Semoga Allah melimpahkan rahmat atas orang yang mengetahui kadar dirinya

Opini

 

Bacaan Lainnya

 

Semoga Allah melimpahkan rahmat atas orang yang mengetahui kadar dirinya

 

Oleh: Hengki (Pengusaha dan Pengamat Sosial Budaya yang tinggal di Lampung)

 

Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin sedikit ia sibuk membesarkan dirinya sendiri. Karena perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia yang paling dikagumi & menjadikan manusia lain budaknya, melainkan proses menjadi hamba yg paling tulus.

Mereka yg berjalan mencari kebenaran dapat membedakan fakta & ego atau alias suka mentang2 & sangat anti sekali kritik. Sementara mereka yg memberi makan kebencian secara sukarela mengacaukan keduanya. Sejarah adalah sain yg kompleks, bukan pengadilan dimana seseorang boleh berbuat mentang2 terhadap orang yg berbeda cara berpikirnya & berbeda pula cara sudut pandang dalam melihat sesuatu dengan dirinya.

Oleh karena itu, janganlah kamu kira bahwa pakar2 konsep, istilah2 & penghapal berbagai buku benar2 orang2 yg mengenal Allah, para malaikat, & hari kiamat! Dan kamu akan membelanya mati2an dengan egomu ketika dia dikritik orang sedikit saja. Kalaulah ilmunya merupakan tanda, mengapa ilmu itu tidak menerangi hatinya? Mengeapa ilmu justru semakin mempergelap hatinya, merusak akhlaknya & hanya ingin menjadi manusia lain budaknya? Al-Quran mulia menyebutkan kriteria untuk mengenal ulama sejati dalam ayat berikut;

Allah Swt berfirman; Sesunggunya hanya hamba2 Allah yg takut kepada Allah itulah yg berilmu.(QS. Fahtir; 28).

Takut kepada Allah merupakan sifat khas ulama ( orang berilmu), & orang yg tidak takut kepada Allah bukanlah ulama.

Manusia mungkin salah sering membayangkan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Kebanyakan manusia menganggap, semakin jauh seseorang itu melangkah,

Semakin dekat pula tujuannya, padahal mungkin bisa saja dia hanya merasa2nya. Penghalang terbesar antara seorang hamba & Tuhannya sering kali bukan dunia di luar dirinya, melainkan “aku” yg terlalu besar di dalam diri manusia.

Selama keakuan itu menguasai hati, perjalanan spiritual akan terasa berat. Karena hati dipenuhi oleh diri sendiri, bukan oleh Allah.

Semakin seseorang mengenal Allah. Semakin kecil ia memandang dirinya, bukan karena ia rendah diri. Tetapi karena ia menyadari bahwa semua kelebihan yg dimilikinya hanyalah titipan dari-Nya. Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang mukmin tetap bekerja, berkarya, memimpin, & berikhtiar, tetapi semua itu dijalani dengan hati yg rendah, niat yg ikhlas, & kesadaran bahwa keberhasilan sejati datang dari pertolongan Allah.

Perjalanan menuju Allah tidak diukur dengan jauhnya kilometer, tidak diukur dengan banyaknya negeri yg dikunjungi & tidak diukur pula jauhnya tempat dia belajar. Tidak pula dengan panjangnya usia, perjalanan itu terjadi di dalam hati, yg harus ditempuh bukanlah jarak, melainkan lapisan demi lapisan ego yg menutupi jiwa.

Aku yg ingin selalu dipuji, aku & idoalku yg tidak mau disalahkan.

Pokoknya hanya aku & hanya golonganku saja yg harus merasa lebih suci & harus paling mulia daripada manusia lainnya, jadi aku layak untuk dihormati sendiri. Dan aku juga yg harus selalu didahulukan, & aku juga ngk perlu menerima nasihat karena pengikutku & pengagumku sudah banyak. Apalagi kalau kriktik itu menyinggung tuhan2 bertulangku, akan aku bela mati2an sekalipun aku harus mematikan akalku & harus lebih mengutamankan egoku untuk membela yg sudah aku idolakan secara turun temurun, padahal Al-Quran telah memperingatkan manusia yg mentang2 seperti itu;

Firman Allah Swt ; Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yg diturunkan Allah & mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yg kami dapati bapak2 (orang tua) kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka juga itu tidak mengetahui apa2 & tidak (pula) mendapat petunjuk?.(QS.Al-Mai’Idah ; 104).

Pada akhirnya, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin sedikit ia sibuk membesarkan dirinya sendiri.

Ia lebih mudah meminta maaf, lebih mudah menerima masukan dari orang lain, meskipun datang dari orang2 yg tidak mempunyai gelar2 atau simbol2 apa pun juga. Karena perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia yg paling dikagumi. Melainkan proses menjadi hamba yg paling tulus. Sebab, ketika keakuan perlahan memudar, hati menjadi lebih lapang untuk menerima cahaya, lebih peka terhadap bisikan kebaikan, lebih mudah merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Semakin jauh ego melangkah keluar dari hati, semakin dekat seorang hamba melangkah menuju cahaya Tuhannya.

Salam sehat, salam waras & salam bahagia selalu untuk semuanya dimanapun berada.

Pos terkait