Pariwisata Jadi Harapan Ekonomi Nias Selatan, Tapi Bandara Silambo Masih Mangkrak

Pariwisata Jadi Harapan Ekonomi Nias Selatan, Tapi Bandara Silambo Masih Mangkrak

 

Bacaan Lainnya

Nias Selatan, Bongkarpost – Sektor pariwisata menjadi sumber daya alam utama yang dinilai paling menentukan peningkatan ekonomi masyarakat Nias Selatan. Namun potensi besar itu belum terealisasi maksimal, salah satunya karena terbengkalainya pembangunan Bandara Silambo yang menjadi kunci utama maju tidaknya daerah pariwisata.

Kabupaten Nias Selatan selama ini dikenal dunia lewat ombak Teluk Lagundri dan Sorake yang masuk jajaran spot selancar terbaik. Selain itu, budaya adat seperti Lompat Batu Fahombo dan rumah adat Omo Hada juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.

Sayangnya, akses menuju lokasi wisata masih menjadi kendala utama. Wisatawan harus menempuh perjalanan darat dan laut yang panjang dari Bandara Binaka Gunungsitoli karena Bandara Silambo belum berfungsi optimal. Kondisi ini membuat biaya perjalanan mahal dan waktu tempuh lama, sehingga Nias Selatan kalah bersaing dengan destinasi lain.

Pelaku wisata menilai, jika Bandara Silambo selesai dan aktif, arus wisatawan akan meningkat tajam. Dampaknya langsung terasa pada sektor perhotelan, homestay, kuliner, hingga ekonomi kreatif masyarakat pesisir.

“Kalau bandara ini hidup, ekonomi masyarakat pasti bergerak. Pariwisata bisa jadi penggerak utama kesejahteraan di Nias Selatan,” ujar salah satu pelaku wisata di Teluk Dalam.

Masyarakat berharap pemerintah pusat dan daerah segera menuntaskan pembangunan Bandara Silambo agar kekayaan budaya dan alam tidak hanya menjadi potensi, tapi benar-benar mendatangkan kesejahteraan.

Berdasarkan data BPS per 30 Juni 2024, Kabupaten Nias Selatan memiliki penduduk 369.370 jiwa dengan luas wilayah 2.487,99 km². Wilayah ini terbagi dalam 35 kecamatan dan 461 desa, dengan ibu kota berada di Kecamatan Teluk Dalam.(**)

Pos terkait