam loreng yang diduga kuat merupakan oknum anggota TNI AD. Di bawah tekanan psikologis hebat dan ancaman fisik, para pelaku memaksa SP untuk membuat sebuah rekaman video klarifikasi.

“Saya ditekan untuk membuat video klarifikasi. Isinya, saya harus menyatakan bahwa berita soal kondensat dan judi tembak ikon itu tidak benar,” ungkap SP dengan raut wajah trauma, sebagaimana dilaporkan oleh [Langkat Terkini] (https://langkatterkini.com/wartawan-diduga-diculik-oknum-tni-usai-bongkar-judi-dan-kondensat-di-langkat/). Para pelaku bahkan memerintahkan SP untuk berbohong kepada keluarga atau sesama jurnalis jika mereka mencari keberadaannya, dengan dalih sedang menghadiri acara kejutan ulang tahun.
Latar Belakang: Bisnis Haram Kondensat dan Perjudian
Berdasarkan data yang dihimpun tim investigasi, intimidasi ini merupakan buntut langsung dari rangkaian laporan investigasi yang dirilis oleh media milik SP. Beberapa hari sebelum penculikan, media tersebut gencar membongkar dua praktik bisnis ilegal skala besar di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara:
1. Praktik Ilegal Kondensat: Penyelewengan dan pengolahan minyak mentah secara ilegal tanpa izin resmi negara yang diduga melibatkan jaringan mafia migas.
2. Judi Meja Tembak Ikon: Menjamurnya titik-titik perjudian ketangkasan meja tembak ikan di wilayah Langkat yang beroperasi bebas tanpa tersentuh hukum.
Keterlibatan oknum aparat berbaju loreng dalam proses pemaksaan klarifikasi ini memperkuat dugaan adanya ‘bekingan’ kuat di balik bisnis haram tersebut. Hingga berita ini diturunkan, berbagai organisasi pers di Sumatera Utara mendesak Pangdam I/Bukit Barisan dan Kapolda Sumut untuk mengusut tuntas keterlibatan oknum anggotanya, serta menjamin keselamatan fisik korban dari ancaman susulan.(***)







