Di Tengah Sepinya Penumpang, Pelajar Jadi “Napas” Sopir Angkot Bandar Lampung

Di Tengah Sepinya Penumpang, Pelajar Jadi “Napas” Sopir Angkot Bandar Lampung

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, Bandar Lampung

Tranformasi Umum/Angkutan kota (angkot) masih menjadi salah satu modal transportasi yang digunakan masyarakat di Bandar Lampung. Namun, kondisi penumpang saat ini yang dirasakan sopir kini tidak seramai sebelumnya. Penumpang dari kalangan pelajar justru menjadi salah satu tumpuan utama bagi sopir untuk mendapatkan penghasilan setiap hari.

Salah satu sopir angkot, Sanusi, mengatakan penumpang yang menggunakan angkot saat ini cenderung lebih banyak berasal dari kalangan pelajar. Sementara itu, penumpang umum jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.

“Kalau penumpang memang tidak seramai dulu. Tapi kalau untuk kebutuhan sehari-hari masih cukup. Kalau mau cari lebih dari itu, agak susah,” ujarnya, pada hari Jumat (11/09/2026).

Ia menyampaikan, aktivitas penumpang paling ramai terjadi pada pagi hari ketika pelajar berangkat sekolah, yakni sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 WIB. Angkot kembali mendapatkan penumpang ketika jam sekolah selesai.

Menurutnya, di luar waktu tersebut, sopir lebih banyak menunggu penumpang. Kondisi itu semakin terasa ketika sekolah memasuki masa libur karena jumlah pelajar yang menggunakan angkot ikut berkurang.

“Kalau anak sekolah libur, biasanya lebih sepi. Penumpang umum tidak sebanyak anak sekolah,” katanya.

Sementara itu, salah satu supir juga menyampaikan hal serupa, keberadaan pelajar cukup berpengaruh terhadap aktivitas angkot karena mereka menjadi salah satu kelompok penumpang yang paling sering menggunakan angkot.

Ia juga menjelaskan, para sopir biasanya menunggu penumpang di sejumlah titik yang dianggap ramai, seperti kawasan depan Ramayana hingga kawasan kuliner. Selain membawa penumpang harian, angkot juga terkadang disewakan untuk kebutuhan tertentu.

Namun, Untuk tarif, ongkos yang dibayarkan penumpang berbeda tergantung jarak dan jenis penumpang. Pelajar dapat membayar sekitar Rp2 ribu, Rp3 ribu hingga Rp4 ribu, menyesuaikan jarak perjalanan. Sementara penumpang umum berada di kisaran Rp5 ribu untuk jarak dekat hingga Rp8 ribu untuk perjalanan yang lebih jauh.

“Salah satu contoh, untuk perjalanan menuju kawasan Tanjung Karang Selatan, tarif yang dikenakan kepada pelajar sekitar Rp5 ribu, sedangkan penumpang umum mencapai Rp8 ribu,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, dalam praktiknya, tidak semua penumpang selalu membayar sesuai tarif. Sopir mengaku terkadang ada penumpang yang membayar kurang dari ongkos seharusnya. Misalnya, dari tarif Rp5 ribu, penumpang hanya membayar Rp3 ribu atau Rp4 ribu.

Meski begitu, kondisi tersebut umumnya dimaklumi oleh sopir. Mereka memilih tetap menerima pembayaran tersebut daripada mempermasalahkannya dengan penumpang.

“Angkot yang beroperasi saat ini mayoritas masih merupakan kendaraan milik pribadi, dan saya memiliki tiga unit angkot yang seluruhnya dipercayakan kepada pengemudi lain untuk beroperasi,” katanya.

Ia memilih mempercayakan kendaraan tersebut kepada sopir karena tidak dapat mengoperasikan seluruh angkot secara bersamaan. Dengan kondisi penumpang yang belum kembali seramai sebelumnya, Sanusi berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat menghadirkan kebijakan yang membuat penghasilan sopir angkot lebih terjamin.

Ia mencontohkan sistem transportasi seperti JakLingko di Jakarta yang menurutnya dapat memberikan kepastian pendapatan bagi pengemudi, sehingga penghasilan tidak sepenuhnya bergantung pada jumlah penumpang setiap hari.

“Kalau ada sistem seperti itu, lebih terjamin. Jadi kita tidak terlalu khawatir hari ini dapat penumpang berapa,” pungkasnya.(WB)

Pos terkait