Guna Ciptakan Lingkungan Asri dan Sehat, Pemprov Lampung Rembuk Program H2M di Rejomulyo Metro
Bongkar Post, Metro –– Guna menciptakan Lingkungan Lebih Asri dan Sehat Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (PKP CK)Propinsi Lampung menggelar kegiatan rembuk tingkat masyarakat dalam program Hunian Hijau Masyarakat (H2M)di kelurahan Rejomulyo Kota Metro.

Kegiatan yang berlangsung di aula Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Metro Selatan, Senin (25/5/2026) tersebut adalah salah satu langkah cepat Pemerintah Provinsi Lampung dalam mengentaskan kawasan kumuh di Kota Metro
Langkah ini diawali dengan menggelar Rembuk Tingkat Masyarakat di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Metro Selatan, Senin (25/5/2026).
Tim Pendukung Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (PKP CK) Provinsi Lampung, Rachmanto, menjelaskan bahwa Kelurahan Rejomulyo merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam Surat Keputusan (SK) kawasan kumuh kewenangan provinsi. Melalui program H2M ini, wajah kelurahan tersebut akan diubah menjadi lebih asri dan sehat.
“Di Rejomulyo ini kita akan fokus pada program rumah tumbuh hijau, taman bermain, hingga ruang terbuka hijau (RTH) untuk masyarakat,” ujar Rachmanto.
Dia menambahkan, penanganan kawasan kumuh tidak hanya soal estetika lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada pembenahan masalah banjir hingga penanganan stunting.
“Infrastruktur dasar ini yang bakal kita benahi secara bertahap untuk mengurangi luas kawasan kumuh di Lampung,” paparnya.
Menariknya, program ini berbasis gotong royong. Ketersediaan lahan untuk fasilitas H2M murni berasal dari komitmen warga yang bersedia meminjamkan tanah mereka selama minimal lima tahun, diperkuat dengan surat keterangan resmi.
Pada rembuk kali ini, tim dari provinsi fokus menggali potensi lokal, salah satunya menggaet Kelompok Wanita Tani (KWT). Jika KWT setempat produktif, pemerintah siap memfasilitasi pembangunan rumah bibit.
Terkait anggaran, Rachmanto membeberkan bahwa program ini didanai oleh APBD Provinsi Lampung melalui skema hibah dengan nominal di bawah Rp200 juta. Anggaran tersebut akan disesuaikan dengan hasil pemetaan kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
“Harapan kami, program dan infrastrukturnya berjalan lancar, capacity building-nya efektif, dan yang tak kalah penting bisa mendongkrak ekonomi warga melalui hasil penjualan KWT. Target utamanya jelas, menghapus zona kumuh di wilayah ini,” pungkasnya. (**)







