Foto: Xi Jinping dan Trump Tampak Berbincang Singkat Sebelum Prosesi Kenegaraan Dimulai
Bongkar Post, BEIJING – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping resmi menggelar pertemuan puncak bilateral di Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (14/5/2026).
Pertemuan tingkat tinggi ini membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi global melalui komitmen penguatan kerja sama perdagangan dan investasi teknologi yang melampaui berbagai pembatasan tarif sebelumnya.
Optimisme pemulihan hubungan ekonomi kedua negara adidaya ini diperkuat oleh langkah tidak biasa Gedung Putih yang memboyong delegasi elite berisi 17 CEO dan eksekutif senior korporasi raksasa AS. Kehadiran para titan teknologi—seperti CEO Tesla Elon Musk, CEO Apple Tim Cook, hingga CEO Nvidia Jensen Huang yang ikut serta dalam pesawat kepresidenan Air Force One—menjadi sinyal kuat transisi hubungan Washington-Beijing menuju kolaborasi strategis yang produktif.
Fokus pada Ekspansi Pasar dan Komersialisasi AI
Berdasarkan rilis resmi pasca-pertemuan, kedua pemimpin sepakat membangun “hubungan konstruktif berbasis stabilitas strategis”. Fokus utama pembicaraan adalah membuka akses pasar China yang lebih luas bagi perusahaan Amerika serta meningkatkan investasi Tiongkok di sektor-sektor industri AS.
“Pintu keterbukaan Tiongkok justru akan terbuka semakin lebar,” ujar Presiden Xi Jinping di hadapan delegasi bisnis AS, menyambut keterlibatan komersial yang lebih dalam dari korporasi Paman Sam.
Kehadiran para bos teknologi memastikan bahwa negosiasi tidak lagi tertahan pada retorika proteksionisme, melainkan langsung menyasar pada kepastian rantai pasok global. Kehadiran Jensen Huang dari Nvidia, yang sempat terhambat aturan ketat ekspor chip kecerdasan buatan (AI) tipe H20 dan H200, mengindikasikan dibukanya ruang dialog baru untuk menyelaraskan regulasi teknologi masa depan tanpa mengorbankan pasar global.
Gencatan Senjata Tarif dan Latar Belakang Ekonomi
Pertemuan di Beijing ini menandai titik balik penting setelah ketegangan dagang intensif pada tahun 2025, saat kedua negara sempat terlibat saling balas tarif impor yang menyentuh angka 145% untuk barang Tiongkok dan 125% untuk produk AS. Pembatasan tersebut mulai melunak sejak jeda tarif yang disepakati pada pertemuan pendahulu di Korea Selatan.
Gubernur dan pelaku pasar menyambut positif stabilisasi ini. Indeks saham gabungan Tiongkok CSI 300 langsung menguat 1,02% dan bursa berjangka S&P 500 merangkak naik menyusul sinyal positif dari Beijing.
Langkah konkret komersial juga mulai berjalan, termasuk komitmen investasi Apple senilai USD 600 miliar yang berhasil mengamankan pengecualian tarif, serta pembicaraan tingkat lanjut oleh CEO Boeing Kelly Ortberg terkait pemulihan target pengiriman pesawat komersial ke China.
Selain sektor teknologi, iklim kerja sama yang cair ini mendorong RRT menyatakan ketertarikannya untuk mendiversifikasi pasokan energinya dengan meningkatkan volume pembelian minyak mentah dan komoditas pertanian langsung dari Amerika Serikat. Rangkaian pertemuan bilateral dijadwalkan masih akan berlangsung hingga Jumat (15/5/2026) untuk merumuskan draf final kesepakatan dagang baru.***







