Jurnalis dan Pejabat Pemprov Lampung “Turun Lapangan”, Laga Minisoccer Daster Warnai Semangat Kartini
Bongkar Post, Bandar Lampung
Peringatan Hari Kartini di Lampung tahun ini berlangsung tak biasa. Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung memilih cara nyentrik: menggelar laga minisoccer dengan kostum daster. Suasana pun pecah oleh tawa dan sorak saat para jurnalis hingga pejabat pemerintah daerah berbaur di lapangan.
Bertempat di Lapangan Migo, Selasa (21/4/2026) malam, pertandingan yang digelar pukul 19.00 hingga 21.00 WIB itu menjadi magnet perhatian. Bukan sekadar olahraga, kegiatan ini menjelma menjadi ruang keakraban lintas profesi jurnalis dan birokrat melebur tanpa sekat.
Sejumlah pejabat Pemprov Lampung turut hadir bahkan ikut merumput, di antaranya Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Ganjar Jationo serta Kepala Biro Hukum Yudhi Al Fadri.
Kehadiran mereka menambah semarak sekaligus mempertegas nuansa kebersamaan dalam momentum peringatan emansipasi perempuan.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menilai konsep unik ini sengaja dihadirkan sebagai bentuk penghormatan yang berbeda terhadap sosok Kartini.
“Main bola pakai daster ini unik dan menarik. Saya lihat suasananya sangat seru,” ujar Abung di sela kegiatan.
Menurutnya, semangat Kartini tak selalu harus diperingati secara formal. Kreativitas, kata dia, justru menjadi cara efektif untuk menghadirkan makna perjuangan ke ruang publik yang lebih luas.
Hal senada disampaikan Kadis Kominfotik Ganjar Jationo. Ia menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan simbol penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan perempuan.
“Apa yang dilakukan teman-teman IJP luar biasa. Main bola pakai daster dalam rangka memperingati Hari Kartini adalah simbol kepedulian terhadap jasa-jasa ibu Kartini,” kata Ganjar.
Ganjar bahkan mengaku ikut merasakan atmosfer pertandingan meski hanya beberapa menit berada di lapangan.
“Meski sebentar, tapi asik dan seru,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum Setprov Lampung, Yudhi Al Fadri, tampil tak kalah antusias. Ia datang dengan membawa daster sendiri sebagai bentuk partisipasi total dalam kegiatan tersebut.
“Kehadiran saya untuk menyemarakkan permainan bola dengan daster. Saya bawa daster sendiri,” ucapnya sambil tertawa.
Sepanjang pertandingan, gelak tawa nyaris tak berhenti. Kostum daster yang dikenakan para pemain justru menjadi pemecah suasana kaku, menciptakan atmosfer santai namun penuh makna.
Di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyiratkan pesan kuat: semangat Kartini bisa dirayakan dengan cara yang kreatif, inklusif, dan membumi tanpa kehilangan esensi perjuangannya.(*)







