Kematian Gajah Indra Disorot, Tokoh Masyarakat Minta Evaluasi Total Pengelolaan Way Kambas

Kematian Gajah Indra Disorot, Tokoh Masyarakat Minta Evaluasi Total Pengelolaan Way Kambas

 

Bacaan Lainnya

Bongkar Post, Lampung Timur—Kemarahan publik memuncak. Tokoh masyarakat Lampung, M. Alzier Dianis Thabranie, melontarkan kecaman keras terhadap aparat konservasi di Taman Nasional Way Kambas.

Ia menuding adanya kelalaian serius yang diduga menjadi penyebab kematian Gajah Sumatera bernama Indra satwa konservasi yang telah mengabdi selama lebih dari tiga dekade.

“Ini bukan kematian biasa. Ini akibat kelalaian sistemik para petugas! Untuk apa negara menempatkan petugas jika pada akhirnya membiarkan satwa tua yang telah berjasa besar mati tanpa penanganan maksimal?” tegas Alzier, Sabtu (11/7/2026).

Indra, gajah jantan berusia 42 tahun asal Desa Karang Sari, mengembuskan napas terakhir pada 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.

Namun, menurut Alzier, kematian tersebut tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan faktor usia.

Ia menilai terdapat rangkaian persoalan dalam proses perawatan yang patut dievaluasi secara menyeluruh.

Kronologi yang Disorot: Ambruk di Rawa, 20 Jam Upaya Penyelamatan Tak Mampu Menyelamatkan Nyawa

Alzier mengungkapkan, persoalan kesehatan Indra diduga bermula pada akhir 2017 ketika kendaraan pengangkut yang membawanya mengalami kecelakaan usai membantu penanganan konflik satwa di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Akibat Insiden itu, menyebabkan cedera pada tulang belakang Indra.

“Seharusnya sejak 2017 petugas memberikan penanganan maksimal. Yang terjadi justru Indra dipensiunkan, sementara kondisi kesehatannya terus menurun tanpa penanganan yang benar-benar optimal,” ujar Alzier.

Menurutnya, puncak dugaan kelalaian terjadi pada 21 Juni 2026. Saat sedang mandi di area rawa, Indra tiba-tiba ambruk ketika hendak kembali.

“Ini yang menjadi pertanyaan besar. Gajah yang puluhan tahun beraktivitas di hutan mendadak ambruk. Artinya, ada yang tidak beres dalam pengawasan kondisi kesehatannya selama ini,” kecamnya.

Tim penyelamat kemudian berupaya memberikan pertolongan selama lebih dari 20 jam. Namun, seluruh upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa Indra.

“Dua puluh jam upaya penyelamatan itu hanyalah tindakan darurat di akhir. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana pengawasan dan perawatan dilakukan selama bertahun-tahun sebelumnya,” sindir Alzier.

 

Tiga Dekade Mengabdi, Berakhir dengan Dugaan Kelalaian

Alzier mengingatkan bahwa Indra bukan sekadar gajah jinak biasa. Sejak 1995, satwa tersebut menjadi bagian penting dalam berbagai operasi konservasi, mulai dari penanganan konflik manusia dan satwa liar, penggiringan gajah liar, hingga membantu menjaga kawasan hutan di berbagai wilayah Lampung.

“Indra telah menjadi pelindung hutan dan membantu manusia selama puluhan tahun. Namun ketika usianya menua dan kesehatannya menurun, apakah negara telah benar-benar membalas pengabdiannya dengan perawatan yang layak? Itu yang patut dipertanyakan,” katanya.

Menurut Alzier, kepergian Indra menjadi catatan serius bagi dunia konservasi.

“Pejuang seperti Indra bahkan tidak sempat memperoleh penghormatan yang layak. Jika benar ada kelalaian dalam perawatannya, maka ini menjadi aib yang harus dievaluasi secara terbuka,” tegasnya.

 

Tuntutan Tegas: Evaluasi Total atau Bubarkan!

Di akhir pernyataannya, Alzier mendesak pemerintah dan pengelola Taman Nasional Way Kambas melakukan evaluasi total terhadap sistem perawatan satwa konservasi, termasuk meminta pertanggungjawaban pihak yang dinilai lalai.

“Untuk apa negara menganggarkan biaya besar jika pengawasan dan kepedulian terhadap satwa konservasi tidak berjalan maksimal? Kami meminta evaluasi menyeluruh serta sanksi tegas apabila ditemukan adanya kelalaian dalam perawatan Indra. Jangan sampai peristiwa seperti ini kembali terulang,” pungkas Alzier.

Meski jasad Indra telah dimakamkan di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Alzier menegaskan bahwa pengabdian gajah tersebut tidak boleh dilupakan. Ia berharap kematian Indra menjadi momentum pembenahan serius dalam pengelolaan satwa konservasi di Indonesia.

“Hutan yang selama ini ia jaga akan kehilangan salah satu penjaganya. Kini giliran kita sebagai manusia memastikan tidak ada lagi satwa berjasa yang bernasib sama akibat kelalaian yang seharusnya bisa dicegah,” tutup Alzier. (*)

Pos terkait