Bandar Lampung, BP
Budayawan Lampung Anshori Djausal mengatakan, jalur rempah ini jangan dilihat secara sepotong-sepotong, tapi secara keseluruhan. Karena yang dikenang bukan hanya perjalanan rempahnya, tapi dilihat bagian dari pengembangan budaya Indonesia
“Dan acara ini sangat menarik karena mempertemukan anak-anak muda dari 38 provinsi yang saling mengenal, baik itu asalnya dan budayanya. Ini justru yang kita perlukan menghadapi masa sekarang dengan teknologi yang bisa membuat terperangah lupa dengan kebudayaan Indonesia,” ujar Anshori, saat diwawancara media, usai acara Festival Multi Etnis Muhibah Budaya Jalur Rempah, di Musium Lampung, pada Jumat malam (12/7/2024).
Dikatakan, pertemuan – pertemuan seperti ini adalah bagian dari membangun ketahanan bangsa, kesatuan Indonesia.
“Anak – anak yang ikut jalur rempah ini, 10 – 15 tahun lagi mereka akan jadi pemimpin di masing – masing tempatnya,” kata dia.
“Acara ini menarik, sudah lama kita tidak melihat tampilan yang lengkap dari budaya masing – masing daerah secara modern,” kagumnya.
Lanjutnya, Lampung harus terlibat terus karena Lampung ada dalam jalur rempah. Dan pemerintah harus memperhatikan bagaimana pentingnya membangun keunggulan yang dulu dikenal, yaitu Lada dan Kopi, dan sekarang ada keunggulan lain seperti tapi kemiri, singkong, dan jagung,” imbuhnya.
Pemerintah, masih kata Anshori, harus aktif membina dan mendorong perkembangan rempah itu sendiri, dan membuat rakyatnya yang menikmati.
“Maka peran pemerintah sangat penting,” tegasnya.
Terusnya, Kopi dan Lada dulu adalah kepentingan Belanda Kolonial, mereka tidak peduli dengan petaninya.
“Namun sekarang, pemerintah melihat Kopi Lada ini unggul, makanya pemerintah harus merubah tata niaga dan hilirisasi,” pungkasnya.
Kegiatan kebudayaan yang menampilkan tari-tarian multi etnis, yang berlangsung pad Jumat malam (12/7/2024), diawali dengan pertunjukan Flashmob Laskar Rempah, yang dilanjutkan dengan folklore atau cerita rakyat tentang perjalanan jalur rempah di Indonesia.
Penampilan dari Dian Arza Arts Laboratory, cukup memukau. Sejumlah tarian daerah, menggambarkan perjalanan rempah di tiap daerahnya, diantaranya dari daerah Jawa, Bali, Cirebon, dan Minangkabau.
Lalu, ada juga tarian Mandarin dimana bangsa Cina menjadi bagian dari sejarah perjalanan rempah di Indonesia.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII, yang didukung Pemprov Lampung dan Dian Arza Arts Laboratory. (tk)







