Dinas Pariwisata Tuba Tinjau Potensi Wisata di Kampung Sungai Burung

  • Whatsapp

Tulangbawang, BP
Pemerintah Kabupaten Tulangbawang melalui Dinas Pariwisata meninjau potensi wisata di Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas. Kampung ini berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Laut Jawa, tepatnya di Pesisir Pantai Kabupaten Tulangbawang.

Bacaan Lainnya

Kampung Sungai Burung dibangun diatas permukaan air laut, bertiangkan batang Nibung, beratap daun Nipah dan berdindingkan papan, yang merupakan ciri khas rumah rumah masyarakat Kampung Sungai Burung.
Masyarakat di kampung ini adalah masyarakat pendatang dari berbagai wilayah, seperti Makassar Sulawesi (Bugis) Jawa tengah (Pati) kemudian Sunda (Banten) dan suku suku lainnya.

Masyarakat menggantungkan hidupnya dari hasil laut baik itu budidaya udang (tambak), budidaya kerang atau sebagai nelayan.
Dikatakan Mashuri, Sekertaris Kampung Sungai Burung, wilayahnya memiliki lua kurang lebih 1937 hektar jumlah penduduk 1231 jiwa, jumlah kepala keluarga 342, dan dimekarkan dari Kampung Bratasena Mandiri pada 2008 lalu.

“Masyarakat Kampung Sungai Burung menggantikan hidupnya sebagai nelayan atau budidaya tambak, dimana hasil dari budidaya atau nelayan di jual ke pembina kemudian dikirim ke Jakarta atau kota kota besar di Pulau Jawa,” terang Mashuri

Lebih lanjut Mashuri menerangkan, selain potensi hasil laut yang melimpah, Kampung Sungai Burung juga menyimpan potensi wisata yang luar biasa dengan hutan mangrove dan hutan bakau yang terjaga dari tangan tangan jahil yang luasnya mencapai puluhan hektar.

“Bisa dilihat potensi wisatanya yang belum dikembangkan hutan mangrove dan hutan bakau yang belum terjamah dan terpelihara sangat cocok sebagai wisata alam dan dibangun spot bangunan pusat oleh oleh atau wisata kuliner di tengah hutan mangrove dan bakau, jadi wisatawan bukan saja dimanjakan pemandangan hutan mangrove dan bakau, namun bisa mencicipi kuliner khas Makassar atau masakan Jawa tanpa harus ke tempat aslinya,” jelas Mashuri.

Bisa dibayangkan dengan kondisi alam yang memang masih asri dan belum terjamah pengunjung wisatawan akan dibawa berkeliling menggunakan perahu dayung, sambil menikmati hijaunya hutan mangrove dan bakau yang dihuni beribu spesies burung dengan warna dan corak yang indah.

“Saya berharap Pemkab Tulangbawang dapat ikut berperan dan mendorong rencana pembangunan wisata alam dan kuliner di Kampung Sungai Burung, melalui Dinas Pariwisata,” harapnya.

Sementara itu, Ismed, Kepala Dinas Pariwisata setelah menyaksikan langsung potensi wisata yang ada di Kampung Sungai Burung, dirinya begitu kagum dan yakin nilai jual wisata alam dan kuliner yang disajikan, memang luar bisa.

“Saya kira kondisi alam di kampung ini memang sangat cocok untuk digali dan dikembangkan, pasalnya kampung tidak lagi membutuhkan waktu lama karena wisata ini sudah terbentuk oleh alam, dengan kata lain Tuhan sudah menyajikan alam yang begitu indah tinggal masyarakatnya mengembangkannya lagi,” jelas Ismed.

Dalam perjalanannya, Ismed tidak henti – hentinya berdecak kagum terhadap pesona hutan mangrove dan hutan bakau yang disajikan Kampung Sungai Burung. Ia menekankan kepada pemerintah kampung agar segera membuat masterplan pembangunan lokasi wisata untuk memulai dari mana yang perlu dibangun.

“Master plan pembangunan sangat penting mengingat keterbatasan anggaran, baik itu dana ADD atau dana APBD Kabupaten Tulangbawang, sehingga nantinya bertahan syukur ada pihak investor yang tertarik ikut berpartisipasi atau berperan membangun lokasi wisata yang telah dipersiapkan sesuai dengan master plan,” terangnya.

Dinas Pariwisata menyambut baik rencana pembangunan wisata alam dan kuliner di Kampung Sungai Burung. Pihaknya berharap rencana pembangunan wisata ini tidak sekedar wacana saja namun dapat terus dimatangkan, dimana peran serta tokoh masyarakat serta pemuda juga penting guna mendorong percepatan pembangunan wisata di Kampung Sungai Burung.

“Saya berharap rencana ini bukan sekedar wacana saja namun ini betul – betul terobosan yang nantinya dapat menjadi PAD kampung sekaligus PAD kabupaten, jika wisata ini berkembang pesat seperti wisata – wisata lainnya di Provinsi Lampung,” beber Ismed. (can/ris)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *