Ijtima Ulama Dunia 2025: Lebih dari Setengah Juta Jamaah Berkumpul di Masjid Al‑Hijrah, Lampung Selatan
Bongkar Post, Lampung Selatan
Lampu Masjid Al‑Hijrah menyorot lebih dari setengah juta hati yang bersatu; Lampung Selatan menjadi panggung kebangkitan spiritual terbesar tahun ini.
Acara Ijtima Ulama Dunia 2025 atau Tabligh Akbar Indonesia Berdoa, yang berlangsung 28‑30 November 2025 di Masjid Al‑Hijrah, Kota Baru, Lampung Selatan, mencatat kehadiran resmi sekitar 570 ribu jamaah, termasuk 8.500‑41 ribu peserta dari puluhan negara. Selain memperkuat dakwah dan doa bersama, event ini juga memberi dorongan signifikan bagi ekonomi lokal melalui peningkatan UMKM, serta melahirkan ribuan rombongan dakwah yang akan melanjutkan khuruj fi sabilillah selama 40 hari hingga 4 bulan.
Acara Ijtima Ulama Dunia 2025 atau Tabligh Akbar Indonesia Berdoa yang berlangsung di Masjid Al-Hijrah, Kota Baru, Lampung Selatan, dari 28 hingga 30 November 2025, mencatatkan kehadiran massif dengan lebih dari setengah juta jamaah dari dalam negeri dan mancanegara.
Panitia melaporkan total peserta resmi mencapai sekitar 570 ribu orang, termasuk sekitar 8.500 hingga 41 ribu dari puluhan negara seperti Amerika, Eropa, dan berbagai benua lainnya, melebihi ekspektasi awal.
Humas Ijtima Ulama Indonesia Berdoa 2025, Firmansyah, mengatakan bahwa jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tahun ini melampaui ekspektasi panitia. Ia menegaskan bahwa total jamaah yang tercatat dalam daftar resmi mencapai lebih dari 570 ribu orang. “Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan ini melebihi 570 ribu orang berdasarkan daftar kehadiran yang masuk kepada panitia,” ujar Firmansyah.
Acara ini tidak hanya fokus pada dakwah dan doa bersama untuk tegaknya kalimat tauhid, tapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui lonjakan UMKM di sekitar lokasi, dengan ribuan jamaah yang memanfaatkan layanan makanan, transportasi, dan akomodasi.
Usai penutupan pada hari Minggu, banyak jamaah melanjutkan misi dakwah melalui khuruj fi sabilillah, membentuk rombongan kecil beranggotakan 10-15 orang di bawah pimpinan amir, untuk safar ke berbagai penjuru dunia selama 40 hari hingga 4 bulan.
Revival iman — Update Iman —
—semangat kebangkitan spiritual—bisa terasa kuat di acara seperti Ijtima Ulama Dunia. Di sana, ratusan ribuan hati berkumpul menjadi satu fikir satu risau—kondisi umat—yang jauh dari tuntunan sunnah. Mendengarkan bayan tausiyah, berdoa bersama, dan merasakan kebersamaan yang meneguhkan keyakinan.
Itu contoh konkret bagaimana lingkungan, suara, dan kebersamaan dapat —memicu “kebangkitan” dalam diri masing‑masing.
Gerakan Jamaah Tabligh menekankan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan, melainkan praktiksehari‑hari yang menjiwai setiap langkah hidup.
Berikut 6 (enam) sifat yang menjadi fondasi spiritual jamaah Tabligh: Merujuk Sifat Para Sahabat R.A
1. Yakin pada Kalimat Thayyibah: “La ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah” menjadi titik tolak tauhid.Mengiklasinya dengan keyakinan penuh meneguhkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan Nabi Muhammad adalah utusan‑Nya. Tanpa keyakinan ini, amal‑amal lain kehilangan arah.
2. Shalat Khusyu’ dan Khudhu’:
Shalat bukan rutinitas semata, melainkan pertemuan pribadi dengn Sang Pencipta. Menjalankannya dengan khusyu’—konsentrasi penuh—dan khudhu’—kerendahan hati—menjadikan ibadah sumber ketenangan dan penguat mental.
3. Ilmu Ma’adz Dzikir:
Dzikir yang benar lahir dari ilmu. Jamaah Tabligh menekankan belajar, mengamalkan, dan menyebarkan dzikir yang bersumber dari Al‑Qur’an dan Sunnah, sehingga hati senantiasa terhubung dengan Allah.
4. Ikramul Muslimin:
Memuliakan sesama Muslim adalah wujud nyata persaudaraan.
Sikap hormat, tolong‑menolong, dan menjaga kehormatan satu sama lain memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
5. Tash‑hihun Niyah:
Niat yang bersih mengarahkan setiap amal kepada Allah semata.
Dengan terus‑menerus memeriksa niat, seorang muslim menghindari riya’ dan kepentingan pribadi, menjadikan setiap tindakan bernilai ibadah.
6. Da’wah wa Tabligh:
Mengajak orang lain kepada kebaikan dengan lembut dan contoh nyata adalah inti misi. Dakwah bukan sekadar menyampaikan, melainkan hidupkan nilai‑nilai Islam dalam interaksi sehari‑hari.
Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur
Keenam pilar tersebut —sifat— saling melengkapi, membentuk kerangka spiritual yang kokoh.
Keimanan tidak hanya terucap, tetapi terasa dalam setiap detak jantung dan langkah kaki. Bila hal ini mampu diamalkan, maka dengan demikian Negara dan masyarakat Madani “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur” akan mampu mendorong terwujudnya visi—Indonesia Emas— .
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk menghidupkan nilai‑nilai ini dalam kehidupan berbangsa dan beragama, Aamiin. (*)







