LDC Timbulkan Polusi, Warga Way Lunik Protes

Bandar Lampung, BP

PT LDC (Louis Dreyfus Company) Indonesia Lampung diprotes Warga Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Pasalnya, perusahaan yang memproduksi Bio Diesel dengan bahan bakar batubara ini menimbulkan polusi yang berasal dari debu batubara.
Dampaknya, sejumlah warga lansia yang tinggal di sekitar LDC mengalami sesak nafas. Sementara, debu batubara mengotori dinding rumah mereka.
Agus Safrudin, warga Kampung Umbul Jambu, RT 022, Kelurahan Way Lunik, mengeluhkan suara bising mesin produksi dan debu batubara hasil dari pembakaran batubara.

Bacaan Lainnya

Dikatakan Agus, sejak LDC berdiri di tahun 2016 hingga saat ini, tidak pernah ada kompensasi dengan masyarakat sekitar, khususnya RT 021, RT 022, dan RT 023.

Andi Irawan, warga sekitar LDC menceritakan, awal berdiri perusahaan berjanji akan memberikan pekerjaan kepada warga yang tinggal di sekitar pabrik, “Tapi sampai sekarang tidak ada satupun warga kampung sini yang bekerja disana,” ujar Andi.

Sekitar 77 kepala keluarga (KK) yang tinggal di Kampung Jambu tidak merasakan kompensasi selama berdirinya perusahaan.
“Perusahaan baru memberi kompensasi kepada warga ketika ada berita muncul di media, adanya pengaduan warga ke Dinas Lingkungan Hidup, dan itu hanya beras 5kg saja dari perusahaan,” ungkapnya.

Mirisnya, Entin, lansia berusia 68 tahun ini harus mengalami sesak nafas lantaran debu batubara yang beterbangan ke rumahnya. Entin harus menggunakan alat bantuan pernafasan lantaran paru-parunya terganggu.

Dampak lainnya, air yang biasa digunakan warga jadi berwarna hitam, dan kulit juga gatal – gatal.
“Debu batubara sampai masuk ke rumah, nempel di tempat tidur, tempat tidur kami jadi banyak abiu hitam,” ungkap warga lain.
Sementara, Agus Bagyo yang menjabat RT di kampung tersebut, dinilai warga tidak peduli atas apa yang menimpa warganya. “RT selalu menghindari awak media dan keluhan warga tidak pernah ada tanggapan,” ujarnya.

Setiap malam, lanjutnya, warga pun tidak bisa tidur karena bau limbah dari pabrik. “Baunya begitu menyengat, kasur dan baju warga juga jadi hitam karena tebalnya debu,” bebernya.

Sementara, Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung yang pada Selasa (7/2/2023) yang mendatangi LDC, terkesan tertutup.
Sejumlah wartawan mengaku kecolongan. Mereka yang sudah stand by di depan LDC, tak tahu kapan para Anggota Dewan tersebut datang dan masuk ke LDC. Wartawan juga dilarang masuk untuk meliput oleh pihak perusahaan. (diki)

Pos terkait