PDAM Way Rilau Matikan Air 7 Hari, Warga Sukabumi Meradang di Tengah Kepungan Abu Vulkanik

PDAM Way Rilau Matikan Air 7 Hari, Warga Sukabumi Meradang di Tengah Kepungan Abu Vulkanik

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, BANDAR LAMPUNG

Rencana penghentian aliran air hingga tujuh hari oleh Perumda Air Minum Way Rilau menuai keluhan warga.

Kebijakan tersebut dinilai datang pada waktu yang tidak tepat, ketika masyarakat Bandar Lampung juga tengah menghadapi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Dalam pengumuman resminya, Perumda Air Minum Way Rilau menyatakan aliran air akan dimatikan sementara mulai Senin (7/9/2026) akibat pekerjaan perbaikan pipa JDU berdiameter 900 milimeter di Jalan Soekarno Hatta.

 

Estimasi perbaikan disebut mencapai tujuh hari

Sejumlah wilayah masuk daftar terdampak, yakni Sukabumi, Sukarame, Tanjung Senang, Kedamaian dan sebagian Way Halim.

Bagi warga, persoalannya bukan sekadar air keran tidak mengalir. Penghentian distribusi selama sepekan terjadi ketika kebutuhan air justru meningkat akibat abu vulkanik yang menempel di rumah, kendaraan, jalan dan lingkungan permukiman.

“Kalau hanya sehari atau dua hari mungkin masih bisa kami siasati. Ini sampai tujuh hari. Air itu kebutuhan pokok, bukan barang mewah,” keluh seorang warga Sukabumi, Senin (7/9/2026).

Warga mempertanyakan sejauh mana kesiapan PDAM menjamin kebutuhan masyarakat selama jaringan diperbaiki.

Menurutnya, imbauan pelanggan untuk menampung air tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Tidak semua rumah memiliki tempat penampungan dengan kapasitas cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tujuh hari.

“Kami disuruh menampung air, tetapi kalau persediaan habis bagaimana? Apalagi sekarang abu vulkanik. Rumah harus sering dibersihkan, kendaraan juga harus dicuci. Semua itu butuh air,” ujarnya.

Keluhan warga semakin keras karena gangguan pelayanan terjadi di tengah situasi lingkungan yang tidak normal.

“Jangan hanya bilang mohon maaf atas ketidaknyamanan. Kami butuh solusi. Kalau memang air dimatikan tujuh hari, PDAM harus siapkan air bersih pengganti,” kata warga lainnya.

Warga mendesak PDAM Way Rilau menyiapkan mobil tangki air dan titik distribusi air bersih di kawasan terdampak. Langkah tersebut dinilai lebih konkret dibanding sekadar meminta pelanggan melakukan penampungan secara mandiri.

“Kami tidak menolak perbaikan pipa. Silakan diperbaiki karena itu untuk kepentingan pelayanan juga. Tapi jangan sampai selama perbaikan masyarakat yang menanggung seluruh dampaknya,” tegasnya.

 

Jangan Bebankan Risiko kepada Warga

Perbaikan infrastruktur jaringan air memang menjadi kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan sistem distribusi. Namun, penghentian pelayanan selama tujuh hari sekaligus menuntut tanggung jawab mitigasi dari perusahaan daerah penyedia air bersih.

Terlebih, masyarakat di sejumlah wilayah Bandar Lampung sedang menghadapi persoalan abu vulkanik. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan air untuk kebersihan justru semakin tinggi.

Karena itu, publik mempertanyakan apakah rencana perbaikan tujuh hari tersebut telah dibarengi skenario pelayanan darurat yang memadai.

Warga pun meminta pemerintah daerah ikut mengawasi distribusi air selama perbaikan berlangsung.

“Jangan sampai warga sudah terkena dampak abu vulkanik, sekarang harus keluar uang lagi untuk membeli air. Pemerintah dan PDAM harus hadir,” ujar warga.(*)

Pos terkait