Sesungguhnya Petani Itu Pemberi Subsidi

 

Artikel

Bacaan Lainnya

Sesungguhnya Petani Itu Pemberi Subsidi

Oleh : Ir. Zendra, M.P.

(Aktivis ’98)

 

Titik lemah ekonomi masyarakat/kaum petani tidak akan membuahkan sosok petani muda atau petani milenial, dampak dari setiap pascapanen khususnya pada tanaman palawija jagung selalu saja menghantui para petani menjelang panen maupun pascapanen, hal ini diduga adanya kelemahan regulasi pemerintah yang kurang tegas dan tidak ada sosok pendekar pejuang kaum hulu dimana selalu kecolongan di dunia industri atau pabrikan.

Efek dari itu semua memberi pengaruh terhadap pelaku petani milenial yang enggan menjadi penerus pahlawan pangan di negeri ini, adanya stigma bahwa petani adalah rakyat bodoh dalam level sosial paling rendah dan tua ronta yang hanya memanfaatkan kekosongan hari – harinya demi mencari rutinitas semata tanpa adanya target hidup yang pasti atau dengan kata lain timbang nganggur”.

Padahal kekuatan ekonomi suatu negara ditentukan oleh sumber pakan dan bahan baku industri, sedikit renungan atau analisa naik kebutuhan pokok adalah akibat dari terbatasnya stok bahan baku pangan (manusia) dan pakan (ternak), maka muaranya akan merubah harga dipasaran secara berantai, tentunya akan berpengaruh terhadap daya beli di tengah masyarakat, hal penting perlu diketahui dan harus disadari negara kurang cerdas dalam pengelolaan sumber daya alam dan potensinya serta kurang cermat dalam mempelajari ilmu iklim yang  banyak perubahan dalam sejarah perkembangannya.

Hal inilah yang harus dicermati oleh negara melalui pemerintahannya agar saling membuka diri dan saling bekerja sama lintas departemen atau kementerian, suatu misal menteri perdagangan tidak boleh semena-mena untuk melakukan impor, harus pandai membaca pergerakan market hulu di dalam negeri.

Tentunya menteri pertanian harus dapat bekerjasama  memperkuat sektor pertanian hulu dalam negeri dengan melakukan pembacaan areal (market reading), agar para petani tidak selalu dimanfaatkan diakhir atau menjelang panen atau pun pasca panen.

Inflasi tentunya tidak diharapkan oleh pemerintah demi menjaga kestabilan daya beli, akan tetapi hanya demi menjaga inflasi, petani dalam negeri menjadi rugi disaat hadirnya panen raya yang selalu menghadirkan impor dan stok.

Ketidakadilan dan ketimpangan selalu petanilah yang menelan pil pahit ini dari tahun – ketahun. Tak ada perubahan, yang ada hanya semangat menjalani hidup.**

Pos terkait