Artikel
Lailatul Qadr: Malam Kemuliaan Lebih Baik dari 83 Tahun
Oleh: Arsiya Heni Puspita
(Jurnalis dan Penulis)
Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan yaitu Lailatul Qodar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan (setara dengan 83 tahun lebih) karena turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Allah swt untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Hal ini berdasarkan surah al-Qadr (Kemulian) 97: 1 – 5.
Adapun dalil-dalil al-Qur’an dan al-Hadits tentang Lailatul Qadr diantaranya surah al-Qadr ayat 1 – 5 dan Surah ad-Dukhan ayat 3 – 4. Sedangkan al-Hadits dari Abu Hurairah ra dan Aisyah ra.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-Qadr (1). Dan apakah yang menjadikan engkau tahu Lailat al-Qadr itu? (2) Lailat al-Qadr lebih baik dari seribu bulan (3). Turun malaikat-malaikat dan Rūḥ padanya dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur semua urusan (4). Salam ia sampai terbinyat fajar (5). QS. al-Qadr (Kemulian) 97: 1 – 5.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan (3). Di dalamnya dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (4)”. QS.ad-Dukhan (Kabut) 44: 3 – 4.
Berdasarkan Tafsir al-Misbah “Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an” karya M. Quraish Shihab yang diterbitkan oleh Lentera Hati.
Surah al-Qadr ayat 1, sesungguhnya Kami Allah melalui malaikat Jibril telah menurunkan Al-Qur’an atau keliama ayat surah al-Alaq sebagai wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw pada malam al-Qadr.
Lalu, ayat 2 – 3, apakah yang menjadikan engkau siapapun termasuk Nabi Muhammad saw tahu Lailat al-Qadar itu? Kata-kata yang digunakan manusia tidak dapat melukiskannya dan nalar sukar menjangkaunya, sekedar gambaran Lailat al-qadar lebih baik dari seribu bulan.
Setidaknya ada empat pendapat ulama terkait Lailatul Qadr pertama, penetapan Allah swt atas perjalanan hidup selama setahun. Kedua, pengaturan, pada malam ini Allah swt mengatur strategi untuk Nabi Muhammad saw guna mengajak manusia kepada kebajikan.
Pendapat ketiga, kemuliaan, Allah swt telah menurunkan al-Qur’an pada malam yang mulia. Malam itu jadi mulia karena kemuliaan al-Qur’an serta kemuliaan Nabi Muhammad saw. Lalu, pada malam ini ibadah mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran berbeda dengan malam-malam lain.
Lainnya, orang-orang yang tadinya tidak mempunyai kedudukan yang tinggi akan mendapatkan kemuliaan jika pada malam itu mereka khusyu’ tunduk pada Allah swt dan bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya.
Terakhir, pendapat keempat, sempit karena begitu banyak malaikat yang turun berdesak-desakan. Malam ini merupakan malam yang mulia dan hebat serta hakikatnya yang tidak mudah untuk diungkap kecuali dengan bantuan llahi.
Ayat 4 – 5, turun silih berganti dengan mudah dan cepat malaikat-malaikat dan Rūḥ yaitu malaikat Jibril pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur semua urusan. Salam kedamaian yang agung dan besar ia sampai terbitnya fajar.
Kemudian surah ad-Dukhan ayat 3, sesungguhnya Kami menurunkannya sekaligus atau salah satu bagiannya pada malam yang diberkahi yaitu Lailatul Qadr dan sesungguhnya Kami melalui para rasul adalah pemberi peringatan antara lain para rasul dibekali dengan kitab suci.
ad-Dukhan ayat 4, di dalamnya yakni pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu pesan-pesan Allah atau al-Qur’an merupakan puncak hikmah.
Adapun dalil lainnya, terjemahan al-Hadits berdasarkan Syarah Riyadhush Shalihin kaya Imam an-Nawawi dengan pensyarah Dr. Musthafa Dib al-Bugha, dkk yang diterbitkan oleh Gema Insani (GP).
Hadits dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw berkata: “Barangsiapa beribadah pada malam Qadr penuh dengan keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah, maka diampunilah dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq ‘alaih).
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Salat Tarawih, Iman, dan Puasa (4/221) bab “Barangsiapa Berpuasa Ramadanda karena Iman dan Pahala” dan Imam Muslim dalam kitab Salatnya Para Musafir bab “Anjuran Qiyamul lail atau Tarawih” (760).
Keutamaan Lailatul Qadr dan anjuran untuk menghidupkannya dengan ibadah hal ini dapat menghapuskan dosa-dosa kecil dengan cara salat isya’ dan subuh berjamaah.
Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah saw selalu i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan, dan eliau bersabda, Bersunguh-sungguhlah kalian dalam mencari Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir Ramadan”. (Muttafaq ‘alaih).
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Mencari Lailatul Qadr pada Malam Ganjil dari Sepuluh Malam Terakhir (5/225, 226) dan Imam Muslim dalam kitab Keutamaan Lailatul Qadr (1169).
Dari Aisyah ra, ia berkata: “Ya, Rasulullah, beri tahu aku seandainya aku mengetahui suatu malam sebagai Lailatul Qadr apakah yang harus aku baca pada malam itu? Beliau bersabda: ‘Bacalah, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi mencintai ampunan, maka ampunilah aku”. (HR. at-Tirmidzi).
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab Zikir dan Do’a bab “Doa Apa yang Paling Utama” (3508).
Pencarian terpentin bagi muslim adalah bersih dari dosa-dosa dan terlepas dari beban maksiat. Berdoa pada Allah swt pada waktu mustajab dan yang paling utama pada malam Qadr. Beberapa tanda Lailatul Qadr adalah hati lapang dan tentram bersama Allah swt serta keheningan malam dan tidak ada hal yang mengagetkan.
Hikmah Lailatul Qadr tidak diketahui agar kita i’tikaf dan menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan harapan dapat menemukan Lailatul Qadr. Ibadah pada malam Lailatul Qadr berlanjut pada malam-malam lainnya sepanjang hidup kita.
Ya Robbana, jadikanlah kami hamba-Mu yang menghidupkan malam Qadr dengan i’tikaf dan ibadah lainnya pada sepuluh malam terakhir. Kabulkanlah permohonan kami. Maha benar Allah dalam segala Firman-Nya dan Maha Benar Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam bishowab.







