ISPA Naik Signifikan, Dinkes Bandar Lampung Pantau Dampak Kualitas Udara
Bongkar Post, Bandar Lampung
Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat adanya peningkatan laporan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan kasus tersebut terpantau berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) periode 4 hingga 7 September 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A.Tumenggung, mengatakan saat ini jumlah kasus ISPA yang tercatat diBandar Lampung, mencapai 527 kasus pada 4 September. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 632 kasus pada 5 September dan kembali naik hingga 716 kasus pada 7 September 2026.
Menurutnya, peningkatan laporan kasus terjadi di sejumlah kecamatan dan lonjakan terbesar terpantau pada Kecamatan Teluk Betung Timur, Kedamaian, Rajabasa, Teluk Betung Selatan, Sukarame, dan Tanjung Karang Pusat.
“Peningkatan kasus ISPA tersebut bertepatan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski demikian, Kami pihak Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara paparan debu vulkanik dan kenaikan kasus ISPA tersebut,” ujarnya, pada Rabu (09/09/2026).
Ia menjelaskan, Peningkatan kasus ISPA tersebut bertepatan dengan periode erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun berdasarkan data jangka pendek ini kami belum bisa menyatakan secara definitif bahwa debu vulkanik menjadi penyebab langsungnya.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung terus memperkuat surveilans untuk mengetahui dampak kondisi tersebut di lapangan secara lebih komprehensif.
“Sejumlah penyakit penyerta yang berpotensi berkaitan dengan gangguan kualitas udara juga terus dipantau. Di antaranya pneumonia, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata, hingga dermatitis,” jelasnya.
Ia menyampaikan, Sejumlah penyakit penyerta yang berpotensi berkaitan dengan gangguan kualitas udara. Sebagai langkah antisipasi, Dinkes juga melakukan validasi data kasus secara berlapis.
Namun, upaya tersebut dilakukan untuk memastikan angka yang dihimpun akurat dan tidak terjadi duplikasi maupun kesalahan dalam proses input data.
“Kami meminta laporan harian dari seluruh puskesmas di wilayah Kota Bandar Lampung, dan Pemantauan secara khusus juga dilakukan terhadap kecamatan yang mencatat peningkatan laporan ISPA paling tinggi,” katanya.
Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung berharap, langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran perkembangan kasus secara lebih akurat. Sekaligus mendeteksi sedini mungkin apabila terjadi perubahan pola penyakit di masyarakat.(WB)







