Surah Quraisy: Perjalanan Dagang Suku Quraisy Musim Panas dan Musim Dingin

 

 

Bacaan Lainnya

Surah Quraisy: Perjalanan Dagang Suku Quraisy Musim Panas dan Musim Dingin

Oleh: Arsiya Heni Puspita

(Jurnalis dan Penulis)

 

Surah ini dinamakan Quraisy artinya Suku Quraisy. Kata tersebut diambil dari ayat pertama surah ini. Nama lainnya, surah Li Ilafi Quraisy.

Surah ini merupakan surah ke-106 dalam al-Qur’an terdiri dari 4 ayat, termasuk golongan surah Makkiyyah, artinya diturunkan saat Rasulullah masih di Mekah. Kata lainnya, Rasulullah belum hijrah ke Madinah.

Surah ini adalah surah yang ke-29 jika ditinjau dari bilangan turunnya surah-surah dalam al-Qur’an. Dia turun sbelum surah at-Tin dan sesudah surah al-Qari’ah.

Tujuan utama adalah uraian tentang mengingatkan suku yang paling berpengaruh di Mekkah, suku Quraisy, tentang berapa besar nikmat Allah swt yang semestinya mereka syukuri dengan jalan mengabdi pada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Tujuan lainnya, betapa sejahteranya mereka yang taat dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Demikian tafsir al-Misbah.

Adapun tafsir secara singkat berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.

Terjemahan QS. Quraisy (Suku Quraisy) 106: 1 – 2. “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (1). Yaitu kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas (2)”.

Tafsir QS. Quraisy (Suku Quraisy) 106: 1 – 2. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy yaitu kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syiria dan Lebanon.

Pada surah ini Allah swt mengingatkan kaum musyrikin Mekkah yang mengaku pembela rumah-Nya dan tampil dibawah kepemipinan suku yang paling berpengaruh yaitu Quraisy mengingatkan mereka agar mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan dengan jalan mengabdi pada-Nya pemilik rumah itu.

Masyarakat Mekkah dikagumi dan ditakuti oleh masyarakat sekitarnya karena semua pihak mengagungkan Ka’bah. Sedangkan suku Quraisy dengan cabang-cabangnya memegang tampuk tanggung jawab memelihara Ka’bah.

Memenuhi kebutuhan pokok para peziarah karena itu mereka memperoleh rasa aman di Mekkah dan dalam perjalanan keluar kota. Penghormatan dan kekaguman ini bertambah sejak Allah swt membinasakan pasukan bergajah.

Kata Quraisy merupakan gelar an-Nadhr lbn Kinanah kakek Nabi Muhammad yang ke-13. Nabi Muhammad saw Ibn (putra) Abdullah, lbn Abdul Mutholib, lbn Hasyim, lbn Abd Manaf, lbn Qushayy, lbn Kilab, lbn Murrah, lbn Ka’b, lbn Lu’ay, lbn Ghalib, lbn Fihr, lbn Malik, lbn an-Nadhr lbn Kinanah.

Semua penduduk Mekkah adalah keturunan Quraisy. “Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Nabi Ismail, Kinanah dan memilih Quraisy keturunan dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, lalu memilih dari putera puteri Hasyim, lalu memilihku (Muhammad) dari Bani Hasyim”. (HR. Muslim)

Kata Quraisy dari kata at-taqarrusy artinya keterhimpunan, kekuatan dan kesucian dari hal buruk. Anggota suku ini tadinya berpencar-pencar kemudian menyatu dalam bentuk yang sangat kokoh sehingga mereka dikenal dengan gelar itu.

Kata quraisy juga dari kata qarasya artinya berusaha atau mencari, suku ini terkenal sebagai pengusaha dan pegagang yang ulet dan mereka selalu mencari orang-orang yang butuh bantuan. Ia juga terambil dati kata qirsy yakni ikan hiu.

Ikan hiu sangat kuat mengatasi ikan-ikan lainnya bahkan bisa menjungkirbalikkan perahu dan menerkam manusia. Hal ini untuk menggambarkan betapa kuat dan berpengaruhnya suku Quraisy. Penamaan demikian untuk memuji mereka dalam persatuan dan kekokohan serta pengaruh yang kuat di masyarakat.

“Pemimpin-pemimpin hendaknya diangkat dari suku Quraisy”. (HR. Ahmad melalui Anas lbn Malik). Kata rihlah dari kata rahala artinya pergi ketempat yang jauh. Rihlah adalah kepergian atau perjalanan yang cukup jauh.

Perjalanan dangan suku Quraisy yang mereka lakukan dua kali setahun yaitu pada musim daingin dan musim panas. Pejalanan dagang ini pertama kali dilakukan oleh kakek Nabi Muhammad saw, Hasyim lbn manaf.

Sebelum itu, apabila penduduk Mekkah mengalami kesulitan pangan, pemimpin rumah tangga membawa keluarga mereka ke suatu tempat tertentu dan membangun kemah kemudian tingggal sampai mereka mati kelaparan. Mereka istilahkan al-I’tifar.

Keluarga Bani Makhzum yang bermaksud melakukan hal tersebut, maka Hasyim menyampaikan kepada suku Quraisy peristiwa itu dan meminta mereka bergotong royong untuk saling membantu. Kemudian mereka bersepakat untuk melakukan perjalanan dagang yang keuntungannya dibagi rata. Sikap gotong royong inilah diabadikan oleh Allah swt pada surah ini.

Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Kabulkanlah permohonan kami.

Maha Benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.

Pos terkait