Foto. Irfan Nuranda Djafar bersama sang Istri di kampus MIT Massachusetts, Cambridge AS.
Bongkar Post, Bandar Lampung
Massachusetts Institute of Technology (MIT) adalah universitas riset swasta terkemuka di Cambridge, Massachusetts, AS, yang menduduki peringkat #1 di dunia versi QS World University Rankings.
Terkenal dengan inovasi di bidang sains dan teknologi, MIT menyediakan pendidikan kelas dunia di berbagai jurusan seperti teknik, komputasi, dan manajemen.
Irfan Nuranda Djafar menceritakan pengalamannya saat mendampingi sang istri tercinta Dr. Ir. Citra Persada, dosen FT Unila di kampus MIT AS.

“Dipandu ananda Fara penerima S2 LPDP Jurusan Elektro. Tadi kami serombongan diajak 2 jam lebih tour MIT seluas 160 hektar,” terang Dr. Citra.
Dia katakan jauh sekali perbedaan antara belajar di MIT dengan saat menimba ilmu S1 di ITB.
“Di sini mahasiswa sudah bicara bagaimana mengelola ekosistem luar angkasa, sementara di Indonesia masih urus sampah dan banjir di bumi. Di sini belajar sangat keras namun tidak stress karena bukan untuk nilai atau ngejar angka. Tapi kami harus paham melalui diskusi dan kegiatan di laboratorium yang produktif,” tambahnya.
Dosen pun sangat mudah ditemui dan menghargai mahasiswanya. Jika aktif di kelas dia akan kirim email untuk beri apresiasi. Bahkan dia hapal nama semua mahasiswa satu kelas yang jumlahnya ratusan orang.
“Ada hal detail yang menarik. Tadi mereka baru selesai ujian. Di depan gedung ada mobil es cream gratis untuk yang selesai ujian. Dapat hadiah kecil yang indah, sangat humanis. Di pojok lain ada yang nangis mungkin tidak puas dengan hasilnya tapi dia sambil tersenyum,” ungkap Dr. Citra Persada.
Di tengah-tengah kampus, lanjutnya, ada namanya “banana lounge” isinya pisang gratis untuk siapa saja yang lapar dan boleh ambil gratis.
Bahkan, pada periode tertentu secara regular para mahasiswa bertemu dosen BK yang akan bertanya dan diskusi kondisi psikis mereka.
“Terus ada lagi, semua kelas masih memakai papan dan kapur tulis karena bunyi ketukan kapur di papan saat dosen menerangkan akan membuat mahasiswa lebih konsentrasi. wow ternyata itu adalah hasil penelitian,” kata Dr. Citra dengan takjub.
Ironis, kita di sini mau bicara yang canggih-canggih. Sedangkan laboratorium mereka tidaklah megah, tapi alatnya lengkap dan mutakhir. Sebuah kritik konstruktif bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Ternyata, gedung mewah dan besar bukan jaminan pemahaman akan ilmu pengetahuan secara mendalam, bukan tidak boleh, tapi budaya diskusi, berpikir kritis, dan iklim pendidikan yang kondusif manusiawi adalah faktor utama penunjang kualitas mahasiswanya untuk maju. (*)







