Foto. Tangkap layar
Bongkar Post | Internasional– Konflik militer antara Amerika Serikat beserta Israel melawan Iran telah berlangsung selama hampir satu bulan sejak akhir Februari 2026. Serangan udara gabungan telah menargetkan infrastruktur militer, rudal, dan fasilitas nuklir Iran, sementara Iran melanjutkan serangan balasan meski dalam skala yang lebih kecil.Menurut laporan militer AS dan Israel, operasi “Roaring Lion” dan “Epic Fury” telah merusak atau menghancurkan sekitar sepertiga stok rudal Iran serta merusak atau menonaktifkan sekitar 330 dari 470 peluncur rudal.
Israel menyatakan kampanye serangan udaranya mendekati penyelesaian terhadap infrastruktur militer kritis Iran. Di sisi lain, Iran melaporkan serangan rudal dan drone terhadap target di Israel, termasuk zona industri di selatan Israel yang menyebabkan kebakaran di sebuah pabrik kimia. Houthi di Yaman, yang didukung Iran, juga telah meluncurkan rudal ke Israel untuk pertama kalinya dalam konflik ini.
Gedung Putih menyatakan bahwa Iran telah “dikalahkan secara militer” dan mendesak Teheran untuk mengakui realitas tersebut. Juru bicara Karoline Leavitt mengatakan bahwa jika Iran tidak menerima situasi saat ini, Presiden Donald Trump akan memastikan serangan yang lebih keras. Trump berulang kali menyebut Iran “totally defeated” dan siap bernegosiasi, serta menawarkan rencana gencatan senjata 15 poin melalui mediator seperti Pakistan. Rencana tersebut mencakup pembatasan program rudal dan nuklir Iran serta pengaturan Selat Hormuz.
Pemerintah Iran menolak proposal tersebut dan menyebutnya “satu sisi” serta tidak adil. Iran menyampaikan syarat balik, termasuk ganti rugi perang, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, penutupan pangkalan militer AS di kawasan, serta jaminan agar konflik tidak terulang. Pejabat Iran menyatakan bahwa pembicaraan negosiasi saat ini sama dengan mengakui kekalahan, dan menuduh AS sedang “bernegosiasi dengan diri sendiri”. Serangan rudal Iran ke Israel berlanjut, meski frekuensinya menurun dibandingkan minggu-minggu awal.
Protes Anti-Perang di Amerika Serikat
Di dalam negeri AS, konflik ini memicu gelombang demonstrasi besar-besaran. Pada 28 Maret 2026, aksi “No Kings” protests digelar di lebih dari 3.000 lokasi di seluruh AS, dengan estimasi jutaan peserta (beberapa sumber menyebut hingga 8-9 juta orang). Protes juga berlangsung di beberapa negara lain. Isu utama mencakup penolakan terhadap perang dengan Iran, kebijakan imigrasi, serta kenaikan biaya hidup akibat lonjakan harga minyak. Banyak spanduk dan yel-yel menyerukan penghentian perang.
Berbagai polling opini publik menunjukkan mayoritas warga AS tidak mendukung aksi militer terhadap Iran:Sekitar 53–61% menentang serangan militer AS.
59–61% tidak menyetujui penanganan Trump terhadap konflik ini.
Mayoritas (hingga 74%) menolak pengiriman pasukan darat ke Iran.
Pandangan ini sangat terbelah secara partisan: mayoritas Republikan mendukung pendekatan Trump, sementara Demokrat dan independen sebagian besar menentang. Beberapa analis mencatat bahwa tidak terjadi efek “rally around the flag” seperti pada konflik AS sebelumnya.
Situasi Terkini
AS terus mengirimkan pasukan tambahan ke kawasan, termasuk ribuan Marinir. Trump telah menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari dengan alasan pembicaraan sedang berlangsung, meski Iran membantah adanya kemajuan signifikan. Korban tewas di Iran dilaporkan mencapai lebih dari 1.900 orang, sementara kerusakan infrastruktur sipil dan militer terus bertambah di kedua pihak.
Konflik ini masih berlangsung tanpa ada pihak yang menyatakan menyerah secara resmi. Diplomasi melalui jalur tidak langsung terus berjalan, tetapi kedua belah pihak saling menyampaikan syarat yang sulit dipenuhi. Harga minyak global tetap tinggi akibat ketegangan di Selat Hormuz. (*)
*Artikel ini disusun berdasarkan laporan dari berbagai sumber termasuk ISW, Al Jazeera, CNN, Reuters, Pew Research, dan AP.







